JawaPos.com – Harga emas terpantau mengalami penurunan tipis di tengah perdagangan yang landai setelah libur Natal dan jelang pergantian tahun. Dari data Bloomberg, kemarin (27/12) banderol logam mulia spot diperdagangkan pada level USD 2.637,26 per troy ons, naik tipis sekitar USD 4 dibandingkan penutupan sehari sebelumnya USD 2.633,58 per troy ons.
Analis pasar keuangan Capital Kyle Rodda membeberkan, saat ini masa jeda liburan sehingga pergerakan harga sedikit lesu. Harga emas telah melonjak hampir 28 persen sepanjang tahun ini, mencapai rekor tertinggi USD 2.790,15 pada 31 Oktober. Laju itu didorong pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Namun, momentum itu terpukul karena dolar Amerika Serikat (AS) alias USD menguat setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden. Serta, The Fed mengindikasikan penurunan suku bunga yang lebih sedikit pada tahun depan. ”Keputusan The Fed telah mengguncang kepercayaan pasar terhadap jumlah pemotongan yang mungkin terjadi tahun depan dan itu menjadi penghambat bagi emas,” urai Rodda, dilansir Reuters.
Menurut dia, pasar bersiap menghadapi perubahan kebijakan besar, termasuk tarif, deregulasi, dan perubahan pajak pada 2025 saat Trump kembali menjabat. Meski demikian, emas diperkirakan memiliki peluang untuk kembali menguat seiring dengan sentimen pasar yang mencermati prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Trump yang akan datang dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) untuk tahun depan.
Dari dalam negeri, analis Dupoin Andy Nugraha memberikan analisis teknis bahwa kombinasi pola candlestick dan indikator moving average menunjukkan bahwa tren bullish pada emas makin kuat. Menurut dia, pola pergerakan itu mencerminkan volatilitas pasar yang masih tinggi di tengah ketidakpastian global.
”Emas, sebagai aset tanpa imbal hasil, mendapatkan dukungan dari kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun depan. Data inflasi PCE AS yang moderat memicu ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut,” urainya.
Emas diperkirakan menutup tahun 2024 dengan kenaikan berkisar 28 persen, mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 2010. Kenaikan itu didorong pembelian emas oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan kebijakan moneter longgar dari bank-bank sentral utama dunia.
”Secara keseluruhan, emas tetap menjadi instrumen investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global. Dengan performa yang solid sepanjang tahun ini, emas diperkirakan akan melanjutkan tren positifnya menuju akhir tahun,” tandasnya. (agf/c7/dio)
Editor : Hendra