JawaPos.com — Sebagai seorang apoteker, Maomao, protagonis dalam serial anime Kusuriya no Hitorigoto atau The Apothecary Diaries, sudah pasti memiliki pengetahuan yang luas tentang obat-obatan, apalagi perihal bebungaan, baik yang beracun maupun yang tidak.
Namun, tahukah anda, kalau setiap bunga yang muncul dalam adaptasi anime dari novel ringan karangan Natsu Hyuga ini menggambarkan setiap tokoh, suasana, serta peristiwa yang datang dan terjadi silih berganti? Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang bebungaan beserta hanakotoba-nya? Yuk, simak makna dari beberapa bunga yang hadir dalam serial anime Kusuriya no Hitorigoto satu per satu.
Keindahan Rhododendron yang Agung dan Penuh Kehati-hatian
Bunga yang muncul pada lagu pembuka serta episode 1 dan 2 ini adalah Rhododendron, atau yang disebut dengan shakunage (石楠花); tanaman berbunga yang indah untuk ditanam di taman-taman, karena bunganya yang berbentuk lonceng dan terkadang harum mewangi dan hadir dalam berbagai bentuk, ukuran, warna, serta waktu untuk mekar.
Bunga ini memiliki hanakotoba yang bermakna keagungan, bahaya, kehati-hatian, dan kecurigaan. Selain itu, bunga ini juga melambangkan keindahan, kerapuhan, dan keanggunan karena bentuknya yang rumit. Rhododendron merah muda khususnya melambangkan cinta diri dan kasih sayang.
Simbolisme 'keagungan' pada Rhododendron diyakini berasal dari bunganya yang indah dan melimpah, sedangkan simbolisme bahaya dan kehati-hatian berasal dari racun pada daunnya. Sebagai catatan, tanaman ini mengandung senyawa beracun yang dikenal sebagai grayanotoxins, yang dapat berbahaya bagi manusia dan kucing jika dikonsumsi.
Pengorbanan Mawar Katun yang Tabah dan Anggun
Bunga yang muncul berikutnya adalah Cotton Rose (Hibiscus mutabilis), yang juga disebut sebagai disebut fuyō (芙蓉), atau mawar katun, atau mawar konfederasi. Bunga ini hadir pada episode ketiga serial Kusuriya no Hitorigoto, dan secara kanonik dikaitkan dengan sosok Putri Fuyō, seorang putri penari yang hendak dihadiahkan oleh Paduka Kaisar kepada pejabat militer yang berprestasi.
Dalam hanakotoba, bunga ini melambangkan keindahan serta kasih sayang yang lembut, Mawar katun paling sering menjadi simbol cinta abadi, pengabdian, dan kasih sayang dalam floriografi Barat. Bunga ini juga melambangkan pengorbanan dan ketabahan, dan secara historis dikaitkan dengan Perang Saudara Amerika. Kemampuan bunga ini untuk berubah warna dari putih menjadi merah telah menjadikannya simbol transformasi dan kemampuan beradaptasi yang dialami individu dan masyarakat selama masa konflik dan transisi.
Mawar katun beracun bagi manusia, serta berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan luka bakar yang cukup serius bila tidak cepat ditangani dengan benar.
Pengabdian Violet dalam Kejujuran Hati dan Kesucian Cinta
Bunga berikutnya adalah violet (Viola mandshurica) atau juga disebut sebagai sumire (菫), yang muncul secara sekilas pada episode 5; yang dalam hanakotoba melambangkan kejujuran, kerendahan hati, ketulusan, dan kebahagiaan kecil. Bunga violet ungu, khususnya, melambangkan kesucian cinta. Sementara bunga violet biru melambangkan kejujuran, cinta, kepercayaan, komitmen, dan pengabdian.
Representasi mereka atas kerendahan dan kejujuran hati mungkin berasal dari keindahan bunganya yang bisa tumbuh subur meskipun dibiarkan liar pinggir-pinggir jalan. Dalam floriografi Barat, bunga ini melambangkan kesederhanaan, kesetiaan, kebijaksanaan spiritual, harmoni, dan keseimbangan.
Meskipun umumnya tidak berbahaya bagi manusia, tetapi beberapa jenis bunga violet mengandung zat yang dapat mengancam nyawa para kucing bila tertelan.
Harapan Sederhana Aster untuk Kedamaian dan Awal yang Baru
Bunga berikutnya adalah Aster Montauk (Nipponanthemum nipponicum), atau yang dikenal dengan Nippon giku (日本菊). Bunga yang muncul di episode 6 ini punya hanakotoba yang melambangkan iman, kedamaian, harapan, kesucian, keindahan, dan menghadapi kesulitan. Dalam floriografi Barat, bunga ini melambangkan kelahiran kembali, awal yang baru, dan harapan. Bunga aster putih melambangkan kepolosan; sedangkan bunga aster merah muda melambangkan kekaguman, kasih sayang, atau pemujaan yang lembut. Selain itu, bunga ini juga diasosiasikan dengan kesetiaan, cinta, kesederhanaan, kerendahan hati, dan kemampuan untuk menyimpan rahasia.
Beberapa varietas bunga aster tidak terlalu beracun bagi manusia, tetapi sangat beracun bagi kucing.
Pikiran Tersembunyi Lili Kodok tentang Kesetiaan dalam Persahabatan
Bunga yang muncul berikutnya adalah lili kodok (Tricyrtis hirta), atau disebut Hototogisu (ホトトギス) dikarenakan tanda pada kelopaknya mirip dengan yang ada di dada burung kuku kecil. Bunga ini muncul dalam anime Kusuriya no Hitorigoto serta dijadikan lagu pengantar tidur "Kuku Kecil" yang dinyanyikan oleh seorang wanita kupu-kupu malam dalam episode 8, pun Fengxian yang muncul dalam episode 23 memiliki nama yang sama dengan bunga ini.
Dalam hanakotoba, bunga lili kodok melambangkan kesetiaan, persahabatan, pikiran tersembunyi, dan "selamanya milikmu." Sementara, dalam floriografi Barat, bunga ini melambangkan keanggunan, keindahan, dan kesuburan. Dalam agama Buddha, bunga lili kodok melambangkan kebijaksanaan, kekuatan, serta kasih sayang.
Meskipun bunga lili kodok tidak dianggap sangat beracun, bunga ini beracun bagi kucing.
Cinta Nandina yang Makin Bersemi dan Harapan untuk Tolak Segala Malapetaka
Bunga berikutnya adalah Nandina (Nandina domestica), atau disebut Nanten (南天), atau bambu surgawi; meskipun dinamai ‘bambu’, tapi tanaman ini sebenarnya bukan bambu, melainkan semak semi-hijau. Adanya buah beri berwarna merah cerah merupakan pembeda utama tanaman ini. Tanaman ini muncul dalam episode 9, tetapi digambarkan sebagai buah, bukan bunga.
Nandina memiliki hanakotoba yang melambangkan "keluarga yang baik" serta "cintaku yang baru saja bersemi." Tanaman ini miliki bunga-bunga putih kecil di awal musim panas sebelum menumbuhkan buah-buah mungil yang berangsur-angsur memerah saat musim dingin mendekat, sehingga memunculkan representasi simbolisnya sebagai "cintaku semakin dalam."
Selain itu, simbolisme Nandina tentang "keluarga yang baik" berasal dari buah-buahnya yang melimpah, yang ditafsirkan sebagai simbol kemakmuran bagi keturunan siapa saja. Pada Hari Tahun Baru, tanaman ini dianggap layaknya pohon keberuntungan untuk menangkal malapetaka; dan, dikarenakan bunga Nandina dipercaya sebagai jimat keberuntungan di Jepang, membuat tanaman ini sering kali jadi hadiah pindah rumah yang populer.
Meskipun memiliki makna positif, bunga Nandina sangat berbahaya bagi burung dan mamalia. Namun, bunga ini secara umum dianggap tidak beracun bagi manusia.
Racun Mematikan Azalea di Balik Petualangan Penuh Cinta dan Gairah
Bunga berikutnya adalah azalea jingga (Rhododendron japonicum), atau renge tsutsuji (蓮華躑躅), yang muncul pada episode 11 anime Kusuriya no Hitorigoto. Selain indah dan cantik, azalea dikenal karena bunga ini sangat beracun. Bunga ini mengandung andromedotoksin dalam daun dan nektarnya. Mengingat nektarnya sama berbahayanya, peternak lebah Jepang menghindari pengumpulan madu selama musim berbunga di daerah tempat ia tumbuh secara alami.
Dalam hanakotoba, bunga-bunga ini disebut-sebut melambangkan kesabaran dan kesederhanaan. Azalea jingga melambangkan vitalitas, gairah, kegembiraan, dorongan, petualangan, dan penemuan; sementara azalea merah melambangkan cinta, keindahan, gairah, dan hasrat, serta keuletan dan pembangkangan seorang wanita. Sedangkan, dalam floriografi Barat, azalea melambangkan kesederhanaan, kehati-hatian, cinta, gairah, dan romansa. Selain itu, azalea dapat melambangkan cinta yang rapuh karena bunganya mudah terlepas dari tangkainya saat disentuh sedikit saja. Akibatnya, bunga ini digunakan untuk menandakan cinta yang rapuh yang masih dapat bertahan menjadi cinta yang langgeng.
Karena azalea melambangkan kesederhanaan, yang mengacu pada pengendalian diri—terutama saat dihadapkan dengan godaan—bunga ini dianggap sebagai representasi dari moderasi atau keseimbangan berbagai elemen dalam kehidupan seseorang.
Namun, sebab racun yang dimilikinya, dalam budaya tertentu, memberi seseorang buket azalea dalam vas hitam dianggap sebagai sebuah ancaman kematian.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah