Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Opini: Anak Muda Kontra Sepak Bola Gajah

Hendra Eka • Selasa, 29 Oktober 2024 | 17:30 WIB

 

 

Ilustrasi sepak bola gajah. (Dok. Jawa Pos)
Ilustrasi sepak bola gajah. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com - Dua hari terakhir membuat cemas masa depan sepak bola Indonesia. Penyebabnya tentu saja sepak bola ’’ogah-ogahan’’ yang diperagakan pemain Indonesia U-17 di ajang kualifikasi Piala Asia U-17 2025.

Indonesia U-17 menantang Australia U-17 di laga terakhir grup G. Hasil imbang cukup membawa dua tim melaju ke babak utama Piala Asia U-17 2025 di Arab Saudi. Hasil itu akan menyingkirkan tuan rumah kualifikasi grup G Kuwait U-17.

Benar saja, hasil imbang seakan menjadi ’’kesepakatan’’ antara Indonesia U-17 dan Australia U-17. Laga berakhir 0-0. Kedua tim pun melaju. Australia menjadi juara grup, sedangkan Indonesia U-17 sebagai salah satu tim runner-up terbaik dari sepuluh grup.

Alih-alih mendapatkan pujian atau gegap gempita. Tim yang ditukangi Nova Arianto itu malah dibanjiri cemoohan. Anak-anak muda seharusnya mengusung motivasi tinggi membawa nama Merah Putih. Bahkan, federasi (PSSI) juga menjadi sasaran amuk warganet.

Tak urung, memori kelam sepak bola nasional di kancah internasional kembali muncul. Borok paling buruk laga Indonesia di Piala Tiger 1998 (nama lama Piala AFF) terkorek lagi. Saat itu cemoohan terhadap praktik sepak bola gajah benar-benar menghancurkan timnas Indonesia dan para individunya.

Parahnya, kali ini terjadi di kelompok umur. Terjadi pada anak-anak yang masih menikmati masa remaja mereka. Memang, sasaran cemoohan bukan mereka. Namun, sedikit banyak psikis para harapan sepak bola nasional itu pasti terpengaruh.

PSSI dan tim pelatih pun jadi sibuk menepis opini buruk. Pilihan strategi jadi hal yang dikedepankan. Namun, menit-menit akhir laga justru menunjukkan kenyataan sebaliknya. Sepak bola malas menyerang jadi racun yang sudah merusak mentalitas sportif anak-anak muda dalam tim.

Bakal sulit mengembalikan kepercayaan publik kepada tim. Tim pelatih dan PSSI harus punya formula jitu mengembalikan motivasi tim yang tetap akan berlaga di Arab Saudi. Preseden buruk harus dibayar dengan usaha berlipat memperbaiki diri yang diawali dari internal tim. (*)

*Kolom Jati Diri Koran Jawa Pos

Editor : Hendra
#sepak bola gajah #Timnas Indonesia #sepak bola