JawaPos.com - Tren kebakaran di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus menunjukkan penurunan signifikan. Sepanjang 2025, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel mencatat hanya 61 kasus kebakaran, jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel Ahmad Dohiri mengatakan, angka tersebut dihimpun dari laporan penanganan sejak Januari hingga Desember 2025 dan tersebar di tujuh kecamatan se-Kota Tangsel.
"Selama 2025 kami menangani total 61 kejadian kebakaran. Ini mengalami penurunan cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Dohiri, kemarin (4/1).
Rinciannya, pada Januari tercatat enam kejadian, Februari empat kejadian, Maret 11 kejadian, April dua kejadian, dan Mei dua kejadian. Selanjutnya, Juni lima kejadian, Juli delapan kejadian, Agustus tiga kejadian, September tujuh kejadian, Oktober tujuh kejadian, November tiga kejadian, serta Desember lima kejadian.
Jika dibandingkan, pada 2024 jumlah kebakaran mencapai 107 kasus, 2023 sebanyak 93 kasus, 2022 tercatat 66 kasus, 2021 sebanyak 68 kasus, dan pada 2020 mencapai 79 kasus.
Dohiri menjelaskan, penyebab utama kebakaran masih didominasi korsleting listrik. Sekitar 60 persen kejadian kebakaran menimpa rumah tinggal.
"Mayoritas karena korsleting listrik. Biasanya terjadi saat pemilik rumah sedang tidak berada di tempat, seperti lupa mencabut colokan listrik atau instalasi yang tidak aman," ungkapnya.
Dia menambahkan, tren penurunan kasus kebakaran tidak lepas dari upaya pencegahan yang dilakukan secara masif oleh pihaknya. Mulai dari sosialisasi bahaya kebakaran, edukasi cara pencegahan, hingga pembentukan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) di lingkungan masyarakat.
"Jumlah Redkar sekarang sudah mencapai ribuan. Mereka menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi dan respons awal saat terjadi kebakaran," jelasnya.
Selain penanganan kebakaran, Dinas Pemdam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel juga mencatat 203 kasus penyelamatan dan evakuasi sepanjang 2025.
Rinciannya meliputi evakuasi korban kebakaran dua kasus, pohon tumbang enam kasus, gangguan lalu lintas akibat kendaraan atau jalanan 10 kasus, sarang tawon 50 kasus, ular 58 kasus, musang atau kucing 16 kasus, biawak, tokek, atau buaya 28 kasus, monyet empat kasus, serta penyelamatan lainnya seperti melepas cincin sebanyak 27 kasus.
"Ini menunjukkan peran Damkar tidak hanya memadamkan api, tetapi juga membantu berbagai kondisi darurat di masyarakat," pungkas Dohiri