Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Bukan Sekadar Bulan Purnama Biasa, Ini Fakta Menarik Strawberry Moon

Indri Ramadani • Jumat, 13 Juni 2025 | 11:00 WIB
Strawberry Moon. (Pexels/Bukan Fogotrafer)
Strawberry Moon. (Pexels/Bukan Fogotrafer)

JawaPos.com - Beberapa malam terakhir, langit malam menjadi topik hangat di media sosial. Banyak orang penasaran dengan kemunculan bulan purnama yang disebut sebagai Strawberry Moon. Nama yang manis ini ternyata menyimpan cerita menarik di balik penamaannya.

Meski terdengar seperti bulan berwarna merah muda, kenyataannya tidak demikian. Bulan ini tetap terlihat seperti bulan purnama biasa—kadang kekuningan, kadang keperakan, tergantung cuaca dan lokasi. Nama "Strawberry Moon" bukan merujuk pada warnanya, tapi pada musim panen stroberi di Amerika Utara.

Dikutip dari abc.net.au, fenomena ini sebenarnya hanya penamaan tradisional untuk bulan purnama yang muncul di bulan Juni. Nama-nama seperti ini berasal dari budaya suku asli Amerika dan kemudian dipopulerkan oleh publikasi seperti The Old Farmer’s Almanac. Di sana, setiap bulan purnama punya nama sendiri seperti "Hunter’s Moon" atau "Snow Moon".

Namun, yang membuat Strawberry Moon tahun ini begitu istimewa bukan cuma namanya. Menurut timesofindia.indiatimes.com, posisi bulan ini lebih rendah dari biasanya di langit malam, dan itu terjadi karena siklus astronomi langka bernama major lunar standstill. Siklus ini hanya terjadi setiap 18,6 tahun sekali.

Saat lunar standstill terjadi, posisi terbit dan terbenam bulan menyimpang lebih jauh dari biasanya—baik ke utara maupun ke selatan. Di Inggris, bulan tampak sangat rendah di langit, sedangkan di Australia, justru terlihat sangat tinggi. Di belahan Bumi selatan, bulan bisa berada tepat di atas kepala saat tengah malam.

Kalau Anda merasa bulan terlihat lebih besar dari biasanya, itu bukan ilusi. Fenomena ini disebut Moon Illusion, di mana bulan tampak membesar saat berada dekat horison. Padahal ukuran bulan tidak berubah, hanya persepsi kita yang tertipu karena posisi dan kontras di langit.

Meskipun terdengar asing, masyarakat zaman dulu sangat peka terhadap siklus seperti ini. Mereka memanfaatkan pergerakan bulan untuk mengatur waktu, musim, dan bahkan acara spiritual atau adat. Tanpa polusi cahaya dan gangguan teknologi, langit malam kala itu adalah kalender alami mereka.

Bagi kita yang hidup di zaman modern, aplikasi stargazing bisa membantu memahami fenomena ini. Anda bisa melihat arah terbit dan lintasan bulan dari tahun ke tahun lewat aplikasi itu. Bahkan, Anda bisa memotret posisi bulan tahun ini, lalu membandingkannya 9 atau 18 tahun mendatang.

Jadi, meskipun bulan purnama kali ini tidak merah muda dan tak ada gerhana, ia tetap punya keunikan yang layak disaksikan. Langit malam menyimpan banyak kisah, dan Strawberry Moon adalah salah satunya. Lain kali saat Anda mendongak ke langit, siapa tahu Anda sedang menyaksikan potongan kecil dari siklus yang hanya datang puluhan tahun sekali. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#Strawberry Moon #Bulan purnama