Untuk contoh, Inggris dan Perancis pernah meremehkan kemampuan Jerman untuk menyerang Perancis dari hutan Ardennes pada tahun 1940. Hasilnya, Jerman benar-benar berhasil dan dalam sebulan saja Perancis yang merupakan salah satu negara terkuat di dunia saat itu menyerah karena strategi Jerman yang cukup brilian.
Di lain sisi, Jerman juga mengalami hal yang sama. Pada tahun 1941, Jerman menyerang Uni Soviet dan memiliki anggapan bahwa negara itu dapat dikuasai dalam waktu yang singkat, tentu saja mereka mengalami kemenangan yang gemilang pada tahap awal kampanye, namun perlawanan yang sengit dari pihak Soviet sangatlah melambatkan laju pasukan Jerman. Ending dari kampanye militer adalah Jerman gagal mengalahkan Uni Soviet karena musim dingin yang sangat intens dan pasukan cadangan Soviet yang tak terbatas, ironisnya di kemudian hari justru Soviet menjadi pihak yang mengalahkan Jerman empat tahun kemudian.
Tahun 1944, Jerman sudah berada di ambang kekalahan baik terhadap Sekutu Barat di Eropa Barat dan Uni Soviet di Eropa Timur. Pada 6 Juni 1944, Pasukan Sekutu Barat yang terdiri dari pasukan AS, Inggris, Kanada, Perancis, Polandia, dan lainnya telah melaksanakan pendaratan di Pantai Normandia, Perancis sebagai bagian dari Operasi Overlord yang bertujuan untuk mengusir Jerman dari Perancis. Dilansir dari history.navy.mil, operasi itu berjalan sangat sukses dan memberikan pukulan psikologis bagi Jerman karena berhasil melumpuhkan sebagian besar pasukannya di Eropa Barat dan berhasil diusir dari Perancis pada Bulan Agustus 1944.
Kesuksesan itu diikuti oleh pembebasan Belgia dan Luksemburg pada awal September 1944 dan membuat petinggi militer Sekutu bahwa mereka harus membebaskan Belanda setelahnya dengan kode nama Operasi Market Garden. Dilansir dari britannica.com, tujuan dari operasi adalah untuk melewati garis pertahanan Siegfried dan merebut wilayah Industri Ruhr yang merupakan daerah industri persenjataan utama Jerman serta membebaskan Belanda yang masih diduduki oleh Jerman dengan merebut tiga jembatan di Kota Arnhem, Eindhoven, dan Nijmegen yang terbentang tepat diatas Sungai Rhein dan kemudian menyerang garis belakang pertahanan Jerman guna mencapai kawasan industri Ruhr. Operasi ini dipimpin oleh Marsekal Lapangan Bernard "Monty" Montgomery yang percaya bahwa jika Jerman berhasil dikalahkan dalam kampanye militer ini perang akan berakhir saat perayaan natal.
Pada 17 September 1944, Operasi Market Garden resmi dimulai ketika tiga divisi pasukan payung Sekutu yang terdiri dari Divisi ke-101 Lintas Udara AS, Divisi ke-82 Linud AS, dan Divisi ke-1 Linud Inggris mulai berangkat dari pangkalan di Inggris menyeberangi Laut Utara menuju Belanda. Dilansir dari history.com, Divisi ke-101 Linud AS bertanggung jawab dalam merebut Eindhoven dan jembatannya, Divisi ke-82 Linud AS bertugas merebut jembatan diatas Sungai Waal dan Kota Nijmegen, dan Divisi ke-1 Linud Inggris yang terdiri dari gabungan tentara Inggris dan Polandia dengan julukan The Red Devil bertugas merebut Jembatan di Kota Arnhem. Masalah mulai muncul ketika Pasukan Inggris dijatuhkan 8 Mil dari titik jatuh mereka yang seharusnya karena cuaca yang buruk dan juga Pertahanan Anti Udara Jerman yang kuat.
Sementara itu, di darat Korps ke-30 Pasukan Inggris bergerak langsung menuju Eindhoven guna mendukung Pasukan Linud AS. Namun, untuk sementara waktu mereka berhasil ditahan oleh meriam Jerman sebelum akhirnya berhasil dikalahkan. Dengan pesatnya kemajuan pasukan Sekutu, Komandan Grup B AD Jerman Walther Model memerintahkan setiap Jembatan untuk dilindungi dan diledakkan jika perlu. Di Nijmegen, Pasukan ke-82 Linud AS mengalami pertarungan yang sengit dan berhasil merebut Jembatan tersebut keesokan paginya dengan bantuan dari Korps ke-30 Inggris pada 18 September 1944.
Pada saat itulah momen meremehkan kekuatan Jerman yang sudah dianggap lemah sejak pendaratan di Perancis menjadi fatal. Dilansir dari pegasusarchive.org, Dutch Resistance atau perlawanan bawah tanah Belanda telah memberikan intelijen kepada Sekutu bahwa terdapat Dua Divisi Lapis Baja Pasukan SS Jerman yang beroperasi di sekitar Arnhem. Namun, peringatan itu justru ditolak mentah-mentah oleh Marsekal Montgomery. Di Kemudian hari, banyak pakar yang mengecam tanggapan Montgomery akan laporan itu karena bisa saja Sekutu memenangi Operasi Market Garden jika saja Laporan dari Dutch Resistance ditanggapi dengan serius.
Jejak yang sama juga dilakukan oleh berbagai Komandan Inggris seperti Komandan Korps ke-30 Inggris Letnan Jenderal Brian Horrocks dan Komandan PAsukan Linud ke-1 Inggris Letnan Jenderal Frederick Browning. Pada 20 September 1944, Kota Nijmegen dan Eindhoven berhasil dibebaskan oleh Sekutu, namun Pasukan Linud ke-1 Inggris justru terperangkap oleh Pasukan Divisi Lapis Baja ke-9 dan ke-10 dari Korps Panzer ke-2 SS Jerman. Pasukan Inggris yang terdapat di dalam kota pimpinan Letnan Kolonel John Frost melakukan pertahanan gagah berani namun mereka tidak mampu menghadapi serangan Jerman tanpa adanya suplai dan bantuan dari darat.
Tidak adanya bantuan dari darat dan semakin kekurangan orang serta amunisi mengakibatkan Frost dan anak buahnya menyisakan satu harapan, yaitu Pasukan Polandia. Pada awalnya, Pasukan Polandia di bawah pimpinan Jenderal Stanislaw Sosabowski dapat berangkat bersama Pasukan Frost, namun terhambat karena cuaca yang buruk dan baru mendarat di dekat Arnhem pada 21 September 1944. Namun, sama seperti Pasukan Linud Inggris, mereka juga dihadapkan dengan pertahanan udara Jerman yang tidak kalah gigihnya dan mengalami korban yang besar saat pendaratan.
Dengan demikian, rencana Montgomery mengalami kekalahan yang memalukan terhadap Pasukan Jerman yang dianggap sudah lemah dan dia menolaknya kata gagal dengan menganggap bahwa Market Garden telah sukses sebanyak 90 persen sebagaimana yang dikutip dari battle-of-arnhem.com. Sekutu masih harus berperang dengan Jerman selama 8 bulan lamanya karena gagalnya Market Garden. Operasi ini kemudian diabadikan dalam novel (1974) dan film yang berjudul A Bridge Too Far (1977) yang dibintangi oleh Gene Hackman, Michael Caine, Sean Connery, James Caan, Edward Fox, Anthony Hopkins, dan Laurence Olivier.
Baca Juga: Skandal Watergate: Ketika Presiden Amerika Serikat Richard Nixon Mundur dari Jabatannya
Editor : Candra Mega Sari