JawaPos.com - Setiap tahun, jutaan orang di berbagai belahan dunia harus menghadapi dampak bencana alam. Kejadian ekstrem seperti banjir bandang, tanah longsor, hingga gempa bumi sering kali menimbulkan korban dan kerugian besar bagi masyarakat.
Selain faktor alam, risiko tersebut juga diperparah oleh keterbatasan kemampuan pihak berwenang dalam menangani dan merespons situasi darurat. Ketidaksiapan ini membuat dampak bencana semakin sulit dikendalikan.
Melihat keterkaitan antara frekuensi bencana dan kapasitas pemerintah dalam mengurangi dampaknya, JP Tangsel merilis daftar berisi 10 negara yang dinilai paling aman untuk ditinggali ketika bencana alam terjadi versi WorldRiskIndex 2025.
Bagaimana Risiko Bencana Alam Diukur di Seluruh Dunia?
Risiko bencana alam di berbagai negara ternyata dapat dihitung melalui sejumlah metode khusus. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah WorldRiskReport (WRR), laporan tahunan yang disusun Bündnis Entwicklung Hilft bersama Institut Hukum Perdamaian dan Konflik Bersenjata Internasional (IFHV). Laporan ini memberikan gambaran global mengenai tingkat ancaman bencana sekaligus menyoroti pentingnya pencegahan dan upaya adaptasi untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.
WRR berbasis pada WorldRiskIndex (WRI) yang menilai 193 negara menggunakan 27 indikator. Indikator tersebut dikelompokkan dalam lima komponen utama, mulai dari tingkat paparan bencana, kondisi sosial-ekonomi masyarakat, hingga kemampuan negara dalam menangani dan beradaptasi terhadap bencana.
Penyusunnya mengakui sejumlah tantangan dalam memperbarui laporan, termasuk perubahan data akibat pandemi COVID-19 dan konflik bersenjata di beberapa kawasan.
Lima komponen tersebut meliputi:
Paparan: persentase penduduk yang berisiko terdampak gempa bumi, banjir, siklon, kekeringan, tsunami, hingga kenaikan permukaan laut.
Kerentanan: faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan yang membuat wilayah lebih mudah terkena dampak bencana.
Kerawanan: kemungkinan masyarakat mengalami dampak berat akibat kondisi infrastruktur atau sosial-ekonomi, seperti kemiskinan dan gizi buruk.
Kapasitas Penanggulangan: kemampuan suatu wilayah merespons bencana dan mempercepat pemulihan. Dalam laporan WRI, aspek ini diukur dari sisi “kurangnya kapasitas penanggulangan”.
Kapasitas Adaptif: upaya jangka panjang untuk beradaptasi, misalnya lewat peningkatan pendidikan, mitigasi iklim, dan kesiapsiagaan. WRI menilai dari sisi “kurangnya kapasitas adaptif”.
Peta Risiko Bencana Global
WorldRiskIndex 2025 mencakup seluruh negara anggota PBB dan lebih dari 99 persen populasi dunia. Dari hasil pemetaan, Asia dan Amerika diperkirakan tetap menjadi kawasan dengan risiko bencana tertinggi sepanjang 2025. Sementara itu, Afrika masih menjadi benua paling rentan, dengan lebih dari 80 persen wilayahnya masuk kategori “risiko tinggi” dan “sangat tinggi”.
Filipina kembali menempati posisi teratas sebagai negara paling berisiko terhadap bencana alam. Kerentanan geografis dan cuaca ekstrem membuat negara ini secara konsisten berada di puncak daftar, termasuk pada laporan tahun 2022 dan 2024 lalu.
10 Negara Teraman di Dunia dari Risiko Bencana Alam
Menurut WorldRiskIndex 2025, berikut daftar 10 negara dengan risiko bencana alam terendah. Semakin kecil tingkat paparannya, semakin aman suatu negara dari ancaman gempa bumi, banjir, tanah longsor, maupun bencana besar lainnya.
10. Qatar – WRI 0,88
Qatar menjadi salah satu negara dengan paparan bencana paling rendah (0,11). Infrastruktur modern dan kapasitas penanggulangan yang kuat membuat tingkat kerentanannya juga rendah (7,12). Minimnya ancaman bencana besar menjadikan negara ini cukup aman ditinggali.
9. Bahrain – WRI 0,87
Sebagai negara kepulauan di Teluk Persia, Bahrain memiliki risiko sangat kecil terhadap kenaikan permukaan laut maupun banjir besar (paparan 0,14). Kerentanannya pun rendah (5,45), didukung pembangunan yang maju serta kemampuan adaptasi yang tinggi.
8. Belarusia – WRI 0,72
Belarusia, negara yang terkurung daratan di Eropa Timur, hampir tidak memiliki paparan terhadap gempa besar maupun tsunami (0,05). Meski kerentanannya tergolong sedang (10,44), posisinya yang berada di lempeng tektonik stabil serta manajemen bencana pemerintah membuatnya masuk daftar negara aman.
7. Liechtenstein – WRI 0,68
Terletak di antara Austria dan Swiss, Liechtenstein memiliki paparan bencana yang sangat rendah (0,09). Kerentanan negara ini pun kecil (5,07), berkat kapasitas penanggulangan yang sangat baik. Meski hampir bebas dari gempa besar dan kebakaran hutan, risiko longsoran salju tetap menjadi perhatian.
6. Singapura – WRI 0,67
Sebagai negara kota dengan kepadatan tinggi, Singapura justru memiliki tingkat paparan rendah (0,15). Kerentanannya pun sangat kecil (2,99) karena sistem mitigasi risiko yang canggih dan perencanaan jangka panjang yang matang. Negara ini juga berada jauh dari zona gempa aktif.
5. Sao Tome and Principe – WRI 0,61
Negara kepulauan di Teluk Guinea ini memiliki paparan sangat rendah (0,02). Namun, kerentanannya berada di tingkat sedang (18,86) karena infrastruktur yang belum memadai. Negara ini masih rentan terhadap banjir dan kenaikan permukaan laut meski relatif aman dari ancaman gempa.
Baca Juga: Peringati HUT Tangsel ke-17, Ribuan Warga Ikuti Color Bubble Run di BSD Serpong
4. Luksemburg – WRI 0,57
Dengan paparan bencana yang sangat minim (0,06), Luksemburg menjadi salah satu negara Eropa paling aman. Kerentanannya juga rendah (5,48), didukung kapasitas adaptasi yang tinggi berkat pembangunan nasional yang stabil dan tertata.
3. San Marino – WRI 0,35
Negara mikro di Semenanjung Italia ini memiliki paparan bencana yang sangat kecil (0,03). Kerentanannya rendah (4,08), diperkuat kemampuan penanggulangan dan adaptasi yang baik. San Marino juga terus memperkuat mitigasi melalui riset dan kerja sama internasional.
2. Andorra – WRI 0,29
Terletak di Pegunungan Pyrenees, Andorra memiliki paparan bencana yang sangat rendah (0,02). Kerentanannya juga kecil (4,07), dengan sistem adaptasi yang kuat. Meski begitu, kondisi pegunungan tetap menyisakan risiko seperti longsor dan longsoran salju.
1. Monako – WRI 0,18
Monako dinobatkan sebagai negara teraman di dunia dari risiko bencana. Dengan paparan hanya 0,02 dan kerentanan terendah secara global (1,55), Monako hampir bebas dari ancaman banjir besar, siklon, hingga aktivitas vulkanik.
Lokasinya yang terlindungi di antara Laut Mediterania dan Pegunungan Alpen, ditambah infrastruktur tangguh serta aturan bangunan yang ketat, membuat negara ini memiliki tingkat ketahanan bencana terbaik. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah