Pada dasarnya, tren We Listen We Don't Judge merupakan kesempatan untuk berbagi rahasia antar pemain. Banyak yang menganggap tren semacam ini seru dan menghibur.
Dimulai dari luar negeri, tren ini dengan cepat menarik perhatian warganet Indonesia. Dengan aturan yang unik, tren ini masih menjadi top pencarian di TikTok Indonesia.
Berikut adalah penjelasan mengenai tren We Listen We Don't Judge.
Apa Itu Tren We Listen We Don't Judge?
Tren ini dimulai dari aplikasi TikTok, di mana dua atau sekelompok orang duduk untuk mendengarkan pengakuan masing-masing. Pengakuan dilakukan secara bergiliran satu per satu.
Sesuai namanya, orang-orang yang mendengarkan setiap pengakuan tidak boleh menghakimi, berkomentar, dan mengadili pembicara. Meski tidak menyukainya, pendengar tetap tidak diperkenankan untuk menyela sampai akhir permainan.
Sebagai contoh, seorang TikToker asal luar negeri bernama Joe Mele mengunggah video We Listen We Don't Judge bersama kekasihnya. Video yang telah ditonton sebanyak 10,5 juta kali itu menampilkan Mele yang membuat pengakuan saat kencan pertama, dilanjut kekasihnya yang mengaku pernah mencabut router saat Mele bermain gim.
Tren ini kemudian berekspansi hingga ke media sosial X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter). Namun, karena berbasis teks dan bukan video, banyak pengguna yang salah mengartikan tren We Listen We Don't Judge dengan tren Unpopular Opinion.
Baca Juga: Viral Konten Spill Biaya TK dan SD Anak di Tangerang Selatan, Sekolah Elit dengan Biaya Puluhan Juta
Perbedaannya dengan Tren Unpopular Opinion
Beberapa waktu lalu, tren yang juga banyak diikuti oleh netizen X adalah tren Unpopular Opinion. Karakter dari film Tangled (2010), Flynn Rider, menjadi ikon dalam tren ini. Gambar Flynn Rider yang dikelilingi pedang seolah-olah menunjukkan keberanian untuk mengungkapkan opini yang mungkin memicu perdebatan.
Ramainya tren We Listen We Don't Judge membuat beberapa orang salah kaprah. Kedua tren ini tentu berbeda dalam hal mekanisme dan aturan mainnya.
Tren We Listen We Don't Judge lebih mengarah pada preferensi seseorang atau pengalaman pribadi. Dengan kata lain, tren We Listen We Don't Judge adalah pengakuan personal, bukan untuk mengeluarkan opini terpendam mengenai sesuatu.
Editor : Candra Mega Sari