JawaPos.com — Sudah bukan hal yang asing lagi bagi para otaku yang mengikuti filmografi Naoko Yamada bahwa bunga beserta hanakotoba-nya memiliki tempat tersendiri di dalam setiap karya-karyanya.
Bagi Naoko Yamada, orang yang mengerti bahasa bunga akan mampu menafsirkan perasaan serta pesan-pesan yang tak mampu terungkapkan melalui kata-kata. Ia memang sengaja membuat karya-karya yang sedemikian sublimnya, sehingga meskipun penonton tidak mengerti, tapi mereka tetap dapat merasakan sesuatu karena tata letak bidikan atau warna bunga. Sang Sutradara dengan gaya arahan yang khas ini memang senang membiarkan penonton untuk memiliki interpretasi mereka sendiri atas film atau serial yang digarapnya.
Yuk, simak artikel berikut membahas hanakotoba dari bebungaan yang hadir dalam film Koe no Katachi.
Kembang Api: Simbol Ketidak-kekalan dan Momen yang Tak Terulang
Bunga pertama yang ditampilkan dalam film animasi ini sama sekali bukanlah bunga, melainkan kembang api yang dalam bahasa Jepang lebih dikenal dengan istilah 花火 (hanabi).
Satu kembang api kecil yang ditembakkan dari tepi sungai secara tidak sengaja menyelamatkan Shōya Ishida di adegan pembuka film. Saat Shōya hendak menjatuhkan dirinya dari jembatan, sebuah kembang api mengganggu pikirannya dan ia pun berjalan menjauh dari pagar jembatan. Pun, ketika Shōko Nishimiya mencoba mengakhiri hidupnya di bagian akhir film, percobaan itu dibingkai dengan pertunjukan kembang api yang membuat hati bergemuruh.
Kembang api memang memiliki makna tersendiri dalam tradisi estetika Jepang, yang menggambarkan ketidakkekalan dan keindahan yang sementara; suatu momen dalam waktu yang tidak akan pernah terulang lagi.
Menggunakan kembang api sebagai latar belakang untuk percobaan bunuh diri Shōya dan Shōko masing-masing menambah lapisan kefanaan ekstra terhadap kedua tokoh utama tersebut dengan mana semua kehidupan bersifat sementara, dan kembang api tampaknya berkata demikian.
Daisy: Kemurnian yang Polos dan Optimisme Sambut Awal yang Baru
Bunga daisy (Bellis perennis) atau sendurat inggris ini miliki hanakotoba yang melambangkan kemurnian atau kembalinya kepolosan. Makna ini terutama berlaku pada daisy putih.
Ketika Yuzuru Nishimiya bermimpi tentang saudara perempuannya, Shōko, pada malam nenek mereka meninggal, mimpi itu muncul di genangan darah yang dikelilingi bunga daisy. Penonton kemudian memahami bahwa Yuzuru telah mengetahui kecenderungan bunuh diri Shōko sejak lama, dan telah menempelkan foto-foto benda mati demi menjauhkan sang kakak dari kematian.
Bunga ini juga membingkai figur Shōko ketika dia diserang oleh mantan teman sekelasnya, Naoka Ueno, dan tetap ada beberapa saat sampai si gadis meminta maaf sebesar-besarnya kepada Miyako Ishida, ibunda Shōya.
Meskipun bunga daisy sering kali melambangkan kepolosan masa kanak-kanak, bunga ini juga dapat melambangkan awal yang baru. Dalam kasus ini, Shōko mulai menyadari dampak dari percobaan bunuh dirinya terhadap orang lain yang jauh di luar akibat langsungnya, dengan mana si gadis pun mencoba untuk memulai hidup baru bagi dirinya sendiri. Respons standarnya adalah dengan selalu meminta maaf. Ini adalah pertama kalinya Shōko tampak benar-benar bersungguh-sungguh dengan segenap jiwanya. Dia menangis tersedu-sedu di kaki Miyako, memohon ampunan.
Cosmos: Harmoni dan Kedamaian
Bunga cosmos muncul di antara adegan-adegan pembuka di awal film. Bunga ini mengikuti adegan ketika Shōya menemukan Shōko di mejanya dan memakinya, menyebabkan si gadis pun membalas dan melampiaskan rasa frustrasinya untuk pertama kalinya. Bunga ini memiliki makna harmoni, keteraturan, kedamaian, ketenangan, kepolosan, kesederhanaan, kegembiraan, cinta, serta ketahanan dan kemandirian.
Calendula: Kebahagiaan, Simpati, dan Harapan
Bahasa bunga dari calendula sangat bervariasi; bagi sebagian orang, bunga ini melambangkan kesedihan dan kedukaan; sementara bagi yang lain, bunga ini melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan. Dalam floriografi Victoria, calendula melambangkan simpati, kesedihan, harapan, dan perubahan. Sementara itu, calendula kuning melambangkan optimisme dan keberuntungan. Bunga ini menyampaikan rasa berseri dan dikaitkan dengan kesuksesan dan harapan.
Tidak ada situasi yang benar-benar menggembirakan ketika bunga ini hadir. Namun, kehadirannya mengingatkan penonton dengan kesetiaan Shōko. Ia membersihkan grafiti yang kasar dari meja Shōya dalam skenario pertama, dan mungkin ia masih memikirkannya, bahkan setelah ia pindah, dalam skenario kedua. Terlepas dari kenyataan bahwa perasaan utama Shōya terhadap Shōko saat itu adalah rasa bersalah—terutama ketika penindasan diarahkan kepadanya—bunga-bunga tersebut (cosmos dan calendula) merupakan pengingat terus-menerus akan kepolosan Shōko yang setia.
Cyclamen: Kasih Sayang yang Tergoyahkan, Cinta yang Kuat, dan Selamat Tinggal
Setelah pertengkaran fisiknya dengan Shōko, Shōya membersihkan mejanya sendiri. Sebuah pot kecil berisi bunga-bunga cyclamen berdiam di sisinya. Shōya mengucapkan kata-kata, "Dia benar-benar membuatku kesal." Melampiaskan rasa frustrasinya saat menyadari bahwa Shōko mencoba membersihkan mejanya. Ini adalah bunga lain yang merepresentasikan Shōko Nishimiya.
Bunga ini muncul dalam warna merah dan biru sebagai bunga kelas hari itu. Cyclamen memiliki beberapa interpretasi, beberapa di antaranya saling bertentangan.
Seperti bunga daisy yang juga merepresentasikan Shōko, cyclamen juga miliki hanakotoba yang berarti cinta, tetapi cinta yang lebih kuat dan langgeng. Alih-alih kepolosan, cyclamen menunjukkan kasih sayang yang dalam dan tak tergoyahkan. Beberapa orang menyebutnya bunga cinta sejati.
Alih-alih interpretasi di atas, Naoko Yamada sepertinya memilih makna lain dari cyclamen, yaitu kepasrahan atau selamat tinggal. Tanaman itu muncul beberapa kali di dalam kelas, dan kemunculan pertamanya terutama di luar ruang musik, di mana hubungan antara Shōko dan teman-teman sekelasnya mulai memburuk saat ia mencoba bernyanyi. Bunga itu lalu muncul lagi di tangannya saat Shōko menulis sesuatu yang buruk di papan tulis dan berpura-pura menghapusnya. Namun, perundungan yang diterima si gadis malah makin menjadi-jadi dan berujung dengan perpisahan di antara Shōko dan Shōya.
Ada satu makna terakhir dari cyclamen yang dapat diterapkan, yaitu cinta yang langka atau terlalu sulit dipahami, yang merupakan bentuk lain dari kekaguman atau cinta yang lebih dalam. Hubungan Shōya dan Shōko memang sulit, terlepas dari apakah mereka akhirnya bersama secara romantis atau tidak, tetapi di akhir film, tidak diragukan lagi mereka saling mengagumi satu sama lain.
Editor : Hendra