Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Tak Gerah Hadapi Panas, 12 Hewan Tangguh Ini Hidup di Lingkungan Bersuhu Super Panas

Erie Dewangga • Jumat, 11 Oktober 2024 | 06:55 WIB

Seekor unta di padang pasir. (Dok. Pixabay)
Seekor unta di padang pasir. (Dok. Pixabay)

JawaPos.com — Panasnya cuaca saat ini disebabkan karena matahari memang sedang berada tepat di atas Pulau Jawa, yang berada pada zona ekliptika yang ditambah dengan minimnya tingkat pertumbuhan awan pada siang hari. Jadi tak mengherankan kalau suhu udara panasnya terasa sangat tidak umum.

Kita, sebagai manusia, saja sudah mengeluh tak berkesudahan dengan suhu yang menyentuh angka 35°Cbagaimana dengan hewan-hewan yang hidup di tempat-tempat seperti Gurun Sahara atau dekat gunung berapi bawah laut yang suhunya bisa lebih dari 40°C bahkan mendekati titik didih.

Tahukah anda, kalau hewan-hewan yang hidup di sana telah beradaptasi sedemikian rupa sehingga mereka cukup tangguh untuk bisa menghadapi suhu yang panasnya bikin kepala pusing seperti sekarang?

Merekalah yang disebut hewan-hewan termofil, bagian dari organisme ekstremofil yang bisa bertahan hidup di tempat-tempat ekstrem, yang bisa survive di tempat bersuhu super panas.

Penasaran hewan-hewan apa saja, sih, yang berani hidup di tempat-tempat yang bahkan lebih panas daripada nyinyiran tetangga kalian itu? Yuk, kita kenalan dengan mereka satu per satu.

  1. Unta

Dikenal sebagai “kapal gurun”, spesies unta Arab (Camelus dromedarius), mengutip jurnal Britannica, dapat bertahan hidup pada suhu setinggi 49°C dan bertahan seminggu lebih tanpa mengonsumsi air setetes pun.

Bahkan ketika suhu gurun di Afrika utara dan Asia barat daya mencapai derajat tertingginya, melansir situs Stacker, unta Arab hampir tidak berkeringat. Adaptasi mereka yang luar biasa terhadap kehidupan gurun juga mencakup kemampuan untuk menempuh jarak 100 mil tanpa minum; dan ketika mereka menemukan sumber air, unta mampu minum 30 galon air hanya dalam 13 menit. Ditambah unta Arab memiliki punuk tunggal yang terkenal, tempat mereka menyimpan lemak yang dapat mereka ubah menjadi energi saat dibutuhkan. Alis yang tebal dan bulu mata yang panjang membantu mencegah masuknya pasir ke mata mereka, dan mereka dilengkapi dengan bantalan kaki besar yang memungkinkan mereka melangkah di atas pasir dan batu.

Mengutip situs Mongabay, dalam hal konservasi air, unta Arab memiliki sistem pencernaan dan saluran kencing yang istimewa sebab dalam sehari unta Arab hanya mengeluarkan 1,3 liter urin dan feses. Lambung unta juga bisa menyimpan air sampai 20 persen dari berat tubuhnya. Menurut laporan itu, unta bisa minum hingga 110 liter dalam 10 menit. Ginjal unta juga memainkan peran penting dalam menghemat air. Ketika dehidrasi, unta sangat sedikit mengeluarkan urin bahkan seringkali hanya berupa kristal garam.

Baca Juga: Kenalan dengan Hewan Paling Tahan Banting di Dunia yang Bisa Hidup di Ruang Hampa Udara, Tardigrade

  1. Gajah Gurun

Gajah dengan nama ilmiah Loxodonta africana ini berbeda dengan gajah Afrika yang biasanya menyukai air dan menikmati mandi lumpur, populasi yang beradaptasi dengan gurun di Namibia dan Mali ini dapat bertahan hidup dalam kondisi kering dan panas yang mencapai 50°C. Betina dewasa dan anak gajah minum mungkin sekali dalam tiga hari, sementara gajah jantan dapat bertahan hidup lima hari tanpa air.

Gajah memang terkenal karena ingatannya yang panjang, dan ini membantu mereka yang berada di gurun untuk kembali ke sumber-sumber air, di mana mereka mungkin menggunakan belalai dan kaki mereka untuk menggali guna menemukan air di bawah permukaan. Kadang-kadang, gajah gurun berjalan lebih dari 40 mil antara lubang air dan tempat makan. Karena makanan yang langka, unit keluarga mereka lebih kecil daripada gajah yang berkeliaran di sabana yang rimbun.

  1. Semut Gurun Sahara

Bernama latin Cataglyphis bicolor, mengutip situs World Atlas, serangga kecil ini adalah sub-spesies semut yang telah beradaptasi untuk hidup di iklim Gurun Sahara yang ekstrem dengan bertahan hidup dari panas ekstrem dengan makanan terbatas dan tanpa air untuk jangka waktu yang lama.

Tubuh semut ditutupi oleh rambut-rambut perak kecil, membuatnya tampak seperti bola merkuri yang merangkak melalui pasir gurun yang panas. Cara beradaptasi dengan lingkungannya adalah dengan menggunakan cahaya terpolarisasi untuk bergerak dan mengarahkan dirinya sendiri dalam perjalanan jauh untuk mencari makanan sambil menghemat air untuk bertahan hidup dalam perjalanan panjang.

Ia mengatur suhu tubuhnya melalui proses yang disebut regulasi termal, dalam proses ini semut mengubah sudut tubuhnya relatif terhadap matahari untuk mengendalikan paparannya terhadap panas. Rambut khusus pada rangka luar semut memantulkan sinar matahari yang mencegah tubuhnya dari kepanasan. Makhluk kecil ini menghemat air dengan menyimpan air dalam organ khusus yang disebut tembolok.

  1. Kumbang Gelap Gurun Namibia

Meskipun hujan di Gurun Namibia sedikit, setidaknya 30 hari setiap tahunnya dan angin bertiup di atas air dingin di lautan di dekatnya membawa kabut yang dapat mencapai 62 mil ke pedalaman, kumbang bernama latin Stenocara gracilipes ini beradaptasi secara khusus.

Mengutip situs Stacker, kumbang ini termasuk kumbang penjemur kabut, yang memanjat bukit pasir di pagi hari, dan berdiri dengan punggung terangkat, kepala menunduk, sehingga tetesan air terkumpul di tubuhnya untuk kemudian menetes ke mulutnya.

Para ilmuwan telah menemukan kemampuan kumbang ini untuk mengumpulkan air bergantung pada fitur permukaan mikroskopis, yang dapat menghasilkan bahan buatan untuk membantu orang memanen air dari udara, seperti di kamp pengungsian.

  1. Cacing Pompeii

Jauh di bawah permukaan laut yang tak terjangkau sinar matahari, ekosistem unik telah berkembang di sekitar ventilasi hidrotermal yang sangat panas dan kaya mineral yang terbentuk di dekat gunung berapi bawah laut, hiduplah cacing Pompeii yang dapat bertahan hidup pada suhu tinggi. Mereka dapat tumbuh hingga lima inci panjangnya dan berwarna abu-abu pucat dengan insang seperti tentakel merah di kepalanya.

Cacing ini ditemukan di dasar laut dengan suhu nyaris mendidih yang mencapai 80°C, bertekanan tinggi, dan bertebaran bahan kimia beracun. Meskipun kondisi habitatnya cukup keras, makhluk kecil ini telah beradaptasi untuk bertahan hidup di sana. Kemampuan cacing ini untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem seperti itu dikaitkan dengan struktur tubuhnya yang unik di mana kepalanya tetap pada suhu yang lebih dingin daripada ekornya, yang memungkinkannya untuk mengatur suhu tubuhnya dan mencegahnya dari kepanasan. Selain itu, tubuh cacing ditutupi dengan lapisan kitin yang melindunginya dari bahan kimia korosif yang keluar dari ventilasi hidrotermal laut dalam.

Bahkan, melansir situs World Atlas, para ilmuwan telah menemukan bakteri kemosintetik dalam struktur insang khusus cacing Pompeii, yang menunjukkan adanya hubungan simbiosis antara keduanya, di mana bakteri memberi cacing pasokan makanan yang konstan dan cacing mendukung pertumbuhan bakteri ini di dalam insangnya yang seperti tentakel.

  1. Cacing Tabung Raksasa

Hewan yang termofil berikutnya masih termasuk hewan-hewan yang hidup di laut dalam dan masih sama-sama cacing. Yuk, kita kenalan dengan cacing tabung raksasa yang bernama latin Riftia Pachyptila ini!

Melansir situs World Atlas, Riftia pachyptila adalah invertebrata laut yang berkerabat dekat dengan cacing tabung. Mereka tidak memiliki mulut serta saluran pencernaan dan tampak seperti struktur tubular ramping berdiameter 1,6 inci. Mereka juga memiliki bulu branchial berwarna merah cerah yang kaya hemoglobin.

Cacing ini tidak memangsa makhluk laut selain bakteri-bakteri kecil yang kemudian mengubah sulfur menjadi energi mereka.

Dengan tinggi sekitar delapan kaki, cacing ini adalah cacing terberat di dunia yang tumbuh di ventilasi hidrotermal yang ditenagai oleh panas vulkanik dan air yang kaya mineral pada kedalaman 5.000 kaki di Samudra Pasifik. Habitat mereka mirip dengan campuran bahan kimia beracun yang akan berbahaya bagi sebagian besar hewan karena suhu air yang hampir mendidih.

Meskipun habitatnya ekstrem, fitur menarik dari spesies ini adalah fungsi pembawa oksigen yang sangat baik dari hemoglobin pada bulu-bulur merahnya. Kelangsungan hidup mereka dikaitkan dengan hubungan simbiosis dengan bakteri usus kemosintetik mereka.

  1. Cacing Sulfida

Mengutip situs Stacker, cacing bernama ilmiah Paralvinella sulfincola ini, sesuai dengan namanya, hidup di cerobong-cerobong sulfida, tempat di mana air bersuhu super panas dan kaya belerang yang muncul dari ventilasi hidrotermal jauh di Pasifik Barat Laut.

Diet utama cacing ini adalah organisme mikroskopis seperti bakteri. Sementara air di sekitarnya membeku, cacing ini menempel dan tumbuh di tempat-tempat yang suhunya mulai dari 4°C hingga sekitar 65°C.

Cacing ini dapat bertahan di tengah suhu ekstrem karena tubuhnya mengandung sejumlah besar protein kejut panas. Yang menambah tantangan, air yang berada pada saluran ventilasi hidrotermal tersebut kekurangan oksigen tetapi mengandung banyak hidrogen sulfida dan dapat membunuh sebagian besar makhluk bahkan pada suhu normal!

  1. Ikan Paru-paru Afrika Barat

Mengutip situs Stacker, terdapat enam spesies lungfish, ikan yang dianggap sebagai fosil hidup, yang masih ada sampai saat ini: empat di Afrika, satu di Australia, dan satu lagi di Amerika Selatan. Ikan bernama latin Protopterus annectens ini dan merupakan makhluk hidup yang paling dekat dengan nenek moyang tetrapoda yang meliputi reptil, amfibi, dan mamalia.

Meskipun memiliki insang seperti kebanyakan ikan, lungfish dapat menghirup udara menggunakan "paru-paru" mereka, yang merupakan organ semacam kantong renang yang dimodifikasi. Hal ini membantu mereka bertahan hidup dari kekeringan, saat kemudian mengubur diri dalam lumpur, menutupi diri dalam kepompong lendir, dan memperlambat metabolisme mereka dalam kondisi seperti hibernasi yang disebut estivasi. Saat ada cukup hujan untuk membentuk kolam lagi, mereka muncul, bahkan bila harus menunggu hingga enam tahun kemudian.

  1. Rubah Pasir Rüppell

Mengutip situs NatGeo, salah satu tempat terpanas di Bumi adalah Gurun Lut di Iran. Pada tahun 2005, NASA mencatat suhu permukaan tertinggi yang pernah tercatat di mana pun di dunia di Lut, yaitu 86,7°C!

Namun, satu hewan telah berevolusi untuk mengakali panas di sana. Hewan itu adalah Rubah Pasir Rüppell (Velpis ruepelli). Rubah ini dapat mengatasi pasir Iran yang panas dengan menghemat air. Misalnya, mamalia—yang mendapatkan air dari memakan mangsa—berburu di malam hari untuk tetap sejuk dan menghindari kehilangan kelembapan yang berharga.

 

Adaptasi lain dari rubah ini adalah tubuh kecilnya yang membantu menghilangkan panas, laju metabolisme rendah untuk menghemat energi, dan urin pekat yang mengeluarkan lebih sedikit air.

  1. Greater Bilby

Australia terkenal akan kesenangan dan sinar mataharinya, tetapi tanah tandus Queensland bisa menjadi cukup panas, bahkan satelit yang dioperasikan oleh NASA mencatat suhu di sana menyentuh angka 70°C pada tahun 2003.

Mengutip situs NatGeo, hewan marsupial bernama latin Macrotis lagotis ini hidup di darat dan mengatasi panasnya suhu dengan menggali sistem liang bawah tanah yang rumit "dapat menghindari panas ekstrem dengan membangun dan berlindung di sistem liang bawah tanah yang rumit sedalam hampir tujuh kaki dan sepanjang 10 kaki.

Baca Juga: Pecinta Hewan Wajib Mampir! Berikut Rekomendasi Kafe Kucing dan Pet Friendly di Tangerang Selatan Dengan Harga Terjangkau

  1. Kangkok Pelari Besar

Burung bernama latin Geococcyx californianus ini, mengutip situs All About Birds, adalah burung yang terlahir untuk berlari. Burung ini dapat berlari lebih cepat dari manusia, membunuh ular derik, dan berkembang biak di lanskap gurun yang keras di Barat Daya.

Kangkok Pelari Besar dapat tumbuh hingga mencapai panjang dua kaki dari paruh yang kokoh hingga ujung ekor putih, dengan jambul biru-hitam lebat dan bulu berbintik-bintik yang menyatu dengan baik dengan semak-semak berdebu. Saat berlari, mereka menjaga tubuh ramping mereka hampir sejajar dengan tanah dan mengendalikannya dengan ekor mereka yang panjang. Mereka baru-baru ini memperluas jangkauan mereka ke arah timur hingga ke Missouri dan Louisiana.

Burung ini telah mengembangkan berbagai adaptasi untuk menghadapi kehidupan gurun yang ekstrem. Seperti burung laut, mereka mengeluarkan larutan garam yang sangat pekat melalui kelenjar tepat di depan setiap mata, yang menggunakan lebih sedikit air daripada mengeluarkannya melalui ginjal dan saluran kemih.

Mangsa yang kaya air termasuk mamalia dan reptil memasok mereka air yang sebelumnya langka dalam makanan mereka. Baik anak burung maupun burung dewasa mengepakkan sayap di area yang tidak berbulu di bawah dagu (gular fluttering) untuk menghilangkan panas.

  1. Beruang Air (Tardigrada)

Tidak lengkap rasanya kalau membuat listikel hewan-hewan yang bisa bertahan di lingkungan ekstrem seperti suhu luar biasa panas, tapi tidak menyertakan tardigrada di dalamnya.

Organisme mikroskopis yang menakjubkan ini, melansir jurnal Britannica dan situs World Atlas, makhluk aneh berkaki delapan ini adalah definisi hewan paling tahan banting di dunia, sebab ia ditemukan hidup di berbagai lingkungan dan kondisi mulai dari yang paling aman sampai yang paling ekstrem sekalipun!

Dalam kondisi lingkungan yang sangat keras dan sulit, tardigrada bertahan hidup dengan menonaktifkan segala metabolisme pada tubuhnya sampai seolah-olah telah mati, yang dikenal sebagai kriptobiosis. Pada mode ini, mereka dapat menoleransi semua jenis tekanan lingkungan dan bertahan hidup selama bertahun-tahun tanpa makanan atau air. Mereka dapat bertahan dalam kondisi ini selama beberapa dekade dan bisa kembali aktif bergerak saat kondisi lingkungan memungkinkan untuk hewan ini kembali hidup.

Fitur unik lain dari spesies yang tangguh ini adalah zat protein khusus mereka yang dapat memperbaiki kerusakan DNA akibat radiasi. Tardigrada juga dapat menahan tingkat tekanan yang sangat tinggi, sehingga mereka dapat bertahan hidup di habitat laut dalam. Mereka juga dapat melawan dehidrasi dengan tetap kering untuk waktu yang lama dan kembali hidup setelah terhidrasi kembali.

Para ilmuwan sangat terpesona dengan organisme ini dan percaya bahwa penelitian lebih lanjut tentang mereka dapat menghasilkan kemajuan di bidang-bidang seperti eksplorasi ruang angkasa, kedokteran, dan pelestarian lingkungan.

 

Editor : Hendra
#hewan