Motor Listrik Nasional Punya Potensi Pasar Rp2.800 Triliun, Danantara Siapkan Kredit Murah

Tatang Mahardika • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:13 WIB
Pasar motor listrik nasional dinilai bisa mencapai Rp2.800 triliun. Danantara menyiapkan bunga rendah, tenor panjang hingga opsi DP 0 persen. (Dok. BPMI)
Pasar motor listrik nasional dinilai bisa mencapai Rp2.800 triliun. Danantara menyiapkan bunga rendah, tenor panjang hingga opsi DP 0 persen. (Dok. BPMI)

JawaPos.com - Motor Listrik Nasional (Molinas) dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar di Indonesia. Dari sekitar 140 juta sepeda motor yang beredar, penjualan motor listrik saat ini baru mencapai sekitar 60.000–70.000 unit per tahun.

Kondisi tersebut membuat pemerintah melihat pasar motor listrik masih memiliki potensi besar. Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani bahkan memperkirakan market size-nya dapat mencapai sekitar US$170 miliar atau sekitar Rp2.800 triliun.

”Potensi ke depannya, upside-nya ini bisa secara eksponensial. Kami melihat juga market size-nya kurang lebih sampai USD 170 miliar,” kata Rosan dalam sambutan di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian program Molinas di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).

Besarnya potensi tersebut membuat pemerintah tidak hanya mendorong produksi motor listrik nasional, tetapi juga berupaya memperluas akses pembiayaan. Danantara menyiapkan dukungan melalui perbankan dan institusi finansial di bawah ekosistemnya.

Rosan mengatakan pembiayaan tersebut diarahkan dengan suku bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang. Danantara juga akan mengupayakan pengurangan, bahkan penghilangan, uang muka atau down payment (DP) pembelian motor listrik.

Skema tersebut diharapkan dapat membuat motor listrik lebih terjangkau sehingga minat masyarakat meningkat. Berdasarkan informasi dari perbankan yang diterima Danantara, DP pembelian motor saat ini berada di kisaran 10 persen.

Rosan menyebut dukungan pembiayaan tersebut juga dibutuhkan untuk mempercepat produksi motor listrik nasional. Semakin besar permintaan masyarakat, semakin cepat pula pengembangan industri dan ekosistem Molinas.

Di sisi lain, pengembangan Molinas juga diarahkan untuk memperkuat penggunaan bahan baku dalam negeri. Salah satu yang didorong adalah penggunaan baterai berbasis nikel.

“Karena kita ketahui bersama, 46 persen cadangan nikel di dunia itu ada di Indonesia,” jelasnya.

Rosan menargetkan Molinas tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik. Motor listrik nasional tersebut juga diharapkan dapat berkembang di pasar regional hingga global.

Menurut Prabowo, pengembangan motor listrik nasional juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan mendorong peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih.

”Dampaknya, biaya yang selama ini dikeluarkan masyarakat untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) konvensional juga bisa ditekan,” kata Prabowo dalam sambutan peresmian.

Molinas merupakan kolaborasi antara pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, serta pengusaha dan perusahaan nasional. Pemerintah menilai Indonesia memiliki bahan baku dan kemampuan teknologi yang dapat menjadi fondasi pengembangan industri tersebut.

Sambut Positif

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Desmolindo (Association of Indonesian Bicycle and Electric Motorcycle Dealers) Sarifudin menyambut positif inisiatif pemerintah. Menurutnya, langkah tersebut menjadi tonggak penting untuk memperkuat kemandirian industri otomotif sekaligus mewujudkan ketahanan energi nasional.

Pihaknya menilai peluncuran Molinas bukan sebatas peluncuran produk fisik, melainkan bagian dari pembangunan rantai pasok industri otomotif yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Namun, percepatan penyerapan Molinas di pasar membutuhkan dukungan ekosistem. Sarifudin menyoroti dua aspek yang perlu dijalankan secara beriringan, yakni infrastruktur pengisian daya dan skema pembiayaan.

”Pertama soal infrastruktur pengisian daya khusus motor. Keberhasilan ekosistem ini sangat bergantung pada rasio ketersediaan stasiun pengisian daya dan fasilitas penukaran baterai (battery swap),” jelasnya.

Karena itu, Desmolindo mendorong percepatan pembangunan infrastruktur SPKLU yang tata letak dan peruntukannya didedikasikan untuk motor. Langkah tersebut dinilai dapat membuat akses masyarakat lebih cepat dan efisien sekaligus mencegah tumpang tindih dalam ekosistem operasional.

Faktor kedua adalah dukungan skema pembiayaan alternatif. Sarifudin berharap BPI Danantara benar-benar memenuhi komitmen untuk menurunkan suku bunga, memperpanjang tenor, serta menghapus batas uang muka pembelian motor listrik.

“Sebagai bentuk sinergi dari jaringan dealer, Desmolindo siap mengamplifikasi kebijakan tersebut dengan menghadirkan skema bisnis inovatif seperti rent-to-own (sewa-milik) atau skema penyewaan harian. Fleksibilitas skema ini akan membuka pintu adopsi yang masif bagi sektor komersial, pekerja mobilitas tinggi, dan armada ojek online tanpa membebani arus kas di awal,’’ jelasnya.

Dengan populasi sepeda motor yang sangat besar dan penjualan motor listrik yang masih berada di kisaran 60.000–70.000 unit per tahun, pemerintah kini menghadapi tantangan untuk mengubah potensi pasar tersebut menjadi permintaan nyata. Dukungan pembiayaan dan pembangunan infrastruktur akan menjadi bagian penting dalam menentukan seberapa cepat Molinas dapat diterima masyarakat.

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Motor Listrik Nasional Danantara Prabowo Subianto