JawaPos.com – Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) sedang melakukan kajian tata kelola hilirisasi pertambangan. Hal itu melihat banyak produsen emas lebih banyak memperoleh bahan baku melalui impor.
”Ini apa yang menyebabkan sedang kami kaji,” kata Wakil Gubernur Lemhannas Letjen TNI Eko Margiyono saat mengunjungi smelter PT Freeport Indonesia kemarin (7/1). Sebelum ke smelter di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Manyar, Gresik, Lemhannas lebih dulu mengunjungi Tembagapura, Papua, sebagai area tambang milik PTFI.
Menurut jenderal bintang tiga itu, perlahan hilirisasi tersebut mulai terwujud. Seperti 7 November 2024 lalu ketika PTFI bekerja sama dengan Antam untuk penyerapan emas sebanyak 30 ton.
Setelah melakukan kajian, pihaknya akan melihat apakah berkaitan dengan regulasi atau ada stimulus lain untuk memuluskan hilirisasi. ”Karena hilirisasi tambang tidak bisa dipukul rata. Hilirisasi nikel dan tembaga berbeda. Untuk itu, Lemhanas melakukan kajian agar asas kebermanfaatan berguna bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, tahun lalu smelter di KEK JIIPE sudah mulai berproduksi. Namun, sempat dihentikan setelah terjadi kebakaran. ”Anoda yang kami produksi ini merupakan lumpur konsentrat dari PT Smelting sehingga hasilnya terbatas. Tahun 2025 pasca kejadian baru bisa berproduksi lagi pada akhir Juni,” katanya.
Sambil menunggu perbaikan, pihaknya dapat melakukan ekspor. Tapi, itu bukan relaksasi. Melainkan karena keadaan pascakebakaran agar bisa memberi kontribusi kepada negara. ”Ekspor itu harapan kami sesuai dengan rencana kerja anggaran biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah,” tandasnya. (son/fal)
Editor : Hendra