JawaPos.com — Pernah kepikiran tidak, kalau suatu ketika, enggak ada angin-enggak ada hujan, kamu dan teman-teman satu kelasmu tiba-tiba saja terhanyut ke sebuah dimensi hampa bersama dengan gedung sekolah kalian? Waduh, gimana, tuh?
Sudah pasti panik, iya, ‘kan?
Meskipun premis yang ditawarkan oleh Sonny Boy sangatlah menarik dan menjanjikan, tapi ternyata tak banyak yang tahu tentang eksistensi serial anime orisinal yang diproduksi oleh Studio Madhouse di bawah arahan Shingo Natsume ini, lho! Wah, kira-kira kenapa, ya?
Memangnya, bercerita tentang apa sih, anime Sonny Boy yang ‘katanya’ tidak semua orang bisa paham isinya itu? Kenapa anime ini bisa disebut sebagai anomali? Apakah karena simbolisme-simbolisme filosofis di dalamnya memang se-njelimet itu untuk dimengerti bahkan oleh orang-orang ber-rerata IQ 78 atau mereka yang ber-IPK 2,3? Benarkah klaim dari sang Sutradara bahwa hanya 2-3 persen orang saja yang bisa memahami isi serial animasi ini?
Penasaran? Yuk, kita simak ulasannya di bawah ini!
Sebuah Anomali dalam Produksi Serial Animasi
Melansir situs MyAnimeList dan anime-planet, Sonny Boy adalah serial anime orisinal tanpa media afiliasi yang diproduksi oleh Shochiku, Marui Group, dan BS Asahi; dilisensikan oleh Funimation; digarap oleh Studio Madhouse dengan para staf utama yang terlibat di dalamnya adalah Natsume Shingo (penulis naskah sekaligus sutradara), Hata Shouji (sutradara suara), dan Eguchi Hisashi (desainer karakter orisinal).
Hasil kerja orang-orang bertalenta inilah yang membuat Sonny Boy tampil unik dengan desain karakter yang sederhana terasa lebih realistis daripada kebanyakan serial anime modern; pun latar belakangnya yang seperti lukisan surealisme dipadukan dengan gerakan yang fluid untuk pose-pose statis, menjadikannya lebih hidup; nuansa ceritanya mengalir dari yang aneh, melankolis, hingga horor kosmik; dan diiringi oleh soundtrack yang dikurasi dengan baik dari potongan-potongan synthesizer, indie-rock, atau menggunakan efek-efek suara natural di sambil menyimpan musik latar untuk momen-momen penting dan menggantinya dengan semacam keheningan yang mematikan.
Sehingga, tak mengherankan apabila Sonny Boy, mengutip situs sakugablog, disebut-sebut sebagai anomali dalam media komersial, terlebih sebagai sebuah serial animasi, sebab serial ini hadir ketika seorang kreator diberikan sebuah cek kosong yang kemudian ia gunakan untuk mengeksplorasi pandangan filosofisnya sembari mencampurkan berbagai landasan budaya serta renungan pribadinya ke dalam cerita fiksi ilmiah yang unik sekaligus mampu mengubah norma produksi animasi dalam menggambarkan pandangan dunia tunggal dengan kohesi yang tak tertandingi.
Dari aspek produksinya saja, melansir situs Anitrendz dan The Magic Planet, Sonny Boy sudah membuktikan dirinya sendiri sebagai sebuah serial animasi yang unik, terlebih bila melihat pendekatan penyutradaraan Shingo Natsume yang berani serta tahu persis kapan harus benar-benar bebas-lepas dan ekspresif.
Namun, selain karena aspek produksinya, yang membuat Sonny Boy semakin menarik untuk kamu tonton adalah muatan ceritanya yang sangatlah mindblowing!
Tak Ada Angin dan Tak Ada Hujan, Tahu-tahu Gedung Sekolah Hilang!
Mengutip sinopsis yang diberikan oleh situs MyAnimeList, serial anime coming-of-age garapan Shingo Natsume (One-Punch Man, Space Dandy, Tatami Time Machine Blues, dan ACCA 13) ini bercerita tentang tiga puluh enam murid yang tiba-tiba saja mendapati diri masing-masing beserta gedung sekolah mereka sudah terombang-ambing dalam dimensi hampa di mana waktu sama sekali tidak bergerak.
Di saat mereka terus melayang tanpa tujuan di antara kekosongan ini, para siswa pun mulai bertanya-tanya: bagaimana mereka bisa terombang-ambing, bagaimana mereka akan bertahan hidup, dan bagaimana caranya mereka bisa pulang?
Ketika kekuatan supranatural perlahan bangkit dari dalam diri beberapa dari mereka, perpecahan pun mulai mencipta keretakan dalam kelompok siswa-siswi ini. Meskipun ada usaha keras dari Dewan Siswa untuk menegakkan ketertiban dan menjaga agar semua murid tetap solid, tetapi akhirnya mereka pun terseret dan ikut berselisih dengan para siswa yang kini memiliki kemampuan khusus karena mereka memilih untuk memberontak terhadap kendali mereka yang kaku dan ketat.
Pecahnya konflik tersebut membuat para murid ini kemudian menemukan fakta bahwa dunia yang baru ini memiliki seperangkat aturannya sendiri, dan mereka harus mematuhinya agar bisa bertahan hidup. Setelah salah seorang siswa memutuskan untuk mengambil risiko, gedung sekolah mereka pun tiba-tiba kembali berpindah dimensi!
Para murid yang bingung, panik, dan hilang arah ini dihadapkan dengan tantangan dan keadaan unik yang dihadirkan oleh setiap dunia, dan mereka pun harus segera mengungkap fenomena misterius tersebut sekaligus menemukan jalan pulang!
Pengembaraan Lintas Dimensi: Simbol Usaha Remaja yang Sedang Mencari Jati Diri
Sonny Boy menggambarkan berbagai tokoh unik, yang semuanya adalah remaja, masing-masing punya cerita dan motifnya sendiri-sendiri: Nagara yang biasa-biasa saja dan pesimis, Nozomi yang sempurna dan optimis, Mizuho yang keras kepala dan berpendirian teguh, Asakaze yang picik dan mudah terpengaruh, serta Rajdhani yang eksentrik dan bijaksana.
Mereka semua sangat menarik, memikat, dan realistis. Masalah-masalah para tokoh di atas begitu autentik, bahkan penonton dapat berkaca pada mereka. Namun, yang lebih mengesankan adalah bagaimana setiap peristiwa yang dikenakan pada tokoh-tokohnya, tidak peduli seberapa kecilnya, dapat saling memengaruhi perjuangan masing-masing dan perspektif mereka.
Sehingga, pada akhirnya, setiap peristiwa memiliki makna yang memberi setiap tokoh dengan kepribadian dan keunikan masing-masing yang khas. Inilah yang membuat penulisan tokoh Sonny Boy begitu bagus, sebab mereka punya motivasinya sendiri-sendiri. Meskipun kamu mungkin tidak selalu setuju dengan mereka, tetapi alasan mereka melakukan sesuatu adalah jelas.
Tempo ceritanya yang cepat juga membuka jalan bagi pengenalan dan eksplorasi berbagai tokoh, cerita, dan konteks di balik setiap tindakan mereka, yang mana pada akhirnya menjadi bermakna bagi penyelesaian cerita. Sungguh menakjubkan bagaimana setiap tokoh memegang tujuan dan kepentingan seperti itu dalam gambaran yang lebih besar.
Di sini, Sonny Boy mencoba untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan tindakan yang akan dilakukan oleh remaja, yang direpresentasikan oleh tokoh-tokohnya, ketika mereka diberi semua waktu yang ada di alam semesta untuk melakukan sesuatu dan tentang sistem sosial yang membentuk mereka menjadi diri mereka.
Alur naratif serial ini memang berfokus pada perkembangan karakter Nagara, si tokoh utama dan satu-satunya yang mengalami perkembangan karakter, dari yang awalnya ia sama sekali tidak proaktif hingga kemudian memainkan peran penting dalam perjuangan untuk kembali pulang ke dunia asalnya; yang dalam prosesnya, ia memperbaiki dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Melalui perpindahan lintas dimensi pada multisemesta inilah, Shingo Natsume menyusun narasi tentang kehancuran, keterputusan, perasaan menjalani hidup sebagai layaknya musafir, serta ketekunan dan pengorbanan yang diperlukan oleh para remaja untuk tumbuh dan melampaui hal-hal seperti itu untuk membentuk koneksi yang bermakna; dengan mana semua hal tadi diracik di tengah latar belakang para murid berkekuatan super yang mengembara melintasi dimensi antah-berantah demi bisa pulang ke rumah.
Pada titik ini, Sonny Boy terasa seperti pengembaraan dengan para tokoh yang terombang-ambing saat mereka menjelajahi dan mempelajari lingkungan sekitar dan juga diri satu sama lain. Sifat eklektik dari lompatan dunia semacam pengungkapan aturan-aturan baru serta kemampuan para siswa serta perjalanan ruang-waktu yang aneh di sepanjang seri inilah yang akan menari-nari di antara batas nalar dan logika kita sebagai penonton.
Melalui para tokoh yang berusaha melipat ruang-waktu dan melintasi berbagai dimensi demi bisa menemukan jalan untuk kembali pulang inilah, Sonny Boy berubah dari anime misteri biasa menjadi anime coming-of-age yang sarat dengan simbol-simbol filosofis yang merangkum sebuah kisah klasik tentang pendewasaan sekaligus perjalanan penemuan jati diri para remaja yang semula tak tahu harus apa dan bagaimana sebelum terjun ke masyarakat.
Pun, kata-kata penutup dari serial ini, yang diucapkan oleh Nagara, "Hidup kita baru saja dimulai. Apa yang ada di depan akan memakan waktu sedikit lebih lama," adalah penutup yang meskipun sederhana, tapi merupa pesan penting kepada para penonton agar bersiap menghadapi hidup mereka yang sesungguhnya.
Hanya Mereka yang Siap untuk Jadi Dewasalah yang Bisa Paham!
Mengutip situs animeinferno, Shingo Natsume menyatakan bahwa ia menduga hanya sekitar 2 sampai 3 persen orang saja yang mungkin akan bisa menikmati serial anime Sonny Boy dan mencapai puncak pencerahannya.
Kenapa?
Sebab Sonny Boy sendiri bukanlah anime yang mudah untuk diikuti. Sang Sutradara memang sengaja merangkainya seperti labirin yang penuh tema filosofis seperti ide di balik perang, waktu, dan keinginan manusia untuk merasa istimewa. Sebab keputusan Shingo Natsume untuk menyelami sedalam mungkin jurang filsafat, kehidupan, dan waktu, maka penonton perlu untuk menaruh perhatian mereka sepenuhnya terhadap serial ini untuk bisa memahami muatannya secara utuh.
Mengingat isinya yang sarat dengan tema-tema pendewasaan diri yang dikemas secara filosofis, maka hanya mereka yang siap untuk menjadi dewasalah yang termasuk dalam 2-3% orang yang bisa memahami serial anime garapan Shingo Natsume ini.
Memang dibutuhkan usaha dan komitmen untuk mengikuti alur cerita serial ini dengan benar. Sebab Sonny Boy menyajikan aliran kompleksitas dan kebingungan yang stabil dengan kedok premis yang sederhana dengan mana momen-momen berantakan di dalam plotnya membuka jalan bagi ketidaksempurnaan yang sempurna, sehingga membuatnya jelas menonjol di antara serial-serial anime lain.
Sehingga cara terbaik untuk menikmati serial anime avant-garde ini adalah dengan membiarkan dirimu ikut terhanyut dalam arus lika-liku alurnya seraya merasakan sendiri pengalamanmu terhadap setiap kejutan yang ada pada media filosofis ini. Menonton kedua belas episode serial anime coming-of-age ini, meskipun tidak secara binge-watch, adalah perjalanan terjal yang harus kamu lalui bila sudah berkomitmen untuk menceburkan diri ke dalamnya. Meskipun kamu akan dibiking sedikit pusing, tetapi setelah kamu melewatinya maka sampailah kamu pada momen puncak katarsis yang sesungguhnya.
Akan terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa anime yang bisa kamu tonton melalui iQIYI dan Prime Video ini tidak cocok untuk semua orang, apalagi untuk orang-orang ber-rerata IQ 78 atau ber-IPK di bawah 2,3. Sebab sebenarnya serial Sonny Boy dapat dinikmati semua orang, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa anime ini memang menuntut kesabaran dan pikiran yang terbuka.
Jika kamu bersedia memeras otak demi memecahkan teka-teki di dalam anime ini, maka hasilnya akan sepadan sebab kamu akan melihat ironi dan metafora yang cerdas dalam cerita yang kompleks dengan visual yang memukau. Serial Sonny Boy memang bukan cangkir teh untuk semua orang, tetapi tidak menonton serial animasi ini adalah sebuah kerugian, sebab mahakarya modern ini tidak boleh dilewatkan!
Editor : Hendra