Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Mengenal Perayaan Yule, Hari Raya Orang Pagan Kuno yang Menginspirasi Adanya Hari Raya Natal

Alberta Dionny Natanuel • Sabtu, 30 November 2024 | 14:30 WIB
Ilustrasi rusa di antara bunga es
Ilustrasi rusa di antara bunga es

JawaPos.com - Tak terasa Hari Raya Natal tahun ini makin dekat dan mulai sering ditemukan hiasan-hiasan Natal di tempat-tempat umum. Perayaan Natal adalah hari dimana umat Kristen dan Katolik merayakan kelahiran Yesus Kristus, Putra Allah. Tapi ternyata Hari Raya Natal ini terinspirasi oleh Perayaan Yule, sebuah perayaan kuno orang-orang Pagan asal daerah Skandinavia. 

Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, secara historis Yule dirayakan oleh orang-orang Jermanik, dan sekarang dirayakan oleh orang-orang Neo Pagan. 

Yule diadakan pada titik balik musim dingin. Setiap tahunnya diadakan pada 21-22 Desember di belahan bumi bagian utara, dan 20-21 Juni pada belahan bumi bagian selatan. 

Perayaan pra-Kristen yang berasal dari Skandinavia ini, bersama perayaan-perayaan pagan lainnya, kemudian diserap menjadi hari raya orang Kristen yang sekarang kita sebut Natal. 

Dilansir dari The Standard UK, Perayaan Yule mendapatkan namanya pada abad ke-9. Kata Yule berasal dari Bahasa Nordik Hweol, yang berarti roda. 

Orang-orang Nordik percaya bahwa matahari adalah sebuah roda api yang berguling mendekat dan menjauhi bumi. 

Yule tidak memiliki keterikatan pada agama tertentu, tapi berakar pada kepercayaan Jermanik dan Nordik. Saat ini masih dirayakan oleh orang-orang Jermanik, terutama di Eropa bagian utara. 

Baca Juga: Mengenal Perayaan Deepavali Umat Hindu: Awal Baru Simbol Kemenangan Cahaya Pengetahuan Atas Gelapnya Ketidaktahuan Manusia

Yule lebih sering diadakan dengan ritual-ritual berdasarkan alam untuk merayakan pergantian musim. Sedangkan Natal adalah perayaan hari raya umat Kristiani. 

Yule kurang diketahui oleh masyarakat dunia karena hanya orang-orang Pagan saja yang merayakannya sekarang. Sedangkan Natal dirayakan oleh umat Kristiani di seluruh dunia. 

Dilansir dari Norsegarde, di budaya Nordik, Yule dipercaya sebagai waktu dimana arwah-arwah orang yang sudah meninggal pergi ke dunia Lain dari dunia orang hidup dan menemukan akhirat mereka. 

Arwah-arwah mereka akan dihormati dan dirayakan pada Perayaan Yule dan hewan-hewan akan dikurbankan untuk mereka pula. 

Para sejarawan juga berpikir bahwa hewan kurban ini adalah bagian penting dalam ketaatan pada para dewa-dewi sekaligus makhluk-makhluk mitologi pula. 

Dipercaya pula bahwa sangat berbahaya untuk berada di luar sendirian pada malam Yule. Hal ini dikarenakan dipercayai mereka akan terbawa ke dunia lain sebelum waktunya. 

Orang-orang Celtik juga merayakan Yule, tapi berbeda dengan bangsa Nordik, mereka merayakan kedatangan kembali matahari dan tahun baru. 

Mereka meyakini bahwa membakar batang Yule adalah simbol dari kembalinya matahari, dan bertukar kado adalah cara untuk menghormati para dewa, serta memohon berkat untuk tahun yang baru. 

Pada jaman dulu, orang-orang Nordik dan Celtik juga menghiasi rumah mereka dengan tanaman-tanaman hijau seperti holly dan mistletoe pada Perayaan Yule. Ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa tanaman itu dapat mengusir roh jahat dan menarik keberuntungan. 

Salah satu catatan tertua mengenai Yule berasal dari seorang biarawan dan sejarawan Inggris bernama Bede, yang menuliskan catatan tersebut pada awal abad ke-8 tentang "giuli", era dimana kalender pagan kuno digunakan oleh orang-orang Nordik dan Anglo-Saxon. 

Giuli adalah rentang waktu dua bulan yang menandai waktu ketika cahaya matahari makin meningkat pada titik balik musim dingin. Sehingga bukan tercatat sebagai perayaan tapi hanya sebagai penanda waktu. 

Baca Juga: Peringatan Hari Wayang Nasional 7 November, Ini Sejarah dan Acara Perayaan Tahun 2024 oleh Senawangi!

Editor : Candra Mega Sari
#pagan #hari raya natal #perayaan yule