Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Charles De Gaulle: Sang Penyelamat yang Membawa Perancis ke Era Keemasan

Viandra Rizqi • Rabu, 5 Maret 2025 | 18:00 WIB

Charles de Gaulle sebagai Presiden Perancis (Dok. Elysee)
Charles de Gaulle sebagai Presiden Perancis (Dok. Elysee)
JawaPos.com - Sepanjang sejarahnya, Perancis telah menghasilkan berbagai tokoh yang sangat berpengaruh di dunia. Tokoh-tokoh itu berasal dari berbagai bidang seperti politik, militer, sosial, ekonomi, filsafat, dan sebagainya. Sebutkan saja tokoh-tokoh asal Perancis seperti Napoleon Bonaparte, Voltaire, Claude Monet, Louis XIV, Rene descartes, dan masih sangat banyak lagi.

Namun, ada satu tokoh Perancis yang mungkin sedikit jarang terkenal di telinga masyarakat Indonesia, tetapi memiliki kontribusi yang sangat signifikan bagi negerinya. Beliau adalah Jenderal yang menyelamatkan Perancis saat Perang Dunia II, menjabat sebagai Presiden Perancis pada era 1960-an, dan mengubah sejarah dunia selamanya. Dia adalah Charles de Gaulle. 

Charles De Gaulle lahir pada 22 November 1890 di Kota Lille, Perancis. Dilansir dari laman kantor resmi Kepresidenan Perancis elysee.fr, dia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Orang tua yang berprofesi sebagai pengacara di Paris. Kemudian De Gaulle menempuh pendidikan dasarnya di paroki Saint-Thomas-d'Aquin, pada tahun 1905 dia pun melanjutkan dan menyelesaikan pendidikannya di Belgia setelah muncul nya pelarangan pendidikan religius di Perancis.

Pada tahun 1908, De Gaulle muda berhasil diterima masuk ke akademi militer St Cyr setelah satu tahun persiapan di College Stanislas. De Gaulle tetap berada di akademi tersebut sebelum akhirnya lulus pada tahun 1912 dan bergabung ke Resimen Infanteri ke-33 yang berbasis di Kota Arras dibawah pimpinan Kolonel Philippe Petain (yang kemudian menjadi Pahlawan Verdun). Di saat yang bersamaan dengan mencuatnya karier dan kehidupan De Gaulle, kondisi geopolitik dunia sedang tidak stabil dan hanya dua tahun kemudian meletuslah Perang Dunia I.

Mulainya perang menjadi titik balik kehidupan bagi seorang Charles De Gaulle. Dilansir dari britannica.com, De Gaulle dipromosikan menjadi letnan dua pada tahun 1913 dan ketika perang berkecamuk terhadap Jerman dia ikut melindungi Kota Verdun dengan gagah berani pada tahun 1916. Pada pertempuran itu juga, De Gaulle mengalami luka sebanyak tiga kali dan menyebabkannya menjadi tawanan perang hingga perang usai pada 1918. 

Setelah perang dunia pertama berakhir, De Gaulle menikah dengan Yvonne Vendroux dan memiliki tiga anak, memulai misi militer Perancis di Polandia, mengajar sekolah militer di St Cyr selama setahun, dan dipromosikan menjadi Mayor pada tahun 1927. Pada tahun itu juga, De Gaulle ikut bertugas sebagai pasukan Perancis yang menduduki kawasan Rhineland di Jerman. Dia kemudian menyadari bahaya potensi Jerman dalam melakukan perang kembali dan menyadari pertahanan Perancis yang dianggap lemah.

Kesadaran De Gaulle terbukti benar ketika Perang Dunia II meletus pada 1939. De Gaulle yang sudah berhasil menjadi kolonel kemudian dipromosikan lagi menjadi Brigadir Jenderal dan menjadi komandan Divisi Lapis Baja ke-4. Di bawah pimpinannya, tank-tank Perancis bertempur dengan gagah berani terhadap pasukan Jerman yang menyerang Tanah Airnya namun Perancis akhirnya berhasil dikuasai oleh Jerman pada Juni 1940.

De Gaulle kemudian mengungsi ke Inggris dan membuat pidato 18 Juni yang terkenal dimana dia menyerukan rakyat Perancis untuk terus berperang melawan Jerman di bawah pimpinannya. Dan benar saja sisa rakyat Perancis yang terlibat dalam pergerakan perlawanan atau resistance dan sisa Pasukan Perancis yang mengungsi ke Inggris melanjutkan perang terhadap Jerman. Dilansir dari biography.com, De Gaulle memang menjadi pemimpin yang efektif dan karismatik sehingga dia banyak mengajukan tuntutan kepada para pemimpin sekutu lainnya yang menganggap dia arogan, terutama oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Franklin D. Roosevelt.

Pada tahun 1944, Perancis berhasil dibebaskan dari pendudukan Jerman yang kemudian mengantarkan mereka kepada kekalahan pada tahun berikutnya. Perancis menjadi salah satu pemenang Perang Dunia II dan berhasil mendapatkan kursi tetap di dewan keamanan PBB bersama AS, Uni Soviet, Inggris, dan Tiongkok. Di tahun 1945 juga, De Gaulle diangkat menjadi Presiden pemerintahan sementara Prancis sebelum akhirnya mengundurkan diri pada tahun berikutnya.

Dekade 1950-an merupakan waktu yang penuh konflik dan instabilitas bagi Perancis dan bahkan sudah berada diambang perang saudara. Kekalahan perang terhadap Vietnam, pemberontakan kemerdekaan di Algeria membuat pemerintah Perancis memanggil De Gaulle sekali lagi menjadi juru selamat Perancis. De Gaulle menjadi Presiden Perancis pada Januari 1969 dan akan mengantarkan Perancis kembali kepada kejayaannya.

Tes nuklir pertama Perancis di Algeria, 1960 (Dok. DW/AFP)
Tes nuklir pertama Perancis di Algeria, 1960 (Dok. DW/AFP)
Dalam setahun menjabat, De Gaulle berhasil menjadikan Perancis sebagai negara keempat di dunia yang memiliki nuklir pada Februari 1960. Selain itu, dia juga memberikan Algeria kemerdekaan dari Perancis pada 5 Juli 1962 yang dimana menyebabkan dia hampir tewas dibunuh oleh OAS (kelompok sayap militer Perancis yang menentang kemerdekaan Algeria). Dia, istri, dan sopirnya selamat ketika mobil Citroen DS yang ditumpanginya berhasil kabur dengan kecepatan tinggi meskipun banyak bocor karena tembakan. Aksi pembunuhan gagal ini kemudian diabadikan dalam film The Day of The Jackal (1973). 

Citroen DS yang ditumpangi oleh De Gaulle (Dok. Wikimedia Commons)
Citroen DS yang ditumpangi oleh De Gaulle (Dok. Wikimedia Commons)

Setelah upaya pembunuhan itu, De Gaulle semakin bersemangat dan berhasil mengantarkan Perancis ke era keemasan yang baru serta memiliki kebijakan luar negeri yang lebih independen dibandingkan negara Eropa Barat lainnya. Tahun 1964, Perancis membuka hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok, dua tahun kemudian dia mengeluarkan Perancis dari komando militer terpadu aliansi NATO. Dilansir dari diplomatie.gouv.fr, langkah ini dilakukan guna mengubah bentuk aliansi tanpa mengubah substansinya dan tidak mengurangi komitmen Perancis pada aliansi tersebut.

Ekonomi Perancis pun juga meroket di bawah kepemimpinan De Gaulle. Dilansir dari time.com, mata uang Franc Perancis berhasil menjadi mata uang yang stabil dan solid untuk pertama kalinya dalam 50 tahun. Selanjutnya, dia juga berhasil mengantarkan ekspor industri Perancis meningkat sebanyak 3 kali lipat, dimana ekspor agrikultur meningkat sebanyak hampir 4 kali lipat. Langkah cemerlang De Gaulle dalam perekonomian menjadikan Ekonomi Perancis lebih besar daripada Inggris setelah beberapa dekade lamanya.

Memasuki tahun 1968, Perancis mulai dilanda dengan demonstrasi oleh mahasiswa yang menganggap pemerintahan De Gaulle terlalu konservatif dan otoriter. De Gaulle mengundurkan diri sebagai Presiden Perancis pada tahun 1969 setelah para mahasiswa menolak proposal reformasinya. Dia kemudian digantikan oleh Georges Pompidou lau menghabiskan sisa waktunya ke tempat tinggal dia di Colombey les Deux Eglises dan menghabiskan waktunya menulis memoar tentang dirinya.

Pemakaman Nasional De Gaulle di Notre Dame, 1970 (Dok. L
Pemakaman Nasional De Gaulle di Notre Dame, 1970 (Dok. L

Charles De Gaulle menghembuskan napas terakhirnya pada 9 November 1970 pada usia 79 tahun. Dia dikubur dengan upacara yang sederhana di Colombey, namun Presiden Pompidou mengadakan pemakaman nasional yang dihadiri oleh Presiden Nixon dari AS, Pangeran Charles (sekarang Raja Charles III) dari Inggris, dan hampir 100 delegasi dunia lainnya.

Sampai hari ini, nama Charles De Gaulle banyak diabadikan dalam berbagai objek di Perancis seperti Bandara Internasional Charles De Gaulle di Paris, Kapal Induk nuklir Charles De Gaulle, dan masih banyak lainnya serta peninggalan yang sangat kokoh di dunia. 

Editor : Candra Mega Sari
#sejarah #Presiden Perancis #perancis #Charles de Gaulle