Senin, 3 Agustus 2026
Logo

Opini: Menyelamatkan NU, Merawat Rahim - Catatan Reflektif dari Halal Bihalal IKA PMII 2026

Senin, 20 Apr 2026 | 21:22 WIB
Ilustrasi - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Ilustrasi - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Oleh: KH Imam Jazuli Lc., MA*

JawaPos.com - Minggu malam, 19 April 2026, Grand Mercure Kemayoran menjadi saksi bisu. Bukan sekadar halal bihalal biasa. Aroma "konsolidasi" tercium lebih kuat daripada aroma hidangan Lebaran. Di sana, berkumpul para alumni PMII—mereka yang menancapkan pengaruh di berbagai lini, dari partai politik hingga kabinet pemerintahan.

Ketika Cak Imin, Nusron Wahid, dan Prof. Nasaruddin Umar berada dalam satu frekuensi, kita tahu ada sesuatu yang besar sedang dirajut. Tema besarnya jelas: Menyelamatkan NU.

Membaca fenomena ini, pikiran saya melayang pada pepatah lama: "Anak nakal sekalipun, jika rumah orang tuanya terbakar, ia akan lari pulang memadamkan api." IKA PMII sedang melakukan hal itu.

"Kegagalan" dan Panggilan Hati

Cak Imin, dengan gaya khasnya yang santai tapi menohok, tidak menutupi fakta. Ada kegagalan pada era kepemimpinan PBNU saat ini. Ini bukan tudingan kosong. Saat kepemimpinan NU terasa menjauh dari akar rumput, atau bahkan menjadi bagian dari problem alih-alih solusi, nurani alumni PMII terusik.

Bagi saya, pernyataan ini adalah refleksi jujur. Mengabdi di PMII bukan sekadar pernah ikut Mapaba (masa penerimaan anggota baru), tapi soal panggilan hati. Saat PMII—anak intelektual NU—melihat "ibu kandungnya" (PBNU) membutuhkan arah baru, diam adalah pengkhianatan. Muktamar Agustus 2026 bukan sekadar suksesi, tapi moment of truth untuk perbaikan bersama.

Logika Nusron: Saatnya "Anak" Bicara

Nusron Wahid menyampaikannya dengan lebih lugas, gaya khas seorang troubleshooter. Logikanya sederhana namun telak: Kalau alumni organisasi lain saja repot-repot memikirkan NU, kenapa alumni PMII yang lahir dari rahim NU justru diam? 

Bahkan secara pribadi, Nusron telah mengakui kesalahannya atas kepemimpinan NU hari ini, karena dia terlibat sebagai Timsesnya, untuk itu dia minta maaf, lahir dan batin, serta berjanji tidak akan mengulanginya. 

Editor : Hendra
Bagikan:

Artikel Terkait

5 Weton Spesial yang Diramal Meraih Kekuasaan atas Harta dan Kehormatan Menurut Ilmu Titen Jawa

5 Weton Spesial yang Diramal Meraih Kekuasaan atas Harta dan Kehormatan Menurut Ilmu Titen Jawa

Lima weton istimewa menurut ilmu titen Jawa yang ditakdirkan menjadi penguasa harta dan kehormatan. Apakah weton Anda termasuk calon miliarder masa depan?

Presiden Singgung Keretakan Elit PBNU: Pemimpin Tak Rukun, Bangsa dan Organisasi Tak Akan Kuat

Presiden Singgung Keretakan Elit PBNU: Pemimpin Tak Rukun, Bangsa dan Organisasi Tak Akan Kuat

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato bernada tegas dalam Mujahadah Kubro Nahdlatul Ulama di Malang, Minggu (8/2/2026).

Muktamar NU di Tambakberas Wujud Cita-Cita Gus Yahya, Pemilihan Ponpes Bahrul Ulum Dinilai Sarat Makna Historis

Muktamar NU di Tambakberas Wujud Cita-Cita Gus Yahya, Pemilihan Ponpes Bahrul Ulum Dinilai Sarat Makna Historis

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengaku lega karena cita-citanya menggelar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur,

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Jawa Pos Digitalhttps://digital.jawapos.com
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia