Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Memperingati Hari Ninja Sedunia: Mengenal Sejarah dan Menjawab Kesalahpahaman Tentang Sosok Ninja dalam Budaya Populer

Erie Dewangga • Rabu, 4 Desember 2024 | 19:45 WIB
Ilustrasi ninja
Ilustrasi ninja

JawaPos.com - Tahukah anda bahwa setiap tanggal 5 Desember diperingati sebagai Hari Ninja Sedunia? Lantas, hal apakah yang terbayang dalam benak anda ketika mendengar kata 'ninja'? Mungkin anda membayangkan pasukan prajurit misterius yang bersembunyi di balik kegelapan, menyelinap ke arah musuh-musuh mereka, dan melakukan eksekusi secara senyap.

Ya, dunia ninja menyimpan banyak rahasia. Jadi, ayo, simak artikel berikut yang mengajak anda untuk mengintip sejarah ninja, orang-orang berpakaian serba hitam yang selalu berhasil menyusup ke rumah-rumah daimyou lalim dan menjatuhkan hukuman atas nama keadilan.

Sejarah Ninja:

Tidak ada yang tahu secara pasti awal mula kemunculan pasukan misterius ini, sebab banyak teori yang membahas tentang asal usul ninja. Menurut salah satu teori yang beredar, asal mula ninja konon adalah ketika Pangeran Shotoku memberikan gelar "shinobi" kepada Ohtomo no Hosohito yang melayaninya. Peran utama shinobi adalah sebagai mata-mata yang mengawasi gerak-gerik siapapun yang berpotensi mengancam tuan yang memperkerjakan mereka.

Ninja mulai dikenal di Jepang antara abad ke-15 dan ke-17, yang juga dikenal sebagai periode Sengoku, ketika para panglima perang terus-menerus bertempur untuk mendapatkan kekuasaan. Peran ninja sangat penting dan mencakup spionase, pembunuhan senyap, dan sabotase. Banyak panglima perang menyewa ninja dari Iga dan Koga, dua klan ninja legendaris yang dikenal saat ini, sebagai tentara bayaran yang dilengkapi dengan keterampilan unik yang memudahkan penaklukan kastil dan memenangkan pertempuran.

Salah satu peristiwa ninja yang terkenal adalah Pertempuran Okehazama, yang terjadi antara Oda Nobunaga dan Imagawa Yoshimoto pada tahun 1560. Delapan puluh ninja Koga disewa oleh keluarga Tokugawa, yang merupakan bagian dari pasukan Oda, dan diberi tugas untuk menyerbu pos terdepan pasukan Imagawa yang memimpin gerombolan sebanyak 25.000 orang. Ditulis bahwa sekelompok kecil ninja menyelinap ke kastil, membakar menara, dan membunuh pemimpin kastil.

Setelah periode Edo awal, Jepang memasuki periode yang relatif stabil. Selama periode ini, keberadaan ninja berangsur-angsur menurun, tetapi teknik dan keterampilan mereka tidak hilang, dan beberapa di antaranya diwariskan melalui seni bela diri dan teater. Ninja menjunjung tinggi kode moralitas seperti samurai, dan nilai-nilai mereka memiliki pengaruh yang mendalam pada sejarah Jepang.

Baca Juga: Memperingati World Wildlife Conservation Day 2024: Revolusi Digital untuk Selamatkan Satwa Liar yang Kian Terancam Punah

Salah Paham Ikon Budaya Pop, Ternyata Ninja Sungguhan Tidak Seperti yang Ada di Film-film!

Beberapa aspek sejarah Jepang telah menarik perhatian dan daya tarik penonton global, tak terkecuali tentang eksistensi ninja. Perilisan teater James BondYou Only Live Twice pada tahun 1967, berdasarkan novel populer Ian Fleming dengan judul yang sama, mendorong gagasan ninja ke dalam budaya Pop Barat, dan tetap bertahan hingga saat ini.

Tampil dalam banyak film, permainan video, dan mungkin yang paling terkenal sebagai karakter-karakter dalam serial animasi populer, tampaknya ninja telah mampu mempertahankan minat global yang tinggi selama beberapa tahun, tetapi seberapa akurat penggambaran tersebut dengan ninja sungguhan?

Mungkin agak sulit diterima, tetapi, sebetulnya penggambaran ninja dalam beberapa media tidak terlalu akurat. Poin berikut ini akan membahas beberapa hal yang diterima secara umum tentang ninja sungguhan, berdasarkan bukti sejarah dan membandingkannya dengan stereotip dan kesalahpahaman dalam berbagai produk budaya populer.

Gagasan bahwa ninja mengenakan kostum serba hitam datang dari para penata panggung teater Kabuki. Kostum hitam dimaksudkan agar para penata panggung dapat menyatu dengan latar belakang dan tampak biasa saja jika dibandingkan dengan para aktor. Faktanya, ninja tidak mengenakan kostum serba hitam! Pada kenyataannya, ninja berusaha untuk terlihat biasa saja. Hidup mereka bergantung pada kemampuan tiap individu untuk tidak menimbulkan kecurigaan dari orang lain. Mereka ahlinya memanfaatkan stereotip masyarakat agar terlihat seperti orang biasa.

Karena reputasinya yang menakutkan, banyak orang yang percaya bahwa ninja memiliki kemampuan gaib sering kali disebut sebagai ninjutsu. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah ninja memanfaatkan kombinasi latihan fisik yang intens serta berbagai peralatan untuk mencapai hasil yang tak terbayangkan. Teknik siluman yang memungkinkan mereka menyusup ke tempat-tempat yang tak seorang pun bisa menduga, kait pengait yang memungkinkan mereka memanjat tembok dan bangunan yang tak seorang pun kira dapat dilakukan oleh manusia, dan teknik pembunuhan yang membingungkan dan membuat musuh mereka ketakutan.

Nah, ada beberapa kebenaran dalam kesalahpahaman umum ini, hubungan antara Samurai dan ninja jauh lebih rumit daripada yang disadari kebanyakan orang. Banyak panglima perang mempekerjakan tim ninja untuk membantu Samurai mereka sendiri dalam mengalahkan musuh atau mencapai tujuan mereka. Ada banyak contoh di mana pasukan Ninja membantu dan menyelamatkan Samurai dari faksi-faksi musuh. Bahkan, ada Samurai yang terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan ninja.

Shuriken, yang juga dikenal sebagai bintang lempar, dikenal sebagai salah satu senjata yang disukai oleh ninja dan dianggap umum dilempar. Orang-orang sering salah mengira bahwa senjata ini dilempar dengan akurasi tinggi. Sebenarnya, shuriken biasanya memiliki racun di bagian tajamnya dan ninja dapat menyelinap atau bahkan berjalan di siang bolong dan menggaruk atau menusuk target dengan ringan agar racun dapat bekerja dari sana.

 Baca Juga: 12 Rekomendasi Manga Bertema Fauna: Menambah Wawasan Tentang Dunia Binatang di Hari Konservasi Kehidupan Satwa Liar Sedunia

Editor : Candra Mega Sari
#sejarah #Hari Ninja Sedunia #ninja