Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Ahli Hukum Duga Petahana Lakukan Pelanggaran dalam Pilkada Banggai, Abdul Chair Ramadhan: Masuk Kategori TSM

Antara • Selasa, 22 April 2025 | 20:26 WIB

Komite Independen Mahasiswa Indonesia (KIM-Indonesia) menggelar aksi unjuk rasa di KPK. (Dok. Jawa Pos)
Komite Independen Mahasiswa Indonesia (KIM-Indonesia) menggelar aksi unjuk rasa di KPK. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com - Dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 01,  Amiruddin, dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Banggai dinilai sudah masuk kategori terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). 

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Persatuan Doktor Pascasarjana Hukum Indonesia, Abdul Chair Ramadhan, dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (22/4).

Menurutnya, rangkaian dugaan pelanggaran tersebut meliputi penyalahgunaan program dan kegiatan Pemda untuk pemenangan Paslon 01, pelibatan Aparatur Sipil Negara, praktik politik uang, kampanye terselubung, serta intimidasi, dan persekusi.

“Bahwa, terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh Petahana oleh sebab posisi dominan yang ada padanya dan digunakan secara terstruktur, sistematis dan masif dan dengan itu memenangkan dirinya secara tidak sah dan melawan hukum. Tindakan demikian adalah jelas bertentangan dengan kewajibannya, bertentangan dengan hak orang lain dan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” beber Abdul Chair dalam pernyataan dalam bentuk pandangan hukum (legal opinion) ini. 

Dirinya menambahkan, praktik politik uang yang diduga dilakukan oleh petahana erat kaitannya dengan pelibatan ASN dan pemanfaatan fasilitas pemerintah.

“Bahwa, terjadinya praktik politik uang lazimnya selalu berhubungan pemanfaatan program dan kegiatan Pemda dan dengan melibatkan Aparatur Sipil Negara. Ditinjau dari aspek hukum pidana, perbuatan yang dilakukan tersebut terkualifisir sebagai bentuk kesengajaan dengan maksud. Baik perbuatan maupun akibatnya diketahui dan dikehendaki. Didalamnya terkandung itikad tidak baik dan bersifat melawan hukum,” sambunya Abul.

Atas dasar pelanggaran yang berulang tersebut, Abdul Chair menilai Pemungutan Suara Ulang (PSU) tidak lagi relevan dan justru mencederai asas keadilan serta kepastian hukum.

“Bahwa, terhadap perbuatan pelanggaran secara berulangkali yang dilakukan oleh Petahana, maka tidak diperlukan lagi adanya proses Pemungutan Suara Ulang. Pemungutan Suara Ulang yang dilakukan secara berulang tentu akan menimbulkan ketidakpastian hukum. Demikian itu juga mencederai rasa keadilan. Kondisi demikian bertentangan dengan aksiologi “kepastian hukum yang adil” sebagaimana dianut oleh UUD 1945,” jelasnya.

Pihaknya mendorong Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menetapkan peraih suara terbanyak kedua sebagai pemenang dalam Pilkada Banggai tanpa perlu melalui PSU.

“Bahwa, Mahkamah Konstitusi sepatutnya langsung memutuskan pihak yang memperoleh suara terbanyak kedua sebagai pemenang pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Banggai. Demikian pula pada perkara serupa. Demikian, pendapat hukum ini disampaikan untuk dapat dipergunakan sesuai dengan maksud dan tujuannya,” pungkasnya.

 

 

Editor : Hendra
#abdul chair ramadhan #Sistematis #Masif #terstruktur #TSM