JawaPos.com – Pertumbuhan perbankan syariah diperkirakan masih berada di atas perbankan nasional pada 2025. Meski dari sisi likuiditas, sejumlah tantangan perlu dicermati. Inovasi bisnis menjadi strategi utama.
Direktorat Treasury and International Banking dituntut bekerja keras dalam menghimpun dana murah. Khususnya, sektor transaction banking. Hal itu mengingat dana yang mengendap di perbankan tidak terpengaruh tingkat bunga (rate).
Untuk menarik dana murah tersebut, perbankan harus memiliki sistem digital mumpuni dalam menarik dana murah. Hal itu menjawab kebutuhan transaksi yang diperlukan nasabah sehingga menciptakan ekosistem transaksi yang efisien.
’’Kami memiliki sistem CMS (cash management system) yang bagus untuk semua kebutuhan transaksional. Cash management dari perusahaan. Ini akan menjadi senjata utama bagi kami,’’ ujar Direktur Treasury and International Banking PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Ari Rizaldi di Jakarta kemarin (23/12).
Dia menjelaskan, CMS BSI dirancang untuk memenuhi kebutuhan transaksi nasabah wholesale dengan menyediakan solusi manajemen kas yang terintegrasi. Dengan sistem itu, perusahaan dapat memanfaatkan layanan transaksi dan manajemen kas BSI. Dengan begitu, dapat meningkatkan ekosistem yang saling terkoneksi.
’’Sehingga secara ekosistem nanti close loop. Kami mengajak klien untuk menggunakan CMS BSI, membuka rekening di BSI, serta memanfaatkan fasilitas kami. Akhirnya dana itu berputar di kami. Itu akan menjadi dana murah,” jelasnya.
Jika menggunakan pendekatan special rate, lanjut Ari, biaya operasional bank berpotensi meningkat. Karena itu, pengembangan transactional banking menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan operasional dan pembiayaan perbankan. ’’Jika kami berperang dengan special rate, akan high cost,” ujarnya.
Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan, pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah bisa mencapai double digit. Begitu pula, peningkatan dana pihak ketiga (DPK) yang akan lebih membaik dibandingkan tahun ini.
’’Tantangan dalam konteks ketersediaan likuiditas itu memang ada. Tapi, isunya itu lebih ke affordable liquidity. Cuma memang sejak adanya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), perbankan menghadapi era apabila mau mencari sumber dana di luar normalnya, agak quite pricey,” paparnya.
Nah, faktanya pertumbuhan pembiayaan lebih tinggi dibandingkan penghimpunan dana. Apabila hal itu terus berlangsung, sustainability banking akan terganggu. Terutama bank-bank dengan modal yang terbatas dan tidak memiliki sumber dana murah alias current account saving account (CASA). ’’Jadi, ini perlu dicarikan solusinya,’’ ujar Banjaran.
Menurut dia, proses SRBI seharusnya target dana asing yang besarannya sekitar 28 persen atau maksimal 30 persen. Nah, kalau 70 persen dana yang ditarik tersebut bisa dicarikan mekanisme untuk dikembalikan ke perbankan, masalah keterbatasan dana murah tidak akan ada.
’’Tapi, sekarang kami melihat bahwa apa yang dilakukan, terutama di otoritas moneter, menggeser dana melalui pemberian surat berharga. Dan, ini yang perlu diseimbangkan antara pemberian surat berharga dan likuiditas makropudensial,’’ terangnya.
Banjaran menambahkan, perekonomian global pada 2025 diperkirakan tumbuh stabil, tapi sedikit tertahan karena naiknya ketidakpastian. Hal itu terjadi akibat arah kebijakan Amerika Serikat (AS) dan eskalasi ketegangan geopolitik. Terutama di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, kenaikan tarif impor oleh AS terhadap beberapa negara yang memiliki surplus perdagangan tinggi dengan AS, termasuk Tiongkok, berpotensi meningkatkan fragmentasi perdagangan global.
Untuk perekonomian domestik, Banjaran memproyeksikan perekonomian Indonesia meningkat ke level 5,1 hingga 5,2 persen pada 2025. Dia tidak menampik ada potensi peningkatan inflasi sebesar 0,4 persen. Serta, penurunan produk domestik bruto (PDB) 0,1 persen. Hal itu seiring dengan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11 menjadi 12 persen. (han/c7/dio)