Cemaran Pestisida Menempel di Sungai Tangsel, Masyarakat Diimbau Tidak Konsumsi Ikan Cisadane

JawaPos.com - Upaya netralisir cemaran pestisida di sungai Jaletreng, anak sungai Ciliwung, Banten terus dilakukan. Diantaranya dengan penuangan 10 ribu liter cairan ecoenzym di Kota Tangerang Selatan (8/3). Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq memimpin langsung proses penuangan ecoenzym itu.
Kegiatan penuangan 10 ribu liter ecoenzym di Sungai Jeletreng, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) itu digelar oleh Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi). Bertepatan dengan peringatan ulang tahun Gemabudhi yang ke-40 tahun. Hujan yang mengguyur, tidak menyurutkan ratusan pemuda Gemabudhi untuk ikut menuangkan cairan ecoenzym ke sungai Jaletreng.
Hanif menceritakan sekitar sebulan lalu, ada insiden kebakaran gudang penyimpanan pestisida di kawasan Serpong. Air dari pemadaman kebakaran, tercampur dengan pestisida kemudian mengalir ke sungai Jaletreng. "Harusnya pemadaman dilakukan dengan busa," kata Hanif.
Akibat pemadaman kebakaran yang tidak sesuai prosedur itu, terjadi cemaran pestisida di sungai Jaletreng. Kemudian mengalir sampai ke Sungai Cisadane dan bermuara di Teluk Naga. Total aliran sungai yang tercemar mencapai 41 KM lebih. Membunuh ikan dan makhluk hidup di sepanjang sungai yang tercemar.
Baca Juga: Ampuh Turunkan Kadar Gula Darah, Inovasi Tempe Biji Trembesi Karya SMA di Tangsel Borong Medali ISPO
Dia bersyukur aliran sungai Jaletreng cukup besar. Yaitu mencapai 70 meter kubik tiap detik. Sehingga mampu membantu menetralisir cemaran pestisida. "Tetapi masih ada kandungan pestisida yang menempel di sedimen-sedimen," katanya. Hanif mengatakan dengan cairan ecoenzym itu, diharapkan bisa membantu menetralisir residu atau sisa-sisa cemaran pestisida yang menempel di sungai.
Hanif mengingatkan masyarakat untuk sementara tidak beraktivitas di sungai Jaletreng maupun Cisadane yang tercemar Pestisida. Termasuk mengkonsumsi ikan atau sejenisnya yang dihasilkan dari Cisadane. Tujuannya untuk mengurangi resiko cemaran pestisida masuk ke tubuh.
Dia mengapresiasi kegiatan Gemabudhi lewat penyediaan 10 ribu liter cairan ecoenzym. Dia mengatakan membuat ecoenzym sendiri tidak mudah. Butuh waktu sekitar tiga bulan. Selain itu dibutuhkan sekian tok limbah sayuran dan buah-buahan sebagai bahan bakunya. Sehingga wajar jika kegiatan penuangan 10 liter cairan ecoenzym itu mendapatkan rekor MURI.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag Supriadi. Dia mengatakan di dalam Buddha diajarkan untuk menjaga lingkungan tetap bersih.
"Karena kita, umat manusia tinggal di bumi ini," jelasnya.
Supriyadi juga mengatakan manusia dapat hidup serta mendapatkan penghidupan dari alam. Sehingga alam harus terus dijaga, supaya tetap lestari.
Dia mengatakan program cairan ecoenzym sebelumnya dilakukan di Ancol, untuk mengatasi persoalan-persoalan lingkungan setempat. Upaya serupa akan terus dilakukan ke depannya.






