Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Tembok Berlin: Ketika Satu Bangsa Dipisahkan oleh Satu Tembok, dan Runtuhnya Membawa Harapan Baru

Viandra Rizqi • Selasa, 18 Maret 2025 | 17:19 WIB

Tembok Berlin (Dok. RFI)
Tembok Berlin (Dok. RFI)
JawaPos.com - Sejarah memiliki cerita yang menyenangkan dan menyedihkan bagi suatu bangsa dan negara. Namun, sejarah yang menyedihkan dapat menjadi peristiwa emosional yang membanggakan dan menyenangkan bagi bangsa yang mengalami. Salah satu dari cerita yang awalnya menyedihkan dan kemudian menjadi simbol kekuatan suatu bangsa dan negara adalah Tembok Berlin. 

Pada dekade 1960-an, perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet telah mencapai titik puncaknya. Saat itu Invasi Soviet ke Hungaria tahun 1956 dan insiden U2 masih jernih di antara penduduk kedua negara. Menurut Amerika Serikat, Uni Soviet telah melakukan pelanggaran kedaulatan Hongaria dan mengecam bersama sekutunya. Di lain sisi, Uni Soviet menganggap AS telah bertindak sebagai musuh karena mengirim pesawat mata-mata ke wilayah udara mereka.

Tahun 1961, AS memiliki Presiden yang baru yakni John F. Kennedy (JFK). Setelah JFK menjabat selama tiga bulan atau tepatnya pada April 1961, ketegangan kembali menguasai hubungan AS-Soviet. Hal ini dikarenakan penduduk Kuba anti Castro menyerang Kuba dengan bantuan AS untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro yang didukung oleh Uni Soviet.

Serangan yang dikenal sebagai Bay of Pigs Invasion ini menyebabkan kekalahan yang cukup memalukan bagi AS dan pasukan Kuba anti Castro. Dilansir dari history.com, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya rencana yang tidak disusun rapi, terbongkarnya rencana itu oleh pemerintahan Castro, dan perairan yang cukup dangkal sehingga secara tidak sengaja ikut menggagalkan invasi. Semantara itu, di Jerman terdapat perpindahan penduduk secara massal dari wilayah Jerman Timur (yang pasca PD II diduduki Soviet) ke Jerman Barat (yang diduduki oleh Sekutu Barat termasuk AS).

Pemisahan kedua negara juga terjadi di Ibu Kotanya, yakni Berlin yang terbagi menjadi Berlin Barat (Jerman Barat & Sekutu Barat) dan Berlin Timur (Jerman Timur & Uni Soviet). Pada Agustus 1961, petinggi Jerman Timur dan Soviet sudah habis kesabarannya dalam membiarkan warga yang terus berpindah ke Berlin Barat. Solusinya adalah dengan membangun tembok yang dilengkapi oleh menara pengawas dan penjagaan yang ketat di batas kedua kota.

Dilansir dari stiftung-berliner-mauer.de, tembok ini memiliki luas sepanjang 155 km yang membelah Berlin Barat dan Timur selama 28 tahun. Tembok ini memisahkan dua bangsa dari 13 Agustus 1961 hingga 9 November 1989. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tujuan dari pembuatan tembok ini adalah agar mencegah penduduk Berlin Timur bermigrasi ke Berlin dan Jerman Barat dengan mudah.

Warga Berlin dan Jerman kini tinggal dalam keadaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Banyak sekali warga Belin yang terpisah dari keluarga ataupun teman yang tertinggal, di sisi lain tembok itu ditutupi dengan penjagaan yang semakin ketat. Pada tahun 1963, tembok Berlin ditambahkan dengan pagar guna menguatkan dan melebarkan pertahanan agar pelarian warga dari Berlin Timur semakin sulit.

Pada dekade 1970-an, petinggi Jerman Timur meminta agar "tembok kedua" ditambahkan sehingga memblokir perbatasan antara Berlin Barat dan Timur. Pada malam hari, tembok Berlin dilengkapi dengan menara pengawas yang masing-masing berjarak 250 meter dan anjing pelacak yang dapat membantu tentara penjaga untuk mendeteksi seseorang yang melarikan diri. Deretan lampu yang dipasang dari menara-menara pengawas semakin mempersulit warga Berlin Timur yang ingin kabur ke daerah Berlin Barat. 

Akhir 1970-an, petinggi Jerman Timur mulai menghilangkan berbagai jenis penghalang seperti bunker dan rintangan kendaraan. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dan menciptakan citra yang baik bagi Ibu Kota Jerman Timur. Sejak tahun 1983 hingga menjelang keruntuhannya pada tahun 1989, hampir semua rintangan telah dihilangkan dari perbatasan terkecuali untuk tembok itu sendiri.

Sepanjang berdirinya Tembok Berlin terdapat 140 orang yang kehilangan nyawa di antara tahun 1961 hingga 1989. Dari 140 orang, 91 orang di antaranya adalah mereka yang ingin melarikan diri dari Berlin dan Jerman Timur. Sementara itu, perintah untuk berhenti menembak baru dicabut pada April 1989 dan menjadi benar-benar tidak berlaku pada November 1989 menjelang runtuhnya tembok Berlin itu sendiri. 

Presiden Ronald Reagan berpidato di Berlin Barat, 1987 (Dok. CBS News)
Presiden Ronald Reagan berpidato di Berlin Barat, 1987 (Dok. CBS News)

Dua Presiden Amerika Serikat pernah melakukan pidato di depan Gerbang Brandenburg yang kebetulan juga dilewati oleh Tembok Berlin. Yang pertama adalah John F. Kennedy (JFK) tahun 1963 dan kedua adalah Ronald Reagan tahun 1987 yang menyerukan agar Pemimpin Uni Soviet saat itu, Mikhail Gorbachev segera membongkar tembok. Reagan memberi pernyataan itu agar Gorbachev memberi kebebasan dan memberikan perdamaian di dunia dan warga Jerman yang masih terbagi menjadi dua negara saat itu.

Jatuhnya Tembok Berlin, November 1989 (Dok. Politico)
Jatuhnya Tembok Berlin, November 1989 (Dok. Politico)

Tembok Berlin pada akhirnya jatuh pada 9 November 1989. Runtuhnya tembok ini dikarenakan warga Jerman Timur sudah tidak menginginkan berada di bawah pemerintah Jerman Timur yang otoriter dan berada di bawah bayang-bayang Uni Soviet. Pada akhirnya, Jerman Barat dan Timur bersatu kembali atau reunifikasi pada 1 Oktober 1990 dan Tembok Berlin telah menjadi sejarah kelam bagi bangsa Jerman dan dunia. Namun, di lain sisi runtuhnya Tembok Berlin juga menjadi sumber persatuan dan kesatuan dari bangsa dan negara Jerman. 

Baca Juga: A Bridge Too Far: Kisah Kegagalan Tragis Sekutu pada Operasi Market Garden

Editor : Candra Mega Sari
#sejarah #jerman #tembok berlin #sekutu