Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Skandal Watergate: Ketika Presiden Amerika Serikat Richard Nixon Mundur dari Jabatannya

Viandra Rizqi • Jumat, 7 Maret 2025 | 19:05 WIB

Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon (Dok. GOV.UK)
Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon (Dok. GOV.UK)
JawaPos.com - Skandal politik, yang merupakan peristiwa politik yang telah terjadi di berbagai negara, sering kali melibatkan kasus korupsi dan kejahatan lain yang melibatkan pejabat negara. Terkadang, skandal ini dapat mengubah arah sejarah suatu negara.

Amerika Serikat, yang dikenal sebagai negara adidaya dunia, ternyata tidak luput dari skandal politik. Faktanya, mereka pernah mengalami peristiwa yang membuat Presiden mereka mengundurkan diri untuk pertama kali. 

Richard Nixon adalah Presiden AS ke-37 yang menjabat dari tahun 1969-1974. Sebelum menjadi Presiden, Nixon sudah menjabat sebagai Wakil Presiden AS di bawah pemerintahan Dwight Eisenhower yang menjabat pada tahun 1953-1961. Pada pemilihan presiden tahun 1960, dia mencalonkan diri sebagai Presiden namun akhirnya harus menelan kekalahan dari John F. Kennedy yang kemudian menjabat sebagai Presiden ke-35 AS, sebelum pembunuhannya pada November 1963.

Setelah gagal menjadi Presiden, Nixon mencalonkan diri sebagai Gubernur California pada tahun 1962. Namun, dia mengalami kekalahan terhadap Pat Brown. Kegagalan selama dua kali membuat Nixon tidak mencalonkan diri kembali sebagai kandidat Presiden dari Partai Republik pada pilpres tahun 1964, di mana partai itu mengalami kekalahan telak terhadap Partai Demokrat yang mendukung petahana saat itu, yakni Presiden Lyndon B. Johnson. 

Peperangan di Vietnam menjadi titik balik karier politik Nixon, terutama setelah Johnson mengundurkan diri sebagai kandidat Calon Presiden untuk pemilu 1968 dari Partai Demokrat. Dilansir dari millercenter.org, Nixon menyerang kebijakan Presiden Johnson mengenai Perang Vietnam yang semakin tidak populer di kalangan masyarakat. Selain itu, banyaknya kerusuhan di perkotaan dan janji Nixon untuk mengembalikan hukum dan ketertiban mendapatkan dukungan yang banyak dari warga Amerika Serikat.

Kampanye Nixon dibuahi hasil manis ketika dia terpilih menjadi Presiden tahun 1968 dan mulai menjabat pada Januari tahun berikutnya. Pada awalnya, pemerintahan Nixon berjalan dengan baik dari segi domestik dan luar negeri. Tahun 1972, Nixon berhasil melakukan kunjungan ke Beijing, Tiongkok dan menjadi fondasi dari hubungan AS-Republik Rakyat Tiongkok yang kemudian membuka hubungan dengan satu sama lain pada tahun 1979 di bawah pemerintahan Jimmy Carter.

Pemilihan Presiden tahun 1972 pun dimenangi kembali oleh Nixon untuk periode kedua setelah berhasil mengalahkan George McGovern. Namun, di situlah skandal Watergate dimulai. Melansir dari history.com, pada pagi hari 17 Juni 1972 lima orang perampok ditangkap di kantor Komite Nasional Partai Demokrat yang terletak di Kompleks Gedung Watergate, Washington D.C. Yang mengejutkan adalah kelima perampok itu sedang mencuri dokumen dan menyadap telepon sehingga polisi memiliki kesimpulan bahwa ini bukan perampokan biasa, melainkan perampokan yang bersifat politis.

Polisi memang sudah mengetahui perampokan politis itu, tapi tidak tahu siapa yang menyuruh dan untuk siapa mereka merampok. Kecurigaan terhadap Nixon pun mulai muncul ketika polisi menemukan salinan nomor telepon pemilihan ulang miliki Gedung Putih di antara barang-barang miliki pencuri. Pada bulan Agustus, Nixon bersumpah bahwa tidak ada staf Gedung Putih yang menjadi pelaku ataupun dalang dalam pencurian dan berhasil meyakinkan masyarakat untuk memilihnya kembali yang kemudian berhasil pada bulan November.

Nixon berpikir bahwa dirinya sudah aman, namun pertunjukan baru akan dimulai, beberapa pihak seperti Reporter Washington Post Carl Bernstein dan Bob Woodward, Hakim John J. Sirica, serta beberapa anggota komite senat mulai mencurigai adanya keterlibatan kekuatan yang lebih besar. Di saat yang bersamaan Bernstein dan Woodward mendapatkan informasi mengenai keterlibatan Nixon dari sosok bernama "Deep Throat" di mana dia dan Woodward akan bertemu secara rutin dari Oktober 1972 - November 1973 di tempat parkir Gedung Oakhill di kota Rosslyn, Virginia sebagaimana yang dikutip dari smithsonianmag.com. Pada akhirnya, para pencuri dan beberapa ajudan Nixon mulai mengakui bahwa sang Presiden telah menyadap segala percakapan Partai Demokrat di Hotel Watergate sebelum terjadinya penangkapan dari Ruang Oval yang terkenal.

Nixon melindungi rekaman-rekaman itu sepanjang tahun 1973 dan mendapatkan perlawanan yang sengit dari Jaksa Archibald Cox yang kemudian dipecat oleh Nixon. Pemecatannya menyebabkan banyak pejabat Departemen Kehakiman mengundurkan diri dengan peristiwa yang dikenal sebagai Saturday Night Massacre pada 20 Oktober 1973. Peristiwa ini melemahkan Nixon secara politik dan dia setuju untuk menyerahkan sebagian kaset rekamannya. 

Tahun baru 1974 dimulai dan upaya penghalangan Nixon mulai terbuka kepada publik sehingga pada bulan Juli 1974, Mahkamah Agung memerintahkan Nixon untuk menyerahkan rekaman yang bernama "Smoking Gun Tape". Di sisi lain, Kongres menyatakan bahwa Nixon akan dimakzulkan atas menghalangi keadilan, penyalahgunaan kekuasaan, menutupi tindakan kriminal, dan sejumlah pelanggaran konstitusi. Nixon akhirnya menyerah pada 5 Agustus 1974 ketika dia menyerahkan rekaman "Smoking Gun Tape" yang merupakan bukti bahwa dialah yang memerintahkan pencurian dan penyadapan di Watergate. 

Menghadapi pemakzulan dan masa hukuman yang akan menanti dirinya, Nixon menyatakan pengunduran dirinya sebagai Presiden pada 8 Agustus 1974 dan akan digantikan oleh Wakil Presiden Gerald Ford sehari setelahnya. Nixon mengundurkan diri dengan rasa malu dan meninggalkan jabatan Presiden dengan keadaan yang tidak hormat.

Sebulan kemudian, Presiden Ford memaafkan Nixon atas keterlibatan dalam skandal Watergate, yang kemudian berdampak pada kekalahan Ford dalam pemilihan umum tahun 1976 oleh Jimmy Carter, karena kemarahan publik yang mendalam terhadap Nixon dan keputusan Ford.

Penyumpahan Presiden Gerald Ford, 1974 (Dok. Gerald R. Ford Presidential Foundation)
Penyumpahan Presiden Gerald Ford, 1974 (Dok. Gerald R. Ford Presidential Foundation)

Skandal Watergate menjadi milestone dalam perpolitikan AS, di mana masyarakat mulai memiliki rasa ketidakpercayaan terhadap pemimpin mereka dan bahwa Presiden bisa diproses secara hukum. Nama Nixon pun sempat pulih, namun namanya tetap termasuk sebagai salah satu Presiden AS terburuk sepanjang masa karena skandal Watergate dan juga mulainya krisis ekonomi di Negeri Paman Sam.

Dalam budaya populer, skandal ini diabadikan melalui film 'All the President's Men' yang menampilkan Frank Wills, petugas keamanan gedung Watergate saat kejadian perampokan, dan juga dalam film 'Forrest Gump' (1994) ketika karakter Forrest, yang diperankan Tom Hanks, secara tak sengaja melaporkan aktivitas mencurigakan di gedung Watergate.

Forrest Gump sedang menelepon keamanan tentang pencurian di Watergate (Dok. Screenrant)
Forrest Gump sedang menelepon keamanan tentang pencurian di Watergate (Dok. Screenrant)

Dekade 1970-an di Amerika Serikat dipenuhi dengan drama skandal Watergate dan krisi sekonomi. Saat itulah, seorang bintang film mulai mencalonkan dirinya sebagai calon Presiden dan akan menjadi kenyataan pada dekade berikutnya. 

Editor : Candra Mega Sari
#skandal watergate #mengundurkan diri #presiden as #amerika serikat #Richard Nixon