Simak Penjelasan tentang Sinonim Serta Faktor Apa Saja yang Memengaruhi Maknanya, Cek Juga Contohnya Disini
Ibnu Baihaqi• Rabu, 30 Oktober 2024 | 15:00 WIB
Ilustrasi belajar. (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Kita sering mendengar istilah sinonim dalam dunia akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Berikut penjelasan tentang sinonim dan faktor-faktornya yang berhasil JawaPos.com rangkum.
Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sinonim berarti bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk bahasa lain. Secara umum, sinonim terbagi menjadi dua, yaitu sinonim persis dan sinonim mirip.
Sinonim Persis
Seperti namanya, sinonim persis memiliki arti yang sama persis dan dapat digunakan dalam konteks apapun. Contohnya adalah kata ahli dan pakar, yang mana memiliki arti yang sama.
Sinonim Mirip
Sedangkan sinonim mirip memiliki arti yang hampir sama, namun tidak bisa digunakan untuk semua konteks. Misalnya kata bagus dan baik, bisa digunakan dalam kalimat:
- Memakan sayur-sayuran bagus untuk pencernaan
- Memakan sayur-sayuran baik untuk pencernaan
Namun kedua kata ini tidak bisa digunakan untuk beberapa konteks, karena akan mengubah makna atau bahkan menjadi kalimat yang tidak tepat.
Contoh:
- Bajumu bagus
- Bajumu baik
Kata bagus cocok untuk mendeskripsikan subjek baju, namun kata baik tidak cocok untuk mendeskripsikannya.
Sinonim juga dipengaruhi oleh faktor-faktor nonverbal. Hal tersebut bisa memengaruhi makna tersirat, atau konteks yang sedang dibicarakan, berikut faktor-faktornya.
1. Faktor Waktu
Penggunaan beberapa kata dengan makna yang sama, namun dikhususkan untuk waktu tertentu. Misalnya kata penyair dan pujangga, keduanya memiliki arti yang sama. Namun penggunaan kata pujangga lebih sering digunakan pada konteks masa lalu, atau tokoh masa lalu.
2. Faktor Tempat
Tempat yang berbeda akan menggunakan kata yang berbeda. Contoh mudahnya adalah penggunaan kata saya dan beta. Kata beta lebih umum digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Indonesia bagian timur.
3. Faktor Sosial
Penggunaan kata tertentu dipengaruhi oleh hubungan maupun kondisi sosial. Misalnya kata saya dan aku, kata saya bisa digunakan kepada siapa saja. Namun kata aku hanya cocok digunakan kepada orang-orang terdekat dan sebaya.
4. Faktor Formalitas
Beberapa kata tidak cocok digunakan dalam situasi resmi atau formal. Misalnya kata duit, yang memiliki makna sama persis dengan kata uang. Dalam situasi formal, penggunaan kata duit dirasa kurang tepat.
5. Faktor Nuansa Makna
Selanjutnya adalah nuansa makna, dimana kata-kata yang bermakna mirip, namun memiliki konteks yang berbeda. Contohnya kata mengintip dan menonton, keduanya merupakan suatu aktivitas mengamati dengan indra penglihatan atau mata. Namun konteks mengintip bermakna secara sembunyi-sembunyi, sedangkan menonton mengacu kepada mengamati suatu pertunjukkan.
6. Faktor Bidang Kegiatan
Terakhir ada faktor bidang kegiatan, dimana penggunaan kata bergantung pada sektor atau bidang yang digunakan. Misalkan kata surya dan matahari, keduanya memiliki arti yang sama. Tapi kata surya lebih umum digunakan dalam sektor sastra, dan hampir tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Caption: Ilustrasi belajar di kelas (Frizal/Jawa Pos)