Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 12 Juni: Anak-Anak Berhak Tersenyum, Bukan Terpaksa Mengais Upah

Indri Ramadani • Jumat, 13 Juni 2025 | 12:00 WIB
ILustrasi pekerja anak dari UNFPA Asia and the Pacific (Dok. un.org)
ILustrasi pekerja anak dari UNFPA Asia and the Pacific (Dok. un.org)

JawaPos.com -  Setiap tanggal 12 Juni, dunia memperingati World Day Against Child Labour atau Hari Dunia Menentang Pekerja Anak. Momen ini bukan sekadar seremoni, tapi panggilan bersama untuk melindungi masa depan anak-anak. Tahun 2024 lalu, peringatan ini mengusung tema yang kuat: Saatnya Mewujudkan Komitmen Kita: Akhiri Pekerja Anak.

Pekerja anak masih menjadi masalah serius di banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan data tahun 2021 dari ILO, sekitar 160 juta anak di seluruh dunia terlibat dalam pekerjaan yang mengganggu hak mereka. Di Indonesia sendiri, ada lebih dari 3 juta anak usia 10–17 tahun yang bekerja, dan sepertiga di antaranya masuk kategori yang dilarang oleh hukum.

Baca Juga: Pendaftaran SPMB SD Tangsel Resmi Dibuka: Ini 7 Sekolah dan Tanggal Pentingnya

Menilik Realita dan Tantangan Global

Sejak tahun 2000, dunia sempat menunjukkan kemajuan dalam mengurangi pekerja anak. Namun konflik, pandemi, dan krisis ekonomi belakangan ini membuat kemunduran terjadi. Banyak keluarga jatuh miskin dan terpaksa menyuruh anak-anak mereka bekerja demi bertahan hidup.

Saat ini, hampir satu dari sepuluh anak di dunia masih bekerja. Afrika mencatat angka tertinggi, diikuti oleh Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia. Mirisnya, sebagian besar pekerja anak justru berada di negara-negara berpendapatan menengah, bukan yang termiskin.

Perayaan di Berbagai Daerah

Di Indonesia, berbagai pihak merayakan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak secara serentak. Di Jakarta, lebih dari 200 peserta berkumpul di Tebet Eco Park untuk menyuarakan pentingnya penghapusan pekerja anak. Hadir pula perwakilan kementerian, lembaga, kampus, dan komunitas yang aktif mendampingi anak-anak.

Sementara itu, di Lombok dan Jember, anak-anak dari belasan desa ikut memeriahkan peringatan ini. Di tengah keindahan hutan mangrove Lombok Timur dan semangat komunitas lokal di Jember, suara mereka menggema: anak-anak seharusnya belajar, bukan bekerja. Acara ini diinisiasi oleh Yayasan SANTAI, YPSM, dan mitra swasta seperti PT. AOI.

paaclaindonesia.org

Kolaborasi Adalah Kunci

Semangat bersama tercermin dalam penandatanganan komitmen multipihak untuk mengakhiri pekerja anak. Pemerintah, perusahaan, akademisi, hingga masyarakat sipil duduk bersama, menyepakati lima langkah konkret. Dari memperkuat sistem pemantauan hingga mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045.

Dikutip dari paaclaindonesia.org, direktur PAACLA Indonesia, Dr. Nur Hygiawati Rahayu, menegaskan pentingnya kemitraan dalam menyelesaikan persoalan ini. Aksi tidak boleh berhenti di acara seremonial, tapi harus berlanjut dalam program nyata di komunitas. Karena masa depan anak-anak ada di tangan kita semua.

Menatap Masa Depan Tanpa Pekerja Anak

Secara global, peringatan tahun 2025 akan menjadi titik penting. ILO dan UNICEF akan merilis laporan tren pekerja anak terbaru, sebagai bahan evaluasi sekaligus pendorong komitmen lebih besar. Dunia diminta segera meratifikasi dan menjalankan Konvensi ILO No. 138 dan 182 secara serius.

Meskipun tantangan besar, harapan tetap ada. Lewat program edukasi seperti SCREAM, anak-anak di berbagai negara diajak bersuara lewat seni dan media. Mereka menulis lagu, tampil di panggung, dan menyampaikan pesan: kami ingin masa depan yang layak.

Baca Juga: TwoSpaces BSD XIV Hadirkan Nuansa Kerja dan Komunitas yang Nyaman di Tengah Kawasan Strategis BSD

Editor : Candra Mega Sari
#12 juni #World Day Against Child Labour 2025 #Hari Dunia Menentang Pekerja Anak