Senin, 3 Agustus 2026
Logo

Duet KH Imam Jazuli dan KH Asep Dinilai Jadi Poros Jabar dan Jatim di Muktamar NU ke-35

Jumat, 2 Jan 2026 | 10:19 WIB
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika kepemimpinan organisasi Islam terbesar di dunia ini menuntut arah baru yang lebih substansial. (Dok. IST)
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika kepemimpinan organisasi Islam terbesar di dunia ini menuntut arah baru yang lebih substansial. (Dok. IST)

*)


Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika kepemimpinan organisasi Islam terbesar di dunia ini menuntut arah baru yang lebih substansial.

Di tengah tantangan disrupsi global dan target Indonesia Emas 2045, NU membutuhkan nakhoda yang tidak hanya paham administrasi, tetapi memiliki akar kuat pada jati diri aslinya: Pesantren.

Duet calon KH. Imam Jazuli, Lc., M.A. (Pengasuh Pesantren Bina Insun Mulia, Cirebon) sebagai Ketua Umum Tanfidziyah dan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. (Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya & Pacet) sebagai calon Rais Aam, muncul bukan sekadar sebagai alternatif, melainkan sebagai jawaban atas kegelisahan basis massa akar rumput.

Berikut adalah sejumlah alasan mengapa duet ini merupakan pasangan ideal untuk memimpin PBNU periode berikutnya.

Pertama, Rekonsiliasi Historis: Mengembalikan NU sebagai Rumah Besar Pesantren.

Secara ontologis, NU lahir dari rahim pesantren. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, ada kesan pergeseran di mana struktur NU lebih didominasi oleh teknokrat dan politisi murni. Duet KH. Imam Jazuli dan Prof. Asep adalah upaya “pulang ke rumah.”

KH. Imam Jazuli memimpin salah satu pesantren dengan pertumbuhan tercepat dan santri terbanyak di Jawa Barat. Sementara itu, Prof. Asep mengelola puluhan ribu santri di Jawa Timur—salah satu yang terbesar di Indonesia setelah Gontor. Memilih mereka berarti memastikan bahwa kebijakan PBNU ke depan akan selalu berbasis pada kepentingan santri dan nahdliyin (umat), bukan sekadar kepentingan elite organisasi.

Kedua, Transformasi SDM: Visi Pendidikan Menuju Indonesia Emas.

Alasan paling kuat dari pasangan ini adalah bukti nyata (proven track record) dalam memodernisasi pendidikan pesantren tanpa kehilangan nilai salafnya. Keduanya adalah arsitek pendidikan yang visioner. Bina Insan Mulia di bawah asuhan KH. Imam Jazuli dikenal mampu meloloskan alumninya ke berbagai universitas ternama di luar negeri (Eropa, Timur Tengah, Australia).

Amanatul Ummah di bawah Prof. Asep secara konsisten mencetak lulusan yang menembus fakultas kedokteran dan universitas favorit di dalam maupun luar negeri. Di tangan beliau berdua NU akan memiliki cetak biru (blueprint) pendidikan yang kompetitif secara global, menyiapkan SDM unggul untuk menjemput bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045.

Ketiga, Keseimbangan Geopolitik dan Geografis: Poros Jabar-Jatim

Dalam sosiologi politik NU, keterwakilan wilayah adalah kunci stabilitas. Setelah periode kepemimpinan dari Jawa Tengah, saatnya terjadi rotasi kepemimpinan yang adil. KH. Imam Jazuli merepresentasikan Jawa Barat—wilayah dengan pertumbuhan pemilih dan jamaah NU yang dinamis. Prof. Asep merepresentasikan Jawa Timur—basis tradisional dan jantung kekuatan NU.
Duet Jabar-Jatim ini menciptakan keseimbangan “dua kutub” yang akan menyatukan kekuatan kultural dan struktural NU di tanah Jawa secara komprehensif.

Keempat, Kemandirian Ekonomi dan Independensi Organisasi.

Salah satu masalah klasik organisasi besar adalah ketergantungan pada donatur atau tekanan politik. Duet ini telah “selesai dengan dirinya sendiri” secara ekonomi. Sebagai pengasuh pesantren yang sukses dan mandiri, mereka tidak akan menjadikan NU sebagai alat untuk mencari penghidupan atau posisi politik praktis.

Hal ini sangat krusial bagi posisi NU sebagai elemen Civil Society. Dengan kemandirian ekonomi, PBNU di bawah mereka akan berani mengambil jarak yang proporsional dengan pemerintah—menjadi mitra kritis yang sehat (balance of power) demi menjaga kepentingan umat, bukan sekadar menjadi “stempel” kebijakan.

Kelima, Integrasi Jalur Langit: Kekuatan Tirakat dan Tradisi

NU bukan organisasi sekuler. Kekuatan NU terletak pada barakah dan riyadhah. Keduanya adalah praktisi “jalur langit”. KH. Imam Jazuli dikenal sebagai pengamal dan penggerak Dalailul Khairat, sementara Prof. Asep dikenal dengan kekuatan sedekah dan shalat malamnya yang luar biasa. Kepemimpinan yang menggabungkan kecanggihan manajerial dengan spiritualitas yang dalam adalah apa yang dibutuhkan untuk menjaga marwah organisasi para ulama ini.

Enam, Duet Progresif-Sepuh: Harmoni Idealisme dan Kebijaksanaan

Secara demografis, pasangan ini adalah kombinasi sempurna antara energi muda yang progresif dan kearifan kiai sepuh. Keduanya sudah berpengalaman dan menjadi aktifis sejak muda. KH. Imam Jazuli adalah sosok intelektual muda yang tajam, berani melakukan terobosan, dan memiliki pengalaman di RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) PBNU.

Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim adalah kiai alim, tenang, namun eksekutor yang handal (terbukti memimpin PERGUNU dengan sangat aktif). Kombinasi ini akan menghasilkan kepemimpinan yang dinamis dalam aksi, namun tetap terkendali dalam koridor akhlak dan ilmu yang mendalam.

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika kepemimpinan organisasi Islam terbesar di dunia ini menuntut arah baru yang lebih substansial. (Dok. IST)
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika kepemimpinan organisasi Islam terbesar di dunia ini menuntut arah baru yang lebih substansial. (Dok. IST)

Ketujuh, Ada Kedekatan Khusus dengan Tokoh Kunci.

Baik Kiai Imam Jazuli maupun Prof. KH. Asep memiliki kelebihan yang saling melengkapi. Salah satu poin penting adalah kedekatan khusus mereka dengan tokoh-tokoh kunci dan partai politik; Kiai Asep memiliki kedekatan khusus baik dengan Jokowi maupun Prabowo, sementara Kiai Imam memiliki kedekatan khusus dengan PKB dan partai nasionalis.

Keduanya dipandang sebagai pemikir sekaligus eksekutor yang efektif. Selain itu, baik Kiai Asep maupun Kiai Imam secara konsisten membagikan pemikiran mereka—yang dapat didengar dan dilihat melalui tulisan-tulisan mereka—serta memiliki visi yang jelas tentang masa depan Pesantren, NU dan Indonesia.

Muktamar ke-35 adalah momentum krusial. Memilih duet KH. Imam Jazuli dan Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim bukan hanya soal memilih figur, melainkan memilih arah masa depan NU yang mandiri, berakar pada pesantren, dan unggul dalam peradaban global. Inilah pasangan yang akan membawa NU kembali ke jati dirinya: dari pesantren, oleh kiai, untuk umat dan dunia.

*Moh Rusdiyanto, Pengamat Isu-Isu Sosial dan Anggota JNPK (Jaringan Nasional Penegak Khittah) NU.

 

Editor : Hendra
Bagikan:

Artikel Terkait

Opini: Menyelamatkan NU, Merawat Rahim - Catatan Reflektif dari Halal Bihalal IKA PMII 2026

Opini: Menyelamatkan NU, Merawat Rahim - Catatan Reflektif dari Halal Bihalal IKA PMII 2026

Ketika Cak Imin, Nusron Wahid, dan Prof. Nasaruddin Umar berada dalam satu frekuensi, kita tahu ada sesuatu yang besar sedang dirajut. Tema besarnya jelas: Menyelamatkan NU.

Presiden Singgung Keretakan Elit PBNU: Pemimpin Tak Rukun, Bangsa dan Organisasi Tak Akan Kuat

Presiden Singgung Keretakan Elit PBNU: Pemimpin Tak Rukun, Bangsa dan Organisasi Tak Akan Kuat

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato bernada tegas dalam Mujahadah Kubro Nahdlatul Ulama di Malang, Minggu (8/2/2026).

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Jawa Pos Digitalhttps://digital.jawapos.com
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia