Sayangnya, banyak mitos yang beredar justru menghalangi kita untuk melakukan perawatan kulit kepala dengan tepat. Memahami penyebab aslinya adalah langkah awal untuk menemukan solusi yang efektif dan permanen.
Melansir dari English Jagran, berikut adalah lima mitos tentang ketombe yang harus segera Anda berhenti percayai:
Mitos 1: Ketombe Muncul karena Jarang Mencuci Rambut
Faktanya: Banyak orang mencuci rambut setiap hari namun tetap mengalami ketombe. Hal ini membuktikan bahwa frekuensi keramas bukanlah penyebab utama.
Ketombe lebih berkaitan dengan pertumbuhan jamur alami yang berlebih di kulit kepala yang memicu peradangan, bukan sekadar masalah seberapa sering Anda mencuci rambut.
Mitos 2: Kulit Kepala Kering adalah Penyebab Utama
Faktanya: Serpihan putih akibat kulit kepala kering biasanya terjadi karena kurangnya kelembapan. Namun, ketombe yang membandel justru sering kali muncul pada kulit kepala berminyak.
Produksi minyak yang berlebih menjadi "makanan" bagi jamur alami untuk tumbuh subur, sehingga kulit kepala menjadi gatal, bersisik, dan serpihannya cenderung menempel karena minyak.
Mitos 3: Ketombe Hanya Muncul pada Rambut Kotor dan Berminyak
Faktanya: Anggapan bahwa ketombe hanya menyerang rambut berminyak adalah keliru. Orang dengan kulit kepala kering pun bisa mengalaminya.
Munculnya ketombe lebih sering dipicu oleh sensitivitas kulit kepala, ketidakseimbangan jamur, faktor stres, hingga perubahan cuaca yang ekstrem.
Mitos 4: Ketombe Bisa Menular
Faktanya: Berbeda dengan kutu rambut, ketombe tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain. Ketombe adalah kondisi personal yang terjadi akibat pertumbuhan berlebih jamur alami di kulit kepala sendiri, ketidakseimbangan produksi minyak, atau sensitivitas terhadap produk perawatan rambut tertentu.
Mitos 5: Ketombe Disebabkan oleh Pola Makan yang Buruk
Faktanya: Meski makanan berminyak atau gula sering disalahkan, penyebab utamanya tetaplah jamur dan produksi minyak di kulit kepala.
Memang benar bahwa kekurangan seng, vitamin B, atau omega-3 dapat membuat kulit kepala lebih rentan teriritasi, namun memperbaiki pola makan hanya bersifat membantu mengurangi risiko, bukan menghilangkan ketombe sepenuhnya secara instan.
Editor : Candra Mega Sari