JawaPos.com - Mengingat dominasinya di pasar Jepang beserta pengaruhnya terhadap bentuk hiburan lain di kancah internasional, sekarang saatnya untuk lebih mencermati produk budaya pop ini, mulai dari pembagian demografi, ciri khas, sebaran genre, cara mengetahui demografi anime dan manga, sampai dengan pembaca-nya.
Mengenal Shōnen, Shōjo, Seinen, dan Josei
Bagi para penggemar baru budaya pop Jepang, istilah-istilah di atas mungkin cukup asing, pun masih banyak wibu yang terlanjur salah kaprah menganggapnya sebagai bagian dari genre seperti halnya aksi, sains-fiksi, drama-romantis, komedi, atau horor; padahal bukan!
Perlu dipahami, bahwa shōnen, shōjo, seinen, dan josei adalah demografi atau segmentasi konsumen dari suatu manga dan anime berdasar gender serta umur mereka. Ya, setiap judul anime dan manga memiliki target audiens masing-masing, dan biasanya diklasifikasikan menjadi 4 kelompok. Berikut selayang pandang terkait empat demografi di atas.
- Shōnen
Manga-manga dengan demografi ini ditujukan untuk kalangan remaja (khususnya laki-laki) dengan rentang usia target mulai dari usia 12 sampai 18 tahun. Shōnen (dan shōjo) merupakan demografi yang memiliki genre paling beragam saat ini, mulai dari aksi, petualangan, fantasi, sampai dengan komedi dan drama-romantis, semua ada dalam kedua demografi ini. Contoh manga shōnen, di antara yang paling terkenal adalah manga-manga the Big Three (Bleach, One Piece, Naruto), I Sold My Life for Ten Thousand Yen per Year, dan Kaoru Hana wa Rin to Saku.
- Shōjo
Audiens yang ditargetkan oleh demografi ini adalah para gadis, khususnya remaja. Manga shōjo, pada dasarnya dikenal karena kisah-kisah romansanya yang sering diutarakan dalam konteks sekolah. Sama seperti shōnen, manga dalam demografi ini pun memiliki ciri khasnya sendiri, seperti ekspresi perasaan karakter yang kuat, ciri mata besar yang mencerminkan emosi, romansa yang dihadirkan dengan satu atau lain cara, dan cukup sering menjadi alur utama yang klise tapi tetap menyenangkan. Contoh manga shōjo, antara lain: Magical Doremi, Sailor Moon!, Kimi ni Todoke, NANA!, Banana Fish, dan Natsume’s Book of Friends.
- Seinen
Audiens yang ditargetkan oleh demografi ini adalah orang-orang dewasa muda (18-40 tahun), khususnya para pria. Narasi dalam manga berdemografi seinen bisa lebih kasar, lebih kompleks, lebih keras, dan lebih bernuansa gelap yang memungkinkan sedikit lebih banyak introspeksi dan moralitas yang suram; pun, bisa jadi jauh lebih cerah-ceria daripada shounen ataupun shoujo. Berikut contoh manga seinen: Bocchi the Rock, Kingdom, Black Lagoon, Skip to Loafer, Kuzu no Honkai, Blue Period, Land of Lustrous, March Come Like a Lion, Witch Hat Atelier, Vinland Saga, Solanin, The Apothecary Diaries, dan From Now On We Begin Ethics.
- Josei
Audiens yang ditargetkan oleh demografi ini adalah para wanita dewasa muda. Cerita pada manga josei sebagian besar berfokus pada tema-tema yang lebih dewasa seperti kehidupan kerja, kehidupan universitas, pernikahan, perceraian, dan keintiman. Contoh manga josei: Chihayafuru, Usagi Drop, Princess Jellyfish, My Broken Mariko, Kids on the Slope, Shouwa Genroku Rakugo Shinju, Ikoku Nikki, Witch of Thistle Castle, dan Cocoon.
Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Violet Evergarden (Bagian Dua): Tokoh-Tokoh Ini Punya Nama Berunsur Bunga yang Menawan dan Bermakna Indah
Tidak Semua Cerita Romantis Itu Shōjo, Tidak Semua Seinen Itu Bikin Pusing!
Kesalahpahaman lain yang sering muncul dalam hasil budaya pop Jepang ini adalah kebiasaan beberapa orang untuk memukul rata bahwa manga-manga romantis sudah pasti adalah shōjo dan manga seinen pasti filosofis sampai bikin otak melintir; padahal tidak demikian.
Coba anda perhatikan gambar sampul artikel di atas, kesemuanya merupakan sampul dari contoh manga romantis yang ada pada empat demografi utama; dari kiri ke kanan ada Kaoru Hana wa Rin to Saku (shōnen), Kimi ni Todoke (shōjo), Kuzu no Honkai (seinen), dan Sakamichi no Apollon (josei). Sehingga jelas, kalau setiap demografi memiliki cerita cinta romantis dengan ciri khasnya masing-masing.
Pun, manga seinen tidak harus selalu yang bermuatan filosofis. Contohnya, lihat saja manga Non Non Biyori yang diterbitkan oleh majalah Comic Alive (Media Factory) yang bercerita tentang keseharian para anak-anak SD di desa, atau cobalah menengok manga-manga yang diterbitkan oleh majalah Manga Time Kirara (Houbunsha) yang kebanyakan adalah manga yonkoma tentang Cute Girls Doing Cute Things.
Apa yang Membuat Manga Shōnen Itu Shōnen dan Manga Shōjo Itu Shōjo?
Menurut Mayu Nakamura, salah satu editor di majalah Bessatsu Friend (Kodansha), mengutip wawancara yang dilakukan oleh Manga Passion, yang membedakan manga shōjo dan josei dengan manga shōnen dan seinen adalah cara pendekatan mangaka untuk menggambarkan perasaan serta jati diri seorang tokoh, yang terkait dengan lingkungan sosial setelah lahir dan tumbuh dewasa serta masalah keluarga mereka, selalu dilakukan secara hati-hati dan penuh emosional. Pada manga shōjosei, masalah-masalah tersebut digambar seolah-olah anda menempatkan diri pada posisi tokoh tersebut.
Sementara itu, yang membuat manga shōnen menjadi shōnen adalah perjuangan para tokohnya yang memulai sesuatu dari nol untuk mencapai tujuan tertinggi masing-masing dengan mana hal ini berkaitan dengan semangat masa muda para remaja yang sedang membara dan berapi-api.
Pun menurut artikel yang diterbitkan oleh EAPC (East Asian Jurnal of Pop Culture), manga shōjo bisa disebut sebagai ‘manga shōjo’ adalah karena ia mengandung girls culture atau budaya perempuan; pun demikian dengan manga shōnen, bisa jadi juga demikian.
Tak Perlu Risau untuk Bedakan Mana Shōnen-Mana Shōjo
Untuk menarik minat khalayak yang lebih luas, manga tersedia dalam berbagai genre, mulai dari aksi, petualangan, fantasi, olahraga, drama, sains-fiksi, komedi, kisah romansa, semua ada. Pun, manga telah tersegmentasi dalam empat demografi utama: shōnen untuk remaja laki-laki, shōjo untuk para gadis, sampai seinen dan josei untuk orang-orang dewasa.
Tapi, bagaimana, sih, membedakan mana shōnen-mana shōjo serta mana seinen-mana josei? Jawabannya sederhana, anda tinggal melihat-lihat majalah di mana judul manga yang sedang atau akan anda baca tadi diterbitkan. Contohnya, sekali lagi perhatikan gambar sampul artikel di atas:
- Manga Kaoru Hana wa Rin to Saku merupakan manga romantis yang mendapat serialisasi di majalah digital Magazine Pocket (MagaPoke) yang masih satu lini dengan Weekly Shōnen Magazine milik Kodansha, jadi meskipun manga ini bergenre romansa dan ilustrasinya pun cukup shōjo, tapi manga ini termasuk manga shōnen sebab majalah yang menerbitkannya adalah majalah khusus manga yang diperuntukkan kepada remaja laki-laki.
- Manga Kimi ni Todoke adalah manga romantis di sekolah yang terbit di majalah Bessatsu Margaret (Betsuma) milik Shueisha, yang mana merupakan majalah khusus manga-manga yang menargetkan para pembaca dari kelompok gadis remaja, sehingga praktis manga ini pun termasuk manga shōjo.
- Manga Kuzu no Honkai merupakan manga drama-romantis ala anak sekolah karangan Mengo Yokoyari yang terbit di majalah Big Gangan (BG) milik Square Enix yang khusus menerbitkan manga-manga yang menargetkan para pria dewasa sebagai pembacanya, jadi walaupun manga ini cukup cantik, tapi ia tetaplah manga seinen.
- Lalu, manga Sakamichi no Apollon, yang merupakan manga romantis cinta bersegi banyak, terbit di majalah Flowers milik Shogakugan yang khusus untuk audiens wanita dewasa, jadi manga ini termasuk manga josei.
Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Kusuriya no Hitorigoto (Bagian Tiga): Tujuh Bunga Menawan Ini Jadi Simbol Kedirian Para Tokoh dan Hubungan Mereka
Pembaca Manga: Tentang Selera dan Pandangan Soal Segmentasi Gender
Manga, dan anime, walaupun memiliki empat demografi utama, sering dibagi menjadi shōjo (gadis) dan shōnen (laki-laki) saja. Ketika berbicara tentang shōjo, orang-orang biasanya mengacu pada cerita yang ditujukan terutama untuk para gadis atau remaja perempuan. Tentu saja penargetan audiens ini tidak secara eksklusif, adanya demografi atau segmentasi ini hanya sebagai kategorisasi dari target audiens awal. Siapapun bebas membaca manga dari demografi apapun tanpa memandang gender mereka. Tidak ada yang menghalangi seorang gadis muda untuk membaca manga shounen, pun seorang remaja laki-laki untuk membaca shoujo, atau orang dewasa untuk membaca cerita josei.
Walaupun demografi manga tidak eksklusf, tapi ada hal menarik terkait fluiditas audiens salah satu produk kultur pop Jepang ini, mengutip hasil survei yang ada di situs Honto, yaitu ternyata jauh lebih banyak pembaca wanita yang membaca manga shōnen daripada laki-laki yang membaca manga shōjo, lho!
Mengutip statistik dari survei terkait manga yang menargetkan konsumen lelaki, ada tak kurang dari 40% perempuan yang membaca manga shōnen serta seinen.
Apakah hal yang sebaliknya juga terjadi, yaitu lelaki membaca manga shōjo atau josei? Jawabannya ada, meskipun tidak sebanyak perempuan membaca manga shōnen dan seinen. Pada statistik dari survey manga dengan target pasar para wanita, hanya sekitar 19% lelaki saja yang membaca manga shōjo dan josei.
Hal ini bisa terjadi karena mungkin saja para perempuan lebih terbuka untuk eksplorasi berbagai jenis genre di luar segmentasi pasar manga yang memang dikhususkan untuk mereka, sedangkan lelaki mungkin cenderung enggan untuk melirik demografi lawan jenisnya.
Faktor lain yang bisa memengaruhi fenomena ini terjadi adalah persepsi tentang gender, sebagaimana yang dipaparkan oleh Jurnal EAPC, bahwa sebagai teks yang ber-gender, manga-manga yang ditulis tentunya memiliki deskripsi karakter serta pandangan dunia yang berbeda-beda (yang disebabkan oleh pengalaman penulis serta pandangan pembaca) yang pada gilirannya akan memengaruhi sikap serta pandangan konsumen.
Namun, ada jawaban yang jauh lebih sederhana yang mungkin bisa memuaskan rasa penasaran anda tentang fenomena ini, yaitu semuanya kembali kepada selera kita masing-masing.
Editor : Candra Mega Sari