Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

UGM Ungkap Penyebab Utama Banjir Bandang Sumatra-Aceh, Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem

Siti Nur Qasanah • Selasa, 9 Desember 2025 | 09:46 WIB
Banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, pada Senin malam (13/11) merusak sejumlah infrastruktur dan menyebabkan seorang balita tewas. (BPBD Kabupaten Aceh Tenggara)
Banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, pada Senin malam (13/11) merusak sejumlah infrastruktur dan menyebabkan seorang balita tewas. (BPBD Kabupaten Aceh Tenggara)

JawaPos.com - Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada penghujung November meninggalkan kerusakan besar. Ratusan desa terendam, infrastruktur penting lumpuh, dan bencana ini merenggut ratusan korban jiwa.

Dilansir dari bnpb.go.id, per 9 Desember 2025 pukul 9.42 WIB, sedikitnya ada 962 orang meninggal dunia, sementara 291 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, sekitar 5.000 orang mengalami luka-luka akibat bencana yang menerjang berbagai wilayah tersebut.

Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, menegaskan bahwa bencana banjir bandang tersebut bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Para pakar melihatnya sebagai bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat dalam 20 tahun terakhir. Menurutnya, perpaduan faktor alam dan aktivitas manusia turut memicu kejadian tersebut.

Dilansir dari ugm.ac.id, berikut adalah sejumlah faktor yang menjadi penyebab banjir bandang menurut Hatma:

1. Curah Hujan Ekstrem

Hatma menjelaskan, curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 300 milimeter per hari di beberapa wilayah menjadi pemicu awal terjadinya banjir bandang. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di Selat Malaka.

2. Kerusakan Ekosistem Hutan di Kawasa Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS)

Namun, ia menegaskan bahwa dampak besar bencana bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca ekstrem. Kerusakan hutan di kawasan hulu DAS menjadi faktor utama yang memperparah situasi.

Hilangnya tutupan hutan membuat kemampuan tanah untuk menyerap air menurun drastis, sehingga hujan lebat langsung berubah menjadi limpasan besar yang memicu erosi, longsor, hingga banjir bandang.

3. Deforestasi Masif

Deforestasi masif di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, termasuk di kawasan penting seperti Batang Toru dan bentang alam Bukit Barisan, menurunkan fungsi hidrologis hutan. Sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan sungai juga memperbesar risiko luapan air.

4. Penataan dan Pengendalian Kawasan yang Lemah

Selain itu, lemahnya penataan ruang serta maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan aktivitas ilegal turut memperburuk kondisi. Hatma menyebut rangkaian perusakan ekologis ini sebagai "dosa lingkungan" yang akhirnya memicu bencana besar.

Ia menekankan bahwa perbaikan tata lingkungan, perlindungan hutan, rehabilitasi lahan kritis, serta penguatan sistem peringatan dini harus menjadi prioritas. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi titik balik agar pembangunan ke depan berjalan selaras dengan daya dukung alam.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#Sumatra #longsor #aceh #banjir bandang