JawaPos.com - Dewasa ini makin merebak sebuah fenomena bernama boyfriend application di Indonesia. Awalnya, fenomena ini dimulai dari tren di mana banyak wanita membuat sebuah lamaran atau aplikasi untuk mencari pasangan yang sesuai dengan kriterianya.
Kebanyakan format lamaran menyertakan informasi pribadi para pelamar, seperti nama, usia, pekerjaan, domisili, hobi, tinggi badan, dan berbagai informasi lainnya yang mereka ingin ketahui. Namun, seringkali juga dilakukan dengan menyertakan foto postingan bahwa mereka ingin mencari pacar dan mendeskripsikan kriteria yang dicari, berharap para laki-laki menghubungi mereka terlebih dahulu.
Baru saja di platform media sosial X, ditemukan seorang pria asal Tangerang Selatan yang menawarkan boyfriend application di akunnya. Sosok laki-laki bernama Dey dengan pekerjaan sebagai karyawan ini mengaku kerap diberi label sombong, padahal sebenarnya memiliki kepribadian yang baik dan mudah tertawa terhadap hal kecil.
"Suka dibilang sombong, padahal aslinya humble bngt dan sereceh itu," tulis Dey di akun X-nya @cowokkalem0, Sabtu (12/10).
Dey yang berdomisili di Tangsel dan berzodiak aquarius ini memiliki hobi memasak, tidur, dan bernyanyi meskipun memiliki suara yang tidak begitu bagus. "Masak, tidur, nyanyi, walau suara fals," lanjut Dey.
Hingga berita ini dimuat, akun pria berkumis ini sudah dilihat 1363 viewers, di repost sekali, dan mendapatkan tiga komentar.
Fenomena ini tentunya menjadi sebuah topik pembicaraan yang menuai pro dan kontra di media sosial. Beberapa orang mendukung dengan alasan bahwa tren tersebut merupakan cara efektif untuk mencari pasangan, tetapi terdapat yang kontra mengatakan bahwa tren ini tidaklah serius dan kebanyakan justru setelah dihubungi tidak akan ada jawaban, hanya membuang-buang waktu.
Tren ini memiliki kemiripan dengan pemanfaatan aplikasi kencan yang digunakan oleh banyak orang, perbedaanya hanya terdapat dalam media yang digunakan. Perubahan cara mencari pasangan disebabkan oleh adanya globalisasi yang mengakibatkan kemajuan teknologi.
Dilansir dari teori Habitus sosiolog Pierre Bordieau (2009:13), menyatakan bahwa suatu disposisi (kecenderungan sikap) dapat berlangsung dalam jangka waktu lama dan dapat mengalami suatu perubahan. Dalam hal ini, perubahan globalisasi menyebabkan terus terciptanya hal baru yang membuat banyak perubahan dalam hidup. Perubahan tersebut mencakup tradisi, budaya, dan nilai. Salah satunya adalah cara mencari pasangan.
Seperti yang diketahui, cara seseorang dalam mencari pasangan adalah memanfaatkan relasi sosial, baik dari teman, kelompok, atau komunitas berbeda-beda. Banyaknya relasi yang dimiliki akan memudahkan pencarian pasangan yang dituju.
Pencarian tersebut dapat dilakukan dengan mudah melalui media sosial yang kini dimodifikasi menjadi suatu tren berupa boyfriend application.
Namun, yang menjadi perhatian apakah tren ini hanyalah fenomena viral sesaat atau memang terbukti menjadi gaya baru untuk mencari pasangan di kalangan Gen-Z? Menarik untuk ditunggu.
*Salma Faiza Pratomoputri, mahasiswi UPN Jakarta tinggal di Tangerang Selatan.
Editor : Hendra