JawaPos.com - Pernahkah anda memikirkan perbedaan antara merasa rentan dengan merasa seperti korban atau bahkan martir? Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui perbedaannya.
Victim Mentality vs Vulnerability
Victim mentality atau mentalitas korban adalah jenis distorsi kognitif tentang cara seseorang memandang dunia serta keadaan mereka; sebuah kondisi ketika seseorang sering merasa seperti korban, meskipun bukti mengatakan sebaliknya. Tanda-tandanya termasuk sering menyalahkan orang lain dan kesulitan menerima tanggung jawab pribadi.
Orang dengan mentalitas korban merasa seolah-olah hal-hal buruk terus terjadi dan dunia menentang mereka. Namun, faktanya, kita semua memang pernah mengalami hari-hari ketika dunia seolah tidak berpihak pada kita.
Mentalitas korban dapat membuat anda merasa hidup tidak adil. Anda bahkan mungkin merasa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah keadaan. Selain itu, anda mungkin menganggap segala sesuatu sebagai sesuatu yang pribadi meskipun hal itu tidak ditujukan kepada anda.
Dalam psikologi klinis, mentalitas korban menggambarkan ciri kepribadian orang yang percaya bahwa mereka terus-menerus menjadi korban tindakan merugikan orang lain, bahkan ketika menyadari adanya bukti yang bertentangan.
Kebanyakan orang mengalami periode normal mengasihani diri sendiri sebagai bagian dari proses berduka, misalnya. Namun, episode-episode ini bersifat sementara dan kecil dibandingkan dengan perasaan tidak berdaya, pesimisme, rasa bersalah, malu, putus asa, dan depresi yang terus-menerus yang menguasai kehidupan orang yang memiliki mentalitas korban.
Orang yang berperan sebagai korban mungkin secara aktif mencoba memanipulasi orang lain. Manuver ini meliputi menimbulkan rasa bersalah, menggunakan kesulitan masa lalu untuk membenarkan tindakan yang menyakitkan di masa sekarang, dan mengalihkan kesalahan.
Sebaliknya, seseorang yang rentan mengambil pendekatan yang sangat berlawanan dalam situasi yang sama persis.
Victim Mentality vs Martyr Complex
Selain dikaitkan dengan kerentanan, kadang mentalitas korban juga dikaitkan dengan istilah kompleks martir yang menggambarkan sifat kepribadian orang yang benar-benar menginginkan perasaan menjadi korban berulang kali.
Orang-orang seperti itu kadang mencari, bahkan mendorong, viktimisasi mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan psikologis atau sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab pribadi. Orang yang didiagnosis dengan kompleks ini sering kali secara sadar menempatkan diri mereka dalam situasi atau hubungan yang kemungkinan besar akan menyebabkan penderitaan.
Di luar konteks teologis, yang menyatakan bahwa para martir dianiaya sebagai hukuman atas penolakan mereka untuk menolak doktrin, orang dengan kompleks martir berusaha untuk menderita atas nama cinta atau tugas.
Kompleks martir kadang dikaitkan dengan gangguan kepribadian yang disebut "masokisme," yang menggambarkan preferensi dan pengejaran penderitaan.
Psikolog sering mengamati kompleks martir pada orang yang terlibat dalam hubungan yang kasar atau saling bergantung (codependency). Didorong oleh kesengsaraan yang mereka rasakan, orang dengan kompleks martir sering kali menolak nasihat atau tawaran untuk membantu mereka.
Apa Itu Vulnerability?
Kerentanan adalah ketika seseorang secara terbuka mengungkapkan emosi, pikiran, dan keyakinannya. Melakukan hal itu tidak hanya menumbuhkan komunikasi terbuka tetapi juga membantu menumbuhkan empati dalam suatu hubungan.
Baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan kerja, kita sering kali berada dalam lingkungan yang terus-menerus tidak menghargai. Kita tidak tahu kapan kita akan dikritik lagi atau percaya bahwa kita hanya sebaik kesalahan terakhir kita. Kita menanggung beban ketidakpastian.
Tidak seorang pun menyukai ketidakpastian dan kecemasan karena itu menyebabkan ketidaknyamanan. Namun, jika kita tidak membiarkan diri kita rentan terhadap orang lain, itu membuat kita tidak terlihat oleh orang-orang yang paling kita sayangi.
Manusia memiliki naluri yang kuat untuk melindungi diri, menghindari rasa sakit dan luka. Namun, menjadi rentan adalah bagian dari menjadi manusia pula.
Menjadi rentan mengharuskan kita untuk menurunkan kewaspadaan dan terlihat sebagaimana adanya. Ini sulit, dan bagian penting dari peningkatan penerimaan diri dan kepercayaan diri yang sejati, membangun hubungan, dan memperkuat kualitas hidup adalah membiarkan diri kita terlihat oleh diri kita sendiri dan orang lain. Tidak mudah untuk mengambil risiko emosional dan membuka diri terhadap kemungkinan terluka. Dan, merangkul kerentanan emosional dapat mengarah pada pertumbuhan pribadi.
Dengan kata lain, kerentanan tidak harus menjadi kelemahan; kerentanan bisa menjadi kekuatan dan keberanian.
Cara Membedakan Victim Mentality atau Vulnerability
Ada tiga hal mendasar, seperti yang telah disinggung di atas, yang bisa diamati untuk menentukan apakah seseorang itu sedang rentan atau memiliki mentalitas korban, di antaranya:
1. Menimbulkan Rasa Bersalah
Seseorang biasanya menggunakan rasa bersalah sebagai senjata saat mereka ingin mengendalikan orang lain dalam suatu hubungan. Mereka menuduh pihak lawan bersikap menyakitkan, lalu dengan cepat memanipulasi orang tersebut agar melakukan apa yang mereka inginkan.
Sebaliknya, seseorang yang tidak berperan sebagai korban tidak perlu menimbulkan rasa bersalah. Interaksi lebih seimbang dan berlangsung tanpa serangan label negatif yang tidak adil.
2. Memanfaatkan Kesulitan di Masa Lalu
Sering kali, seseorang mengambil "sikap korban" saat mereka ingin menghindari "masalah" dalam suatu hubungan. Mereka mengidentifikasi kesulitan dari masa lalu dan menggunakannya untuk menghindari tanggung jawab pribadi di masa sekarang. Hal ini juga memungkinkan mereka untuk menghindari konsekuensi.
Orang yang terluka dipaksa untuk menghibur dan menenangkan orang yang melakukan kesalahan, merupakan sebuah hal yang tidak adil. Permintaan maaf yang tulus dan sepenuh hati yang bebas dari alasan, pembenaran, dan viktimisasi mungkin merupakan langkah yang paling cerdas secara emosional.
3. Mengalihkan Kesalahan
Sering kali seseorang mencoba mengalihkan kesalahan dan menggambarkan diri mereka sebagai korban ketika mereka disudutkan atau menghadapi umpan balik. Alih-alih melihat diri mereka sendiri, mereka langsung menjadi defensif dan menuduh orang yang mengemukakan masalah tersebut bersikap tidak adil, antagonis, dan kasar.
Seseorang yang menimbulkan rasa bersalah untuk mendapatkan kendali, menggunakan kesulitan masa lalu untuk memaafkan kesalahan saat ini, dan mencoba mengalihkan kesalahan ketika dihadapkan mungkin memiliki mentalitas korban. Namun, seseorang yang dapat mengambil perspektif, bertanggung jawab, dan mempertimbangkan umpan balik tanpa bereaksi secara defensif mungkin adalah orang yang cukup kuat untuk menjadi rentan. Mengetahui perbedaannya dapat membantu anda menilai keamanan emosional orang yang anda hadapi.
Editor : Candra Mega Sari