Harga Telur Anjlok, Peternak Rugi hingga Rp 7 Ribu per Kilogram

Firzan Syahroni • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:55 WIB

 

Harga telur di tingkat peternak hanya Rp 19 ribu–Rp 20 ribu per kilogram, jauh di bawah biaya produksi Rp 24.500 hingga rugi Rp 7 ribu. (Dok. JP)
Harga telur di tingkat peternak hanya Rp 19 ribu–Rp 20 ribu per kilogram, jauh di bawah biaya produksi Rp 24.500 hingga rugi Rp 7 ribu. (Dok. JP)

JawaPos.com - Harga telur di tingkat peternak kini hanya berkisar Rp 19 ribu–Rp 20 ribu per kilogram, jauh di bawah biaya produksi yang mencapai sekitar Rp 24.500 per kilogram. Anjloknya harga telur membuat peternak ayam petelur di berbagai daerah semakin tertekan. Di sisi lain, harga pakan masih bertahan di kisaran Rp 7.600–Rp 8.000 per kilogram.

Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal, Jawa Tengah, Suwardi, mengatakan kondisi tersebut membuat peternak kesulitan memenuhi kebutuhan pakan.

"Peternak benar-benar sangat sulit. Kami sudah tidak kuat memberi makan unggas-unggas kami," keluhnya, seperti dikutip dari Radar Semarang Grup Jawa Pos.

Keluhan serupa disampaikan Ketua Koperasi Peternak Batang Joko Pramono. Menurut dia, harga telur sudah berada di bawah biaya produksi selama sekitar empat bulan. Akibatnya, peternak menanggung kerugian hingga Rp 7 ribu per kilogram.

Gelombang protes pun muncul di sejumlah daerah. Di Magelang, ratusan peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Petelur Magelang (P3M) berunjuk rasa di Alun-Alun Kota Magelang, Senin (10/8). Mereka bahkan membagikan 1.300 ekor ayam secara gratis sebagai bentuk protes.

Koordinator P3M Yudha Mandala mengatakan, persoalan yang dihadapi peternak bukan hanya anjloknya harga telur, tetapi juga biaya produksi yang terus membengkak. Mereka meminta pemerintah membatasi dominasi perusahaan besar, memperpanjang subsidi pakan dan jagung, serta memperluas penyerapan telur melalui program pangan pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tekanan juga dirasakan peternak skala kecil di Jogjakarta. Sekretaris Kelompok Tani Winongo Asri, Kemantren Wirobrajan, Herwulan, mengatakan biaya pakan untuk 563 ekor ayam petelur di kelompoknya mencapai sekitar Rp 15,5 juta per bulan. Sementara itu, pendapatan dari penjualan telur hanya sekitar Rp 19 juta per bulan.

Selisih tersebut masih harus dipakai untuk menutup biaya vitamin, jamu, operasional kandang, dan tenaga kerja.

Akibatnya, kelompok tersebut terpaksa menurunkan harga telur ayam probiotik. Pada Agustus ini, telur dijual Rp 23 ribu per kilogram, turun dari Rp 24 ribu per kilogram pada bulan sebelumnya.

Kondisi di Jawa Timur

Berbeda dengan di Jawa Tengah dan Jogjakarta, harga telur ayam ras di sejumlah daerah di Jawa Timur berangsur pulih. Di Pasar Wage, Nganjuk, misalnya, harga telur yang sebelumnya sempat turun hingga Rp 19 ribu per kilogram kini naik ke kisaran Rp 22.500 per kilogram.

Pedagang telur di Pasar Wage, Gunawan, mengatakan harga mulai bergerak naik dalam lima hari terakhir.

"Sekarang sudah sekitar Rp 22.500 per kilogram. Naik sedikit dari harga terendah," ujarnya kepada Radar Nganjuk Grup Jawa Pos.

Sementara itu, peternak di Sulawesi Selatan masih mendesak pemerintah segera mengambil langkah nyata. Basuki Suyuti, peternak asal Maros, meminta pemerintah menurunkan harga pakan, menjamin ketersediaan jagung sesuai Harga Acuan Pemerintah (HAP), serta mendorong kenaikan harga telur agar sejalan dengan biaya produksi.

Selain itu, peternak meminta pemerintah menjaga stabilisasi pasokan day old chick (DOC), menghapus praktik dominasi perusahaan integrator, serta memastikan peternakan rakyat tetap menjadi pelaku utama industri perunggasan.

"Kita ingin keputusan Menteri Pertanian tetap dijalankan, bahwa 98 persen peternakan dipegang peternakan rakyat dan hanya 2 persen oleh peternakan integrator," katanya, dikutip dari FAJAR. (oni)

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran, Radar Semarang, FAJAR
Harga Telur Peternak Ayam Telur Ayam Pakan Ternak Makan Bergizi Gratis