Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Ulasan Koe no Katachi atau A Silent Voice, Film Animasi Karya Naoko Yamada yang Diadaptasi dari Manga Karangan Yoshitoki Oima: Hangat dan Emosional

Erie Dewangga • Selasa, 10 Desember 2024 | 19:30 WIB

Koe no Katachi. (Dok. IMDb)
Koe no Katachi. (Dok. IMDb)

JawaPos.com — Siapa yang tidak mengetahui film animasi karya Naoko Yamada yang satu ini? Koe no Katachi atau A Silent Voice, sebuah adaptasi film dari manga berjudul sama karangan Yoshitoki Ōima yang bertemakan pendewasaan ini, tak bisa dipungkiri, adalah salah satu yang terbaik di antara film serta serial animasi yang rilis di tahun 2016, yang bahkan berhasil menyabet penghargaan film terbaik dari Tokyo Anime Award.

Baca Juga: Rekomendasi Film Animasi Karya Naoko Yamada, dari K-ON! Movie sampai Garden of Remembrance, Semua Indah dan Penuh Makna

Yuk, simak artikel berikut mengulas film animasi Koe no Katachi, salah satu karya sutradara Naoko Yamada yang sungguh menyayat hati.

Film tentang Pendewasaan yang Dikemas dengan Emosional

Disutradarai oleh Naoko Yamada (K-ON!, Tamako Love StoryLiz to Aoi ToriHeike MonogatariGarden of Remembrance, dan Kimi no Iro), Koe no Katachi adalah sebuah film animasi drama coming-of-age atau pendewasaan yang dikemas dengan begitu emosional.

Koe no Katachi atau A Silent Voice, mengikuti kisah mengharukan dan menyentuh dari Shōya Ishida (VA: Miyu Irino), seorang bocah berandalan di sekolah, dan Shōko Nishimiya (VA: Saori Hayami), seorang gadis muda dengan disabilitas pendengaran. Kisah mereka dimulai saat kelas enam, ketika Shōko pindah ke sekolah dasar tempat di mana Shōya menuntut ilmu.

Seperti yang diketahui bahwa Shōko adalah seorang tuli, dan karenanya dia hanya bisa berkomunikasi menggunakan buku catatan serta bahasa isyarat saja. Meskipun dia sangat baik dan mencoba untuk berteman, anak-anak lain begitu jahat padanya. Mereka mengolok-olok pakaiannya, meninggalkannya sendirian di taman bermain, dan intimidasi kekanak-kanakan lainnya.

Namun, tidak ada yang sekejam Shōya yang terus-menerus memanggilnya menjijikkan, berteriak tepat di telinganya, dan bahkan mencabut alat bantu dengarnya yang mahal, melemparkannya ke luar jendela atau ke air mancur. Ketika akhirnya ibu Shōko sudah jengah dan memindahkan putrinya ke sekolah lain, saat itulah Shōya menyadari kesalahan yang telah dia lakukan, dan demikianlah karma menghancurkannya: ia kini berada di posisi Shōko, menjadi korban perundungan yang diasingkan oleh teman-temannya.

Waktu berlalu, dan berkat kebetulan yang ajaib, Shōya kembali bertemu dengan Shōko sekali lagi. Mungkin, inilah penebusan; sepanjang film, penonton akan disuguhkan perjuangan Shōya untuk melibatkan dirinya kembali dengan Shōko, dan mencoba menebus semua tindakan mengerikannya masa lalu sembari belajar untuk memaafkan dan mencintai dirinya sendiri.

Tentang Keterasingan, Penerimaan, Perubahan, dan Perjuangan Memohon Ampunan

Salah satu yang menarik dari film ini adalah adegan lompatan waktu yang dialami oleh Shōya dari sekolah dasar ke sekolah menengah atas. Begitu banyak perubahan yang bisa dialami oleh anak-anak selama masa peralihan atau pubertas seiring dengan kian banyak tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka. Meskipun banyak hal telah berubah bagi Shōya, ia seketika terlempar kembali ke kelas sekolah dasar saat bertemu kembali dengan Shōko. Adegan tersebut seperti pengingat akan hal-hal buruk yang telah ia lakukan, dan ia memiliki banyak waktu untuk menyesalinya. Ia akhirnya dapat berbaikan dengannya dan mungkin berteman, seperti yang selalu diinginkannya.

Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Liz to Aoi Tori: Bahasa Bunga, Gaya Khas Naoko Yamada Ungkap Emosi Para Tokoh yang Tak Terucap oleh Kata

Selain itu, keunikan lain yang sangat berdampak ialah ketika setiap karakter yang tidak berteman dengan Shōya memiliki tanda "X" biru besar di wajah mereka. Sejak Shōko meninggalkan sekolah dasar, Shōya merasa sendirian dan dibenci oleh semua orang di sekitarnya. Ia tidak dapat menganggap mereka sebagai teman, dan yakin bahwa mereka tidak peduli apakah ia masih hidup atau tidak, jadi baginya, mereka hanyalah entitas tanpa wajah di sekitarnya. Baru setelah ia mulai berteman dengan orang-orang, seperti Tomohiro, sisi X-nya mulai terkelupas dan ia mampu melihat mereka dan membiarkan mereka melihatnya.

Salah satu tema kecil di sepanjang film ini tentang keterasingan. Shōya selalu menjauhkan diri dari orang-orang di sekitarnya, mengunci emosinya, dan mengisolasi dirinya. Ia langsung membenci Shōko karena ia berbeda dan, seperti yang ia katakan, "aneh." Sangat mudah baginya untuk mengabaikan teman-teman baru, pengalaman baru, tantangan baru, sehingga ia kehilangan begitu banyak hal yang berpotensi indah. Ia hampa, dan sedemikian hampanya sehingga ia tidak peduli apakah ia hidup atau mati. Film ini berhasil menyajikan tema ini dengan sangat baik, dan bagaimana Shōya menghadapi pola pikir ini begitu ia bertemu kembali dengan Shōko.

Menjadi inti dari Koe no Katachi, penebusan dosa Shōya adalah tema dalam film animasi yang dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa kesalahan masa lalu tidak mudah dimaafkan atau dilupakan, tetapi melalui Shōya, juga menunjukkan bahwa manusia sebagai individu adalah bukan entitas yang statis, mereka akan senantiasa berubah.

Perubahan-perubahan tersebut ditunjukkan melalui tindakan dan tekad Shōya untuk memperbaiki kesalahan dengan Shōko. Meskipun mungkin sulit untuk memaafkan, tetapi Naoko Yamada menunjukkan bagaimana bahkan tindakan yang paling mengerikan pun dapat dimaafkan dengan kegigihan yang cukup terhadap apa yang benar. Di akhir film, Shōya pun berhasil mengatasi masa lalu beserta segala penyesalan yang ia miliki dengan mana ia mulai membuka kembali telinga dan hatinya untuk mendengarkan suara orang-orang di sekitarnya.

Mengangkat Isu-Isu Penindasan Melalui Dua Sudut Pandang

Koe no Katachi telah cukup berhasil untuk menggambarkan satu periode dalam kehidupan ketika sekolah menengah terasa seperti seluruh dunia dan dramanya pun mengambil dimensi pencarian jati diri yang sarat dengan problem eksistensial; dengan mana setiap perasaan terluka atau hubungan yang renggang merupakan pukulan yang menyiksa ke tingkat terdalam jiwa penonton.

Naoko Yamada menciptakan gaya visual yang samar dan penuh nostalgia yang sempurna untuk mengeksplorasi gagasan tentang rasa bersalah dan ingatan yang mendorong alur ceritanya. Memanfaatkan gaya khasnya, tokoh-tokoh dalam film ini pun menjadi penuh warna unik yang membedakannya dengan tokoh lain. Tak ketinggalan pula, elemen-elemen seperti mikroekspresi serta hanakotoba, tetap ada dalam Koe no Katachi dan menjadi sarana yang membantunya untuk mengungkapkan emosi serta perasaan yang tak mampu diutarakan melalui bahasa verba.

Mengangkat isu-isu tentang penindasan, meskipun sulit, melalui film ini Naoko Yamada tidak menahan kreativitasnya dalam mengekspresikan seorang tokoh utama yang suka menindas. Ia tidak mengabaikan pun mengagungkan apa yang dilakukan oleh Shōya, yang pada akhirnya menuai apa yang ditanamnya: dia dikeluarkan dari sekolah dan begitu dia menyadari apa yang telah dia lakukan, dia menjadi dipenuhi dengan rasa bersalah dan membenci diri sendiri.

Naoko Yamada juga berhasil menggarisbawahi kecemasan sosial serta penolakan kedua tokoh utama tersebut dengan kepedihan dan kekuatan. Shōya mencapai titik di mana ia tidak dapat melihat siapa pun di sekitarnya dan hal ini diilustrasikan oleh tanda “X” biru di wajah mereka. Saat ia mulai percaya diri, tanda tersebut perlahan akan terkelupas. Shōko juga merupakan tokoh yang sangat kompleks, yang bukanlah teladan kebajikan yang mungkin tergoda untuk digambarkan dengan tokoh disabilitas. Ia memiliki kebencian dan keputusasaannya sendiri yang harus ia hadapi. Pada dasarnya, kedua tokoh tersebut sangatlah kesepian.

Film yang Menyayat Hati, tapi Penuh Hikmah untuk Dipelajari

Koe no Katachi merupakan salah satu film animasi coming-of-age yang terbaik, dari sekian banyak film dengan genre serupa; film ini kaya dengan visual yang menawan, cerita dengan tema yang mendalam, karakterisasi tokoh yang menarik, struktur plot yang luar biasa, dan alur cerita yang jelas. Gaya animasi yang dibuat oleh para animator Kyoto Animation pada film ini pun bisa dikatakan menjadi salah satu gaya animasi paling cemerlang dan lancar yang ada.

Film animasi karya Naoko Yamada yang mengadaptasi serial manga karangan Yoshitoki Ōima ini menggambarkan perjuangan dan tantangan masa remaja dalam pendewasaan yang menuntut siapa saja untuk bisa menerima dirinya sebelum terjun ke masyarakat. Koe no Katachi adalah film yang menggambarkan pengampunan, kesepian, penyakit mental, tekanan teman sebaya, dan masih banyak lagi. Film ini bisa jadi menyedihkan, tetapi juga bisa memberikan sebuah katarsis yang luar biasa pada penonton—semacam sensasi kelegaan atau rasa hangat yang perlahan merayap dan memenuhi rongga dada.

Pada akhirnya, Koe no Katachi adalah sebuah film animasi coming-of-age yang menyayat hati, tetapi penuh harapan untuk menebus dosa di masa lalu dan mencari pengampunan bagi orang-orang yang telah melakukan kesalahan yang tak terelakkan; hikmah yang mana adalah sesuatu yang dapat dipahami dan dipelajari oleh siapa saja.

Editor : Hendra
#Naoko Yamada #A Silent Voice