Merespons ketika Anak Ditegur Guru: Dengarkan secara Objektif dan jika Keberatan, Diskusikan dengan Pengajar

JawaPos.com - Mendengar anak ditegur guru sering kali memicu beragam emosi pada orang tua. Ada yang bisa menerima dengan bijak, namun tak sedikit yang merasa khawatir, kecewa, bahkan marah. Bagaimana cara yang tepat meresponsnya?
Banyak kasus orang tua yang tidak terima anaknya ditegur guru hingga melakukan pelaporan, pengancaman, bahkan penganiayaan. Sebetulnya, apa yang menyebabkan orang tua menjadi marah saat anaknya ditegur karena melakukan kesalahan?
”Pada dasarnya ada banyak penyebab. Salah satunya, rasa kepedulian dan naluri ortu untuk selalu memberikan yang terbaik. Beberapa pola asuh juga memberikan perhatian lebih dan tidak pernah memarahi anaknya,” ungkap Sakinah Hasimiyah Al Hinduan MPsi Psikolog.
Hindari Terpancing Emosi
Ortu hendaknya dapat bersikap objektif ketika anak mengadu ditegur guru. Cobalah untuk tenang dan tidak terpancing emosi agar dapat mencerna informasi dengan baik. Meski, sulit melihat anak bercerita dengan keadaan sedih atau menangis.
”Tunggu anak mereda jika memang menangis. Tanyakan secara perlahan apa tindakan guru dan perilaku yang dilakukan anak hingga guru menegurnya,” ujar psikolog pendidikan di Anthophilia Coworking Space, Malang, itu.
Jika Perlu, Konfirmasi kepada Guru
Jika perlu, lanjut Sakinah, lakukan konfirmasi kepada guru sehingga ortu memiliki berbagai perspektif. Ortu tidak boleh tutup mata terkait karakter dan sikap anak. Jika anak memang melakukan kesalahan, ortu harus bisa legawa.
”Ada baiknya ortu mencari tahu informasi berkaitan dengan aturan yang ditetapkan pihak sekolah dalam mendisiplinkan murid. Jadi, ketika dirasa tidak sesuai prinsip, ortu dapat mempertimbangkan mencari sekolah yang sesuai dengan value keluarga,” imbuhnya.
Guru Menjelaskan Aturan
Di awal pertemuan, guru pun sebaiknya menjelaskan kepada murid-muridnya terkait ketentuan dan aturan yang diterapkan di dalam kelas. Dengan begitu, murid juga paham bagaimana harus bersikap dan konsekuensi yang akan dihadapi jika tidak mengikuti aturan.
Jika hal itu sudah disepakati, guru perlu memperhatikan bentuk teguran yang diberikan. ”Antara lain, tidak menggunakan cap-cap negatif dan kasar. Gunakan pendekatan personal secara empat mata. Jika harus menegur di dalam kelas dan di depan banyak murid, kondisikan murid lain untuk menjadikannya pelajaran bersama dan tidak menertawakan,” jelasnya.
Guru perlu bijak mengambil sikap dalam mendisiplinkan anak. Tindakan kekerasan tidak dibenarkan. Alih-alih membentak apalagi memukul, ajak anak berbicara terkait alasan di balik tindakannya itu.
Baca Juga: Jelang Pilkada Serentak 2024, Mendikdasmen Abdul Mu'ti Imbau Guru Harus Netral dan Jangan Golput
Bentuk Teguran Sesuai Jenjang
Sakinah menyebut cara menegur di tiap jenjang pendidikan berbeda. ”Di usia dini, anak masih didominasi emosi dan belum mengetahui benar salah sehingga guru dapat menggunakan pendekatan emosional dengan berbicara secara lembut serta memberikan contoh perilaku yang tepat,” bebernya.
Di jenjang sekolah dasar, anak umumnya sudah mengetahui bahwa ada aturan yang perlu ditaati selama di sekolah dan paham sebab akibat. Guru bisa memberikan penjelasan terkait alasan anak tidak boleh melakukan suatu tindakan dan memberikan konsekuensi.
”Di sekolah menengah, anak sedang mencari identitas diri sehingga perhatikan teguran yang diberikan agar tidak menghancurkan harga dirinya. Guru dapat coba menegur dengan diskusi terbuka. Perhatikan pula penyampaiannya, jika bisa jangan di depan kelas,” lanjutnya.
Perlu diketahui, bentuk teguran di masa kini dan masa lampau tidak bisa disamakan. Butuh penyesuaian pendekatan sesuai zamannya. Sebab, teguran sekecil apa pun dapat memengaruhi anak. Baik kepercayaan dirinya maupun motivasi belajar.
”Jika treatment teguran yang diberikan tidak tepat, anak akan merasa tidak percaya diri di lingkungan sekolah sehingga sulit menjalin relasi dan cenderung menutup diri. Dampak lain, murid yang menyaksikan bisa ikut-ikutan memberi label negatif,” tutur Sakinah.
Apabila merasa keberatan, ortu boleh melakukan diskusi terbuka dengan guru. Jelaskan dengan detail titik keberatannya di bagian mana dan guru dapat menjelaskan alasannya melakukan teguran tersebut. Dapat dicari titik temu jika ada concern tertentu dan dirasa kurang efektif untuk tumbuh kembang anak. (lai/c7/nor)
*Sakinah Hasimiyah Al Hinduan MPsi Psikolog, psikolog pendidikan



