Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Fenomena Self Diagnosis Mulai Merambah Media Sosial, Ini Penjelasan Dokter Mengapa Itu Berbahaya

Alberta Dionny Natanuel • Rabu, 13 November 2024 | 14:00 WIB

Ilustrasi Fenomena Self Diagnosis
Ilustrasi Fenomena Self Diagnosis

JawaPos.com - Seiring makin canggihnya teknologi, alat komunikasi dan internet semakin luas pula kemampuan kita untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan. Entah itu informasi mengenai suatu benda, lokasi, seseorang, atau dalam kasus ini kesehatan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya fenomena self diagnosis.

Dilansir dari Halodoc, self diagnosis adalah usaha mendiagnosa diri sendiri atas gangguan atau penyakit yang didasari informasi yang didapatkan secara mandiri. 

Padahal orang-orang yang melakukan self diagnosis ini sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang medis. 

Mengutip Charlie Health, Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological Association / APA) mendefinisikan diagnosis sebagai proses mengidentifikasi dan penetapan asal-usul penyakit atau gangguan dari gejala dan pertanda yang ada, melalui teknik-teknik pemeriksaan atau bukti-bukti yang sudah ada. 

Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa self diagnosis tidak memenuhi proses yang benar untuk dianggap diagnosis tepat. 

Karena makin pesatnya penyebaran informasi dan hiburan melalui internet sekarang ini, isu kesehatan mental menjadi pusat perhatian dan fokus masyarakat, terutama saat masa pandemi.

Fenomena self diagnosis mengenai penyakit mental sering terjadi pada anak-anak muda Generasi Z karena mereka menerima beban kenyataan yang mereka belum siap terima. 

Baca Juga: Simak Enam Ciri Perempuan Yang Gemar Pakai Baju Warna Hitam Menurut Psikologi Warna, Mulai Tangguh dan Percaya hingga Mandiri serta Formal

Serta makin canggih pula gawai anak-anak jaman sekarang yang bisa mereka gunakan untuk mencari informasi mengenai gejala-gejala penyakit mental. Semakin tua usia mereka, semakin lama waktu yang mereka habiskan untuk menggunakan gawai mereka. 

Selain itu, konten tentang kesehatan mental juga makin bertambah banyak dan makin populer dengan penggunaan tagar-tagar mereka. Awalnya digunakan sebagai konten edukasi dan membagikan pengalaman hidup mereka dengan kondisi mental mereka. 

Akan tetapi, makin lama konten-konten yang beredar makin kurang tepat dan jauh dari kenyataan. 

Dilansir dari Life Adjustment Team, self diagnosis kesehatan mental dapat berbahaya pula. Tanpa diagnosa yang benar, seseorang dapat mencoba untuk mengkonsumsi obat-obatan yang seharusnya tidak mereka konsumsi. Sehingga mereka malah memperburuk kondisi mereka sendiri. 

Selain itu self diagnosis justru memicu stres dan kecemasan yang tinggi. Kondisi ini malah membuat pelaku self diagnosis menjadi terlalu cemas dan depresi, hingga mencoba mengakhiri diri. 

Kondisi tersebut terjadi karena ketakutan yang dialami saat mencari informasi-informasi tersebut, antara ketakutan akan kebenaran diagnosanya atau diagnosa yang salah yang membuatnya bingung. 

Apabila anda merasa memiliki gangguan atau penyakit mental, sangat penting untuk mencari bantuan ke profesional dengan lisensi medis. Dengan begitu, kita akan mendapatkan diagnosa yang benar dan mendapatkan bantuan yang terbaik untuk kita. 

Perlu diketahui bahwa tidak semua penyakit mental dapat didiagnosa hanya dengan gejala-gejala yang terlihat. Ada beberapa penyakit mental yang terjadi karena permasalahan eksternal, seperti adiksi dan kekerasan. 

Lalu ada beberapa penyakit mental yang dapat mengancam nyawa, sehingga membutuhkan perhatian dari para dokter. Contohnya adalah gangguan psikotik seperti skizofrenia yang akan mengalami delusi dan halusinasi. 

Baca Juga: 10 Ciri Unik Pendengar Lagu Berulang yang Itu-Itu Aja, Temukan Psikologi Menarik di Balik Kebiasaan Ini

 
Editor : Hendra
#self diagnosis #kesehatan