JawaPos.com – Di setiap sudut wilayah Indonesia terdapat beragam tempat yang menyimpan banyak sejarah. Bangunan pemerintahan, benteng, candi, dan tempat beribadah merupakan beberapa contoh tempat peninggalan bersejarah yang tersebar di penjuru Indonesia.
Tempat beribadah menjadi satu dari banyaknya tempat bersejarah di Indonesia yang menyimpan banyak cerita di dalamnya. Dari beragamnya tempat beribadah, di Tangerang Selatan (Tangsel) tersebar tiga vihara yang menyimpan banyak sejarah, salah satunya Vihara Boen Hay Bio.
Vihara Boen Hay Bio atau Vihara Karuna Jala merupakan tempat beribadah umat beragama Buddha yang terletak di Tangerang Selatan. Lebih spesifik vihara ini berlokasi di Jl. M Arohim No.45, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Nama Vihara Boen Hay Bio memiliki makna Samudera Tanpa Batas. Didirikan pada tahun 1694 menjadikan vihara ini menjadi salah satu vihara tertua di Tangsel dengan usia yang sudah mencapai 330 tahun atau hampir tiga setengah abad.
Baca Juga: Cek dan Ricek Empat Spot Cozy Berikut Ini Untuk Penggemar Work From Cafe (WFC) di Tangerang Selatan
Vihara Boen Hay Bio memiliki arsitektur yang cukup unik, pada gerbang pintu masuk vihara terdapat ornamen kepiting berwarna hijau yang cukup mencolok. Dalam budaya Tionghoa, ornamen kepiting dipercaya dapat melindungi kuil dan dapat mengusir roh-roh jahat.
Disebutkan sebelumnya bahwa Vihara Boen Hay Bio merupakan salah satu dari tiga vihara tertua di Tangsel, dua vihara lainnya yaitu Vihara Boen Tek Bio dan Vihara Boen San Bio. Ketiga vihara tersebut merupakan satu kesatuan tempat beribadah umat Tionghoa.
Mengutip dari Tangselife.com, Ketua pengurus Vihara Boen Hay Bio, Tatang Yong Fendi menjelaskan bahwa dari ketiga vihara yang ada di Tangsel, Vihara Boen Hay Bio dijelaskan sebagai menghadap ke laut. Itulah mengapa pada gerbang pintu masuk vihara terdapat ornamen kepiting di atasnya, karena kepiting merupakan hewan laut yang dipercaya dapat melindungi Vihara Boen Hay Bio.
Tatang juga menceritakan asal mula didirikannya Vihara Boen Hay Bio. Diawali dengan pelarian warga etnis Tionghoa ke daerah Batavia atau yang saat ini dikenal sebagai Jakarta. Kerusuhan yang terjadi pada masa kolonial membuat warga etnis Tionghoa melakukan pelarian.
Selanjutnya, ketika kondisi sudah mulai aman, awalnya warga Tionghoa hendak kembali ke daerah asalnya. Namun karena merasa aman dan nyaman dengan tempat singgah, akhirnya warga Tionghoa memutuskan untuk menetap di tempat tersebut.
Setelah memutuskan untuk singgah karena merasa aman dan nyaman, pembangunan vihara terus dilakukan dan hingga saat ini menjadi tempat beribadah umat beragama Buddha. Dilengkapi dengan 12 altar, masyarakat yang beragama Buddha dapat melakukan ibadah mereka di Vihara Boen Hay Bio.
Tidak hanya sebagai tempat ibadah bagi umat Buddha, vihara ini juga dapat dikunjungi oleh masyarakat. Selain itu sebagai bentuk bakti sosial Vihara Boen Hay Bio, pengurus vihara membagikan sembako, pengobatan gratis, serta memberikan bantuan bagi masyarakat Tangsel yang ingin belajar Bahasa Mandarin.
Editor : Hendra