JawaPos.com - Tumbuh dengan pola parenting yang toksik membuat Hanna bertekad untuk keluar dari rumah secepatnya. Dia tidak ingin lagi dibanding-bandingkan dengan kedua saudara perempuannya. Sayang, pilihan tersebut ternyata malah membuat Hanna terjebak dalam hubungan toksik lainnya.
Sampai Nanti, Hanna! berkisah tentang Hanna (Febby Rastanty), mahasiswi hukum sekaligus aktivis pers kampus yang kritis dan vokal. Namun, ketika di rumah, jiwa tersebut hilang. Dia berubah menjadi sosok yang berbeda lantaran sang ibu kerap melontarkan ucapan pedas hanya karena Hanna berbeda dari saudara-saudaranya.
Baca Juga: Belum Berani Main Film Horor, Dian Sastrowardoyo Produseri Qodrat 2 yang Dibintangi Vino G. Bastian
Di kampus, Hanna berteman baik dengan Gani (Bio One). Ada di lingkup organisasi yang sama membuat mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Diam-diam Gani memendam perasaan kepada Hanna. Begitu juga sebaliknya. Namun, perasaan itu tak pernah terungkap hingga Hanna memilih untuk menikah dengan Arya (Ibrahim Risyad).
Namun, jalan hidup yang dipilih Hanna malah menambah luka baru. Selama masa pernikahan, Hanna kerap mendapat kekerasan verbal dari Arya. Apalagi, setelah memiliki anak yang justru malah membuat Hanna semakin terbebani. Arya hanya peduli pada kehidupannya. Sementara Hanna dituntut untuk mengurus suami dan anak.
Akumulasi kondisi itu menyebabkan Hanna mengalami beban mental yang parah. Sampai akhirnya, dia stres dan mengalami baby blues. Sutradara Agung Sentausa mampu menuturkan cerita film Sampai Nanti, Hanna! dengan rapi dan tempo yang pas. Isu yang diangkat pun cenderung familier dan dekat. Itu membuat penonton bisa bersimpati pada karakter Hanna.
Film Sampai Nanti, Hanna! mengambil latar lokasi di Bandung pada era 1990-an. Agung menjelaskan bahwa kasus kekerasan verbal maupun nonverbal sejatinya telah terjadi sejak lama. Hanya, edukasi mengenai kesehatan mental belum tersiar seperti sekarang. ’’Dulu komunikasi masih surat-suratan. Di saat yang sama, istilah mental health belum lazim, parenting apalagi. Kebetulan inspirasi cerita ini setting-nya tahun ’90-an, jadi memasukkan represi dan rezim,” tutur Agung.
Berperan sebagai Hanna, Febby memahami bahwa setiap manusia memiliki layer emosi yang berbeda. ’’Bedanya mungkin layer Hanna agak jauh,” ucapnya. Walau dikenal sebagai sosok yang lantang di kampus, di balik itu Hanna juga memendam penderitaan yang dialaminya.
’’Hanna bukan yang nangis-nangis bombai, tapi small gesture-nya itu kelihatan bahwa dia nggak baik-baik aja. Kayak tangannya gemetar atau diam aja, tapi matanya gerak-gerak karena takut,” tutur Febby. Karakter tersebut semakin membuka matanya tentang kekerasan verbal yang dampaknya sering kali diremehkan.
Sayang, penggunaan bahasa dan aksen Sunda dalam dialog di film Sampai Nanti, Hanna! terasa mengganjal dan gantung. Namun, Febby menyatakan bahwa dirinya hanya menyesuaikan kebutuhan karakter.
Menguatkan pernyataan Febby, Agung menyampaikan bahwa semua yang tertuang dalam filmnya telah dikondisikan sedemikian rupa dengan zamannya. Sebab, dia lahir dan besar di Bandung seperti Hanna. ’’Saya kuliah di Bandung, angkatan ’90-an juga. Jadi, ada tema yang relevan sama hidup saya. Untuk saya, orang Bandung tidak harus yang medok karena di Bandung Utara, Bandung Selatan, dan Bandung Timur itu berbeda aksennya,” ujar Agung. (shf/c6/len)
Editor : Hendra