Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

8 Kebiasaan Sehat Anak Zaman Dulu yang Mulai Hilang Gara-Gara Layar, Salah Satunya Belajar Sabar

Tazkia Royyan Hikmatiar • Selasa, 8 April 2025 | 12:15 WIB

Ilustrasi mendidik anak di era digital
Ilustrasi mendidik anak di era digital

JawaPos.com - Dulu, jadi anak kecil itu identik dengan lumpur di kaki, lutut lecet, dan waktu main yang nggak pernah cukup. Tapi sekarang, tablet, ponsel, dan layar digital lainnya sudah jadi teman paling setia anak-anak.

Tanpa sadar, banyak kebiasaan sehat yang dulu jadi bagian alami masa kecil, sekarang pelan-pelan hilang karena digantikan oleh hiburan digital.

Bukan berarti layar itu sepenuhnya buruk, tapi kita juga perlu sadar bahwa ada hal-hal penting yang bisa menghilang kalau anak-anak terlalu tenggelam dalam dunia digital.

Berikut delapan kebiasaan masa kecil yang perlu kita ingat lagi dan – kalau bisa – kita bawa kembali ke hidup anak-anak kita sekarang, dikutip dari News Reports, Senin (7/4).

1. Menikmati Waktu Bosan

Dulu, bosan itu biasa. Nggak ada tontonan? Ya sudah, kita rebahan sambil ngelamun lihat langit atau main bayang-bayang. Dari kebosanan itu, banyak ide aneh-aneh muncul – dari bikin benteng dari bantal sampai cerita imajinasi yang bisa bikin senyum-senyum sendiri.

Sekarang, rasa bosan sedikit saja langsung diatasi dengan buka YouTube atau scroll TikTok. Padahal, waktu bosan adalah momen emas buat anak mengembangkan kreativitas. Biarkan mereka nggak ngapa-ngapain sejenak – itu bukan kegagalan, justru kesempatan.

2. Bermain dengan Alam

Masa kecil dulu rasanya nggak lengkap tanpa kotor-kotoran. Main di kebun, lari-larian di lapangan, panjat pohon, atau sekadar jalan kaki sore hari sambil ngitung berapa kupu-kupu yang kelihatan. Itu bukan cuma menyenangkan, tapi juga bikin tubuh dan jiwa sehat.

Sekarang, alam makin jarang disentuh. Banyak anak lebih familiar dengan game bertema hutan daripada hutan beneran. Padahal, interaksi langsung dengan alam membantu perkembangan fisik dan emosional. Coba ajak mereka kembali ke luar, walau hanya sekadar piknik kecil di taman kota.

3. Melatih Kesabaran

Sebelum era internet cepat, banyak hal butuh proses. Mau nonton film? Harus nunggu jadwal di TV. Mau foto? Harus cuci dulu filmnya. Proses-proses itu secara alami ngajarin kita bahwa nggak semua hal bisa instan.

Sekarang, semua bisa didapat dalam satu klik. Akibatnya, anak-anak makin susah menunggu atau menghadapi jeda. Melatih kesabaran itu penting karena hidup nyata penuh dengan penantian. Ajari anak untuk nikmati proses, bukan cuma hasil akhirnya.

4. Aktif Bergerak dan Main Fisik

Dulu, tubuh anak-anak selalu bergerak. Main petak umpet, lompat tali, atau balapan sepeda keliling kompleks. Aktivitas fisik bukan cuma bikin anak sehat, tapi juga bantu perkembangan otak dan keterampilan sosial mereka.

Kini, banyak waktu main anak dihabiskan di depan layar sambil duduk. Ini bikin risiko obesitas meningkat dan kemampuan motorik menurun. Ajak mereka kembali bergerak, walau cuma setengah jam per hari. Sedikit demi sedikit, tapi dampaknya luar biasa.

5. Latihan Keterampilan Sosial

Main bareng teman, rebutan mainan, sampai belajar minta maaf – itu semua jadi ajang latihan bersosialisasi saat kecil. Kita belajar memahami perasaan orang lain, mengenali ekspresi, dan cara komunikasi yang baik.

Sekarang, banyak interaksi anak terjadi lewat chat atau komentar di medsos. Memang ada sisi positifnya, tapi kemampuan komunikasi langsung tetap yang paling penting. Jadwalkan playdate atau ajak anak ngobrol rutin, biar keterampilan sosial mereka terasah.

6. Menghargai Seni dan Budaya

Dulu, nonton pertunjukan seni, ikut lomba gambar, atau jalan-jalan ke museum itu pengalaman yang memikat. Anak-anak jadi tahu ada banyak cara mengekspresikan diri selain lewat kata-kata. Seni dan budaya memperkaya jiwa dan membuka wawasan.

Sayangnya, tontonan digital yang instan sering kali mengalahkan pengalaman budaya langsung. Yuk, hidupkan lagi momen-momen menyentuh seni. Tak perlu yang mahal–nonton teater sekolah atau mengunjungi pameran lokal pun sudah cukup berkesan.

7. Belajar Berempati

Kita dulu belajar empati dari pengalaman nyata: melihat teman sedih, memeluk adik yang takut petir, atau bantu kakek nenek. Interaksi ini ngajarin kita peka terhadap perasaan orang lain dan memperkuat hubungan sosial.

Sekarang, empati kadang cuma datang dari karakter kartun atau dialog dalam game. Itu bagus, tapi tetap nggak bisa ganti pengalaman langsung.

Dorong anak untuk terlibat dalam kegiatan sosial nyata, seperti memberi makan hewan, bantu tetangga, atau ikut kegiatan komunitas.

8. Belajar dari Kegagalan

Jatuh dari sepeda, salah nulis di ujian, atau kalah lomba – semua itu pengalaman berharga yang bikin kita tahan banting. Kita belajar bangkit, mencoba lagi, dan menghargai proses belajar.

Tapi di dunia digital, semua bisa diulang atau dihapus. Gagal? Restart game. Salah? Backspace. Padahal, kegagalan penting untuk pembentukan karakter. Biar anak tahu bahwa gagal itu bukan akhir, tapi pintu untuk tumbuh jadi lebih baik.

Penutup: Bukan Larang, Tapi Seimbangkan

Teknologi bukan musuh. Tapi kita juga nggak boleh lupa bahwa layar bukan satu-satunya dunia yang layak dijelajahi anak-anak. Dengan usaha pelan-pelan, kita bisa bantu mereka menikmati masa kecil yang lebih lengkap – penuh tawa, tantangan, dan pengalaman nyata.

Kalau kamu sudah sampai di akhir artikel ini, artinya kamu juga peduli. Yuk, bareng-bareng ajak anak kembali menikmati dunia nyata. Genggam tangan mereka, bukan gadget-nya.

Editor : Hendra
#anak #kebiasaan sehat #belajar sabar