JawaPos.com – Amerika Serikat (AS) menghadapi tantangan finansial yang semakin besar. Terutama terkait penurunan daya beli dolar yang terus berlanjut. Penurunan daya beli itu menjadi isu utama yang tidak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi domestik, tetapi juga peran Amerika Serikat dalam sistem keuangan global.
Melansir Forbes kemarin (2/1), sejak Oktober 2020, daya beli dolar AS mengalami penurunan yang signifikan. Grafik menunjukkan penurunan dari 38,40 pada Oktober 2020 menjadi 31,70 pada November 2024. Itu berarti terjadi penurunan 17 persen. Penurunan ini menunjukkan bahwa dolar semakin tidak mampu membeli barang dan jasa dalam jumlah yang sama akibat terus meningkatnya inflasi.
Situasi tersebut memaksa konsumen untuk mengeluarkan lebih banyak dolar untuk mempertahankan standar hidup mereka. Hal itu semakin memperburuk ketidakpastian ekonomi.
Beberapa kalangan kini mencari solusi inovatif guna mengatasi masalah tersebut. Mereka mulai mempertimbangkan langkah-langkah baru, salah satunya adalah integrasi bitcoin ke dalam cadangan negara.
Wacana itu langsung direspons International Monetary Fund (IMF). ’’Masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang kebijakan potensial,’’ kata Julie Kozack, direktur bidang komunikasi IMF.
Meskipun IMF secara historis telah mengingatkan agar sektor publik berhati-hati dalam melibatkan mata uang kripto, perubahan besar dalam lanskap ekonomi global memunculkan kemungkinan bahwa kebijakan tersebut dapat segera dipertimbangkan.
Langkah mengadopsi bitcoin sebagai cadangan negara ini mendapatkan dukungan dari beberapa pihak, terutama karena sifatnya yang terdesentralisasi dan pasokan yang terbatas. Salah satunya Deloitte, salah satu perusahaan akuntansi terbesar di dunia.
’’Cryptocurrency menawarkan peluang investasi unik, berfungsi sebagai alternatif aset untuk melawan inflasi, dan meningkatkan fungsi keuangan tradisional seperti transfer uang yang aman dan kontrol modal,’’ kata pernyataan resmi mereka.
Namun, tidak semua orang setuju dengan ide ini. Nic Carter, seorang kapitalis ventura terkemuka, menentang gagasan tersebut. Dia berpendapat jika Amerika Serikat membeli bitcoin dalam jumlah besar, hal ini justru bisa melemahkan dolar, bukannya memperkuat.
’’Amerika sudah memiliki mata uang cadangan global. Jadi, tidak ada kebutuhan untuk melakukan lindung nilai terhadap stabilitas dolar,’’ ujar Carter. Dia khawatir penambahan bitcoin ke dalam cadangan nasional justru akan memberikan sinyal kehilangan kepercayaan terhadap dolar. Hal itu bisa memicu ketidakstabilan di pasar keuangan global. (din/c19/bay)
Editor : Hendra