JawaPos.com - Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk membedakan berbagai sensasi, termasuk panas dan dingin. Penelitian terbaru dari Waseda University di Jepang mengungkap bagaimana otak kita menguraikan sensasi termal ini.
Sensitivitas terhadap suhu bersifat subjektif dan bervariasi pada setiap individu. Suhu yang terasa nyaman bagi seseorang bisa jadi terlalu panas atau dingin bagi orang lain.
Dalam penelitian terbaru yang dikutip dari Science Daily pada Sabtu (15/2), Profesor Kei Nagashima dari Body Temperature and Fluid Laboratory, Waseda University, bersama Dr. Hironori Watanabe dan timnya, menggunakan electroencephalography (EEG) untuk memetakan respons otak terhadap suhu panas dan dingin.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola aktivitas otak saat merasakan sensasi panas dan dingin. Diharapkan, hasilnya dapat berkontribusi pada pengembangan metode objektif dalam menilai kenyamanan termal.
Sebanyak 20 partisipan mengikuti studi ini, di mana jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan mereka diberikan perlakuan suhu yang berbeda. Suhu diberikan dalam bentuk pulsa selama 15 detik, dengan suhu intermiten 32°C diterapkan selama 10 detik di antara setiap pulsa.
Aktivitas saraf otak sebagai respons terhadap dua suhu berbeda, yaitu 40°C dan 24°C, direkam menggunakan perangkat EEG yang bersifat wearable atau dapat dikenakan.
Rekaman EEG kemudian dianalisis untuk mengungkap pola aktivitas otak yang spesifik terhadap wilayah dan waktu. Aktivitas otak yang berkelompok ditemukan di sepuluh area berbeda dalam korteks.
Menariknya, baik suhu panas maupun dingin memicu aktivitas otak di sepuluh area yang sama. Namun, pola respons EEG terhadap kedua sensasi termal ini menunjukkan perbedaan yang signifikan.
"Perbedaan dalam pola aktivitas ini memungkinkan otak membedakan suhu panas dan dingin," ujar Nagashima. Perbedaan pola aktivitas ini juga diyakini memengaruhi perilaku seseorang dalam merespons perubahan suhu.
Baca Juga: Dukung Petani, Kapolri Sigit Resmikan Irigasi dan Serahkan Bansos di Kulonprogo
Temuan ini menunjukkan bahwa variasi pola aktivitas di area otak yang sama dapat menjadi mekanisme utama dalam membedakan suhu panas dan dingin.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar aktivitas otak terkonsentrasi di belahan otak kanan, menunjukkan peran dominan belahan ini dalam memproses sensasi termal dibandingkan belahan kiri.