Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Milia di Kulit Wajah: Apa Penyebabnya dan Bagaimana Cara Menghilangkannya?

Amanda Zakiya Mufidatul Khoiroh • Rabu, 15 Januari 2025 | 16:30 WIB

 

Ilustrasi seseorang memiliki milia
Ilustrasi seseorang memiliki milia

JawaPos.com - Milia termasuk dalam kista epidermoid berwarna putih. Biasanya milia muncul secara berkelompok pada area wajah seperti pipi dan hidung. Jika hanya satu, kista ini disebut milium.

Milia muncul ketika keratin yang terjebak pada permukaan kulit bagian bawah. Keratin sendiri merupakan sejenis protein kuat yang umumnya terdapat pada jaringan kulit, rambut, dan sel pada kuku. Milia bisa terjadi pada semua orang dari berbagai usia, tetapi paling rentan terjadi pada bayi baru lahir.

Milia umumnya tidak berbahaya dan bisa hilang tanpa harus melakukan penanganan tertentu. Meski begitu, beberapa kasus milia tetap membutuhkan perawatan karena dianggap mengganggu bagi orang yang mengalaminya.

Penyebab milia pada bayi berbeda dengan yang terjadi pada orang dewasa. Sampai saat ini, penyebab pasti milia pada bayi baru lahir masih belum diketahui. Kondisi ini sering dianggap sebagai jerawat bayi akibat pengaruh hormon dari ibu.

Sementara pada orang dewasa, milia sering kali disebabkan oleh kerusakan pada kulit. Beberapa faktor yang memicunya meliputi lepuhan akibat masalah kesehatan, paparan racun, luka bakar, sinar matahari, penggunaan krim steroid dalam jangka panjang, serta prosedur perawatan kulit. Selain itu, seiring bertambahnya usia, kulit juga kehilangan kemampuan alaminya untuk mengelupas, yang dapat menyebabkan milia.

Milia dapat terjadi pada siapa saja, namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalaminya. Berdasarkan informasi dari halodoc.com, beberapa faktor yang dapat memengaruhi risiko tersebut antara lain:

  1. Memakai produk kecantikan atau perawatan yang tidak sesuai dengan jenis kulit
  2. Tidak mendapatkan cukup istirahat
  3. Memakai produk kosmetik yang mengakibatkan pori-pori kulit tersumbat.
  4. Memiliki masalah kulit seperti rosacea, eksim, atau ketombe.

Milia ditandai dengan munculnya benjolan kecil berwarna putih mutiara atau kekuningan, berukuran 1-2 milimeter. Meskipun tidak menimbulkan rasa sakit, milia bisa menyebabkan ketidaknyamanan. Benjolan ini dapat muncul di berbagai bagian tubuh, seperti kepala, wajah, dan dada.

Pada bayi yang mengalami milia, umumnya tidak diperlukan penanganan khusus, karena kondisi ini tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya. Sementara pada orang dewasa, milia biasanya akan menghilang dalam beberapa bulan. Meskipun dalam beberapa kasus, benjolan bisa bersifat permanen. Jika itu terjadi, penanganan medis oleh dokter diperlukan untuk menghilangkan benjolan tersebut.

Berdasarkan informasi dari alodokter.com, berikut beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mengatasi milia:

  1. Krioterapi, yaitu prosedur untuk membekukan dan menghancurkan benjolan milia menggunakan nitrogen cair.
  2. Dermabrasi, yaitu pengikisan lapisan kulit teratas dengan menggunakan alat khusus.
  3. Chemical peeling, yaitu pengikisan lapisan kulit teratas dengan mengoleskan cairan kimia.
  4. Ablasi laser, yaitu prosedur untuk menghilangkan milia dengan menggunakan laser.
  5. Diathermy, yaitu prosedur untuk menghilangkan milia dengan menggunakan suhu panas.
  6. Deroofing, yaitu prosedur untuk mengeluarkan isi milia dengan menggunakan jarum steril.

Pada kasus milia en plaque, dokter dapat meresepkan antibiotik yang diminum (oral) atau krim isotretinoin untuk dioleskan ke kulit (topikal).

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#penyebab #kulit #mengatasi #milia #wajah