Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Mengenal Battered Woman Syndrome: Dampak Psikologis Kekerasan dalam Rumah Tangga bagi Wanita

Amanda Zakiya Mufidatul Khoiroh • Jumat, 24 Januari 2025 | 18:00 WIB
Ilustrasi wanita yang terkena Battered Woman Syndrome
Ilustrasi wanita yang terkena Battered Woman Syndrome

JawaPos.com Battered Woman Syndrome adalah istilah untuk menggambarkan kondisi psikologis seseorang yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), namun memilih tetap untuk bersama pelaku kekerasan (pasangannya). Kondisi ini perlu untuk segera ditangani karena akan berdampak buruk bagi kesehatan mental dan emosional korban.

KDRT, terutama yang terjadi pada wanita, merupakan salah satu masalah yang melibatkan pelanggaran hak asasi wanita. Kekerasan yang dialami berulang kali bisa membuat munculnya gangguan psikologis yang dinamakan Battered Woman Syndrome (BWS) atau sindrom wanita babak belur.

Sindrom wanita babak belur adalah akibat dari kekerasan fisik, seksual, dan psikologis yang terus-menerus. Siklus KDRT meliputi kemarahan pasangan, kekerasan, dan permintaan maaf. Korban sering tidak menyadari hubungan abusifnya dan bisa mengalami sindrom Stockholm, yang membuatnya tetap bertahan.

Setidaknya ada beberapa tahapan yang bisa terjadi saat seorang wanita mengalami sindrom wanita babak belur, seperti yang dilansir dari laman Alodokter.com, yaitu:

Dampak BWS bisa terjadi dalam jangka pendek dan panjang. Efek jangka pendeknya termasuk cemas, depresi, penurunan harga diri, dan merasa tidak berharga. BWS juga bisa merusak hubungan dengan teman atau keluarga. Sementara dampak jangka panjang mirip gejala PTSD dan bisa menyebabkan penyakit seperti tekanan darah tinggi dan sakit kepala.

Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi kepada siapa saja. Pasangan yang toxic bisa sewaktu-waktu melakukan kekerasan, terlepas dari jenis kelamin mereka. Dilansir dari laman Halodoc.com, berikut beberapa cara untuk meredam potensi KDRT:

1. Bertoleransi Antar Pasangan

Untuk menjaga hubungan baik, kedua pihak harus menunjukkan kedewasaan dan belajar menoleransi ketidaksempurnaan satu sama lain. Toleransi adalah strategi pencegahan kekerasan dalam rumah tangga yang baik dan juga penting untuk anak-anak, asisten rumah tangga, dan anggota rumah tangga lainnya.

2. Menjaga Komunikasi

Dalam hubungan, intoleransi, kecemburuan, dan sifat pemarah sering memicu kekerasan dalam rumah tangga. Komunikasi adalah solusi terbaik untuk masalah ini. Diskusikan apa yang diinginkan oleh kamu dan pasangan. Buat komitmen yang bisa disetujui bersama.

3. Minta Bantuan Profesional

Banyak profesional yang bisa membantu menangani korban KDRT. Jika kamu mengalami kekerasan dalam rumah tangga, pertimbangkan untuk menemui profesional yang tepat untuk mendapatkan bantuan dan dukungan.

Baca Juga: Jangan Abaikan! Ketahui Tujuh Alasan Penting Wanita Usia 50+ Periksa ke Dokter Kandungan Meski Sudah Menopause

Editor : Candra Mega Sari
#krdt #dampak psikologis #Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) #battered woman syndrome