Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Indonesia Butuh Investasi Padat Karya, Menteri Rosan Optimistis Komitmen USD 1 Miliar dari Apple

Agas Putra Hartanto • Sabtu, 7 Desember 2024 | 08:20 WIB

Gerai Apple store. (Apple.com)
Gerai Apple store. (Apple.com)

JawaPos.com - Pemerintah mendorong Apple untuk meningkatkan investasinya di Indonesia. Tak hanya akademi, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja sehingga berkontribusi lebih nyata terhadap pertumbuhan ekonomi tanah air.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adinegara menilai, permintaan pemerintah kepada Apple tersebut masuk akal. Sebab, yang lebih dibutuhkan adalah investasi padat karya. Selain itu, agar bisa masuk dalam rantai pasok global, terutama produk-produk high technology (high-tech).

Baca Juga: Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita Nego Ulang Nilai Investasi Apple, Tolak Proposal USD 100 Juta dan Anjurkan Segera Bangun Pabrik

’’Kalau dari segi kebutuhan kita, memang butuh industri-industri yang bisa menjadi motor perekonomian di luar komoditas sumber daya alam. Jadi, harus loncat high-tech seperti Malaysia dan Vietnam,’’ ucap Bhima kepada Jawa Pos kemarin (6/12).

Di sisi lain, pemerintah juga harus meyakinkan Apple dengan membentuk ekosistemnya terlebih dahulu. Di antaranya, kesiapan sumber daya manusia (SDM), kawasan industri ekonomi khusus, suplai energi, serta melibatkan perguruan tinggi. Dengan begitu, tidak hanya memberikan insentif pajak. ’’Kerja sama antar kementerian lembaga dan perguruan tinggi penting untuk mempersiapkan tenaga kerja yang mahir. Meski terdapat Apple Developer di Tangerang, Surabaya, Batam, dan Bali, pertanyaannya lulusannya mau disalurkan ke mana? Untuk melengkapi investasi Apple Academy yang sudah existing, harus ada manufaktur industrinya,’’ beber lulusan University of Bradford itu. 

Bhima menilai, pemerintah harus serius menangkap peluang foreign direct investment. Apalagi, di era perang dagang Trump jilid 2 ke depan. Sebagai nilai tambah, bisa juga memasok energi bersih di kawasan industri ekonomi khusus. Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus menyiapkan itu.

Baca Juga: Dalami Proposal Apple demi iPhone 16, Kementerian Perindustrian RI Bandingkan Investasi di Vietnam dan Thailand yang Lebih Dari USD 100 juta  

Jika investasi Apple bisa terealisasi, porsi industri manufaktur tersebut bisa di atas 21 persen dari produk domestik bruto (PDB) sekaligus mampu mencegah deindustrialisasi. Selain itu, akan menarik investor-investor asing lainnya masuk ke tanah air. ’’Karena begitu perusahaan sekelas Apple ada di Indonesia, ini akan menarik investor-investor lainnya untuk masuk. Rantai pasok industri manufaktur itu cukup panjang sehingga juga bisa mengangkat industri-industri lokal lainnya, mulai kebutuhan bahan baku, packaging, sampai distribusi,’’ ujar Bhima. 

Terpisah, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani optimistis menyambut investasi Apple yang kini memasuki tahap akhir pembahasan. Komunikasi dengan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) itu terus berlangsung intensif. Termasuk mengenai investasi yang mencakup komponen smartphone dan produk lainnya.

Dia menyampaikan permintaan agar Apple berkomitmen untuk berinvestasi USD 1 miliar atau setara Rp 15,84 triliun. Nilai investasi Apple saat ini belum sebanding dengan kontribusi Indonesia sebagai pasar yang besar. ’’Saya minta dari mereka investasi sebesar USD 1 miliar untuk tahap pertama dan saya minta mereka membuatnya secara tertulis,’’ ungkap Rosan. 

Dia berharap peningkatan investasi Apple dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Khususnya dalam penciptaan lapangan kerja. Selain itu, mendorong Apple untuk memindahkan sebagian dari rantai pasok globalnya ke Indonesia. ’’Langkah ini diharapkan dapat menarik minat investor lain untuk turut berinvestasi di Indonesia,’’ imbuhnya. (han/c7/fal)

Editor : Hendra
#investasi #apple