JawaPos.com - Bullying atau perundungan tidak hanya terjadi kepada anak-anak. Orang dewasa juga dapat menjadi korban dari perilaku bejat ini, seperti mendapat perlakuan jahat dari rekan kerja, atasan, bahkan dari orang terkasih.
Bullying merupakan masalah yang serius karena mempengaruhi kesehatan mental dan emosional seseorang. Masalah tersebut tidak memandang latar belakang, pendidikan, jenis kelamin. Tindakan ini dapat terjadi dalam berbagai lingkungan, seperti, kampus, kantor, atau lingkup pertemanan. Masalah bullying bukan hal yang bisa disepelekan.
Penting sekali untuk mengetahui berbagai jenis pembulian yang ada sehingga dapat mengidentifikasi terjadinya bully dan mengambil tindakan yang tepat. Dilansir dari Alodokter, berikut ini adalah jenis-jenis bullying dan cara menghadapinya.
1. Bullying Fisik
Perundungan atau bullying jenis fisik ditandai dengan adanya serangan fisik terhadap korban. Pelaku akan menyerang seseorang yang dianggapnya lebih lemah dengan menjadikan fisik sasarannya. Perundungan satu ini meliputi pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, serangan simulasi, pemerasan, hingga pemerkosaan.
Pelaku bullying jenis ini bisa saja orang yang sangat anda hormati, seperti atasan di tempat kerja, suami, pelatih, atau dosen.
2. Bullying Verbal
Senjata utama dalam perundungan verbal merupakan perkataan. Pelaku akan menyerang korban dengan berbagai cara yang menurutnya menyenangkan, seperti menghina, menggoda, mempermalukan, dan merendahkan. Biasanya dilakukan dengan bahasa yang kurang pantas dan bersifat rasis, homofobia, seksis, bahkan ancaman.
3. Bullying Materi
Perundungan yang dilakukan oleh pelaku yang memiliki kekuasaan atau pengaruh yang lebih besar, seperti jabatan, kekayaan, atau informasi. Dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki, pelaku mampu mengendalikan korban dengan ancaman atau pelecehan.
Perundungan materi juga bisa dilakukan dengan pengiriman pesan atau barang yang berisi suatu ancaman untuk menyudutkan korban.
4. Bullying Terselubung
Kasus perundungan ini seringkali terjadi kepada orang dewasa, bahkan tanpa disadari. Biasa dilakukan dengan melontarkan lelucon negatif kepada korban, seperti mengganggu korban agar tidak merasa nyaman, merendahkan, meniru dengan maksud mengejek, sarkasme, dan mengucilkan korban dari ruang lingkup profesional.
5. Cyber Bullying
Dalam kasus ini, pelaku melakukan penyerangan terhadap korban melalui internet. Seringkali korban tidak mengenal sama sekali dengan pelaku karena bersembunyi di balik akun palsu atau anonim. Biasanya dilakukan dengan melontarkan perkataan yang menghina atau merendahkan korban melalui teks pesan.
Cara Mengatasi Bullying
1. Tidak Takut Membela diri
Anda harus siap membela diri menghadapi pelaku dengan kepala dingin. Katakanlah bahwa anda tidak suka dengan perlakuannya kepada diri anda dengan penjelasannya. Jangan sampai terbawa emosi dan terpengaruh terhadap pelaku yang menuduh anda terlalu bawa perasaan atau sensitif. Namun, anda harus bersiap jika yang didiskusikan tidak berjalan sesuai dengan harapan karena tidak semua hal bisa dikendalikan.
2. Membuat Batasan dengan Pelaku
Berusaha menghindari interaksi dengan pelaku agar mengurangi beban emosional yang dihadapi. Jauhi pelaku dan jangan ciptakan kesempatan untuk bertemu kembali. Hapus atau blokir kontak pelaku agar tidak bisa kembali menghubungi anda.
3. Dokumentasi Semua Bukti
Jangan lupa untuk selalu mendokumentasikan bukti bullying yang dihadapi dengan menyimpan tangkapan gambar berupa pesan atau teks sehingga dapat membantu untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum.
Jangan segan untuk meminta dukungan dari teman atau keluarga yang dipercaya. Ceritakan tentang kejadian bullying yang dialami. Tidak hanya memberikan dukungan emosi, tetapi orang terdekat dapat membantu untuk memberikan masukan atau saran agar menjadi jauh lebih tenang.
Perlu diingat bullying bukan karena kesalahan atau kekurangan yang anda miliki. Jangan pernah menyalahkan diri anda dan berhenti untuk mempertanyakan diri sendiri.
Apabila anda atau orang terdekat mengalami bullying, mungkin saja beberapa cara mengatasi di atas tidak mampu menyelesaikannya, segara berkonsultasi kepada psikiater atau psikolog untuk mendapatkan pendampingan, terutama jika sampai terjadi cedera tubuh, stres, anxiety, dan depresi.
Editor : Hendra