JawaPos.com – Sampah makanan, atau yang yang sering disebut dengan istilah food loss dan food waste, telah menjadi isu global yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Menurut data Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), setiap tahunnya sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Angka ini setara dengan sepertiga dari total produksi makanan dunia.
Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah makanan mencapai 48 juta ton per tahun. Fakta ini menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia, setelah Arab Saudi.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara food loss dan food waste? Dan apa dampaknya bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial? Simak penjelasannya berikut ini dilansir dari laman Sampoerna Academy pada Minggu (2/3).
Apa itu Food Loss?
Food loss merujuk pada bahan pangan mentah yang seharusnya bisa diolah menjadi makanan, namun terbuang begitu saja karena berbagai alasan. Hal ini biasanya terjadi pada tahap produksi, seperti saat panen, pengolahan, atau distribusi. Beberapa faktor penyebabnya antara lain musim panen yang tidak menguntungkan, teknik budidaya yang kurang tepat, atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Baca Juga: Jadwal Imsak dan Berbuka Puasa Ramadhan di Tangsel, Senin 3 Maret 2025
Apa itu Food Waste?
Berbeda dengan food loss, food waste merupakan makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi, namun dibuang begitu saja dan berakhir di TPA. Food waste sering kali disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti membeli makanan berlebihan, tidak menghabiskan makanan, atau gaya hidup konsumtif yang tidak memperhatikan porsi kebutuhan.
Dampak Food Loss dan Food Waste
1. Dampak Lingkungan
Food loss dan food waste memiliki dampak lingkungan yang sangat serius. Makanan yang terbuang dan membusuk di TPA ini akan melepaskan gas metana, yang merupakan gas rumah kaca berbahaya. Ketika makanan terbuang, sumber daya alam yang besar, seperti air, energi, dan lahan juga ikut terbuang sia-sia, menyebabkan degradasi lingkungan dan penipisan sumber daya alam.
2. Dampak Ekonomi
Diperkirakan kerugian ekonomi akibat food loss dan food waste secara global mencapai sekitar $2 triliun per tahun. Kerugian ini dirasakan oleh berbagai pihak, mulai dari petani yang kehilangan pendapatan karena hasil panen terbuang, produsen makanan yang harus membuang produk tidak laku, hingga konsumen yang membeli makanan berlebihan.
3. Dampak Sosial
Dari sisi sosial, food loss dan food waste dapat memperparah masalah kelaparan dan kekurangan gizi. Makanan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang yang membutuhkan justru terbuang percuma. Kekurangan makanan dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, perkembangan kognitif yang terganggu, dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.
Upaya Mengurangi Food Loss dan Food Waste
Untuk mengatasi kedua masalah ini, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah dapat menerapkan standar yang lebih ketat dalam praktik panen dan penanganan pasca-panen.
Produsen makanan bisa berinvestasi dalam teknologi baru untuk mengurangi limbah selama produksi dan pengolahan. Sementara itu, peritel dapat menerapkan praktik penyimpanan dan penjualan yang lebih efisien.
Sebagai konsumen, masyarakat juga dapat berkontribusi dengan cara membeli hanya apa yang dibutuhkan, menyimpan makanan dengan benar, dan memanfaatkan sisa makanan. Langkah-langkah kecil ini jika dilakukan bersama-sama, maka dapat memberikan dampak besar dalam mengurangi food loss dan food waste.
Baca Juga: Ramadhan Tiba! Inilah 5 Manfaat Puasa bagi Kesehatan Tubuh Kita
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah