Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Teknologi Iradiasi Pangan Jadi Solusi Strategis Perpanjang Masa Simpan Produk Pertanian, BRIN dan BGN Beri Dukungan Penuh

Muhtamimah • 2025-07-30 10:02:22
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syaiful Bakhri dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syaiful Bakhri dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.

JawaPos.com - Teknologi iradiasi pangan hadir sebagai jawaban atas tantangan penyimpanan dan keamanan produk pertanian Indonesia. Teknologi ini mampu memperpanjang masa simpan hingga 10 kali lipat tanpa mengurangi nutrisi dan kualitas, sekaligus membunuh patogen berbahaya serta memenuhi standar karantina internasional.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syaiful Bakhri mengatakan mengungkapkan, teknologi iradiasi dapat mendukung program ketenagaan nuklir sekaligus mendukung program pemerintah terkait makan bergizi gratis (MBG).

Proses iradiasi dilakukan dengan partikel tertentu, seperti elektron atau gamma sehingga makanan atau bahan baku bisa awet lebih lama tanpa mengubah struktur dan nutrisi.

"Konkretnya adalah makanan-makanan atau bahan baku yang nanti akan dipakai untuk industri maupun dipakai untuk fresh, dimakan langsung, itu melalui proses iradiasi. Sehingga lebih awet, bisa 10 kali lebih lama," terang Syaiful di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Aplikasi Iradiasi Pangan untuk Mendukung Ekspor Produk Pertanian Indonesia" di kawasan Puspitek, Serpong, Selasa (29/7).

Syaiful menegaskan, teknologi ini dapat menekan angka food loss yang saat ini mencapai Rp 551 triliun, atau setara dengan kemampuan memberi makan 129 juta orang. Dengan iradiasi, makanan menjadi lebih tahan lama dan aman dikonsumsi, yang berkontribusi terhadap penurunan stunting dan peningkatan kualitas gizi masyarakat.

"Sudah banyak negara yang memanfaatkan ini. Bahkan ekspor itu seperti Australia, US, itu mensyaratkan harus di iradiasi. Kan sayang, kenapa orang yang di sana menikmati makanan berkualitas bermutu, sementara bangsa kita sendiri kok malah enggak seperti itu, enggak bisa menikmati itu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mendukung penuh pemanfaatan teknologi itu. Di menyebut iradiasi sangat membantu menjaga kesegaran produk pertanian, terutama untuk kebutuhan olahan segar yang harus bertahan beberapa hari, seperti saat libur atau Ramadan. 

"Teknologi ini manageable dan sangat bermanfaat untuk program makan bergizi, terutama dalam pelayanan saat kondisi tertentu," kata Dadan.

Untuk MBG, lanjut Dadan, teknologi tersebut sangat bermanfaat. Terutama saat libur sekolah dan Ramadan atau untuk para supplier agar bahan bakunya bisa lebih awet. 

"Di mana makanan segar diolah tapi dimakannya sore hari, atau makanan segar diolah untuk dua hari, tiga hari kemudian. Jadi saya kira teknologi ini akan sangat bermanfaat untuk program kita," tuturnya.

Dadan menambahkan bahwa pengawasan ketat dan edukasi terhadap masyarakat perlu dilakukan agar pemanfaatan teknologi iradiasi aman dan efektif. Riset menunjukkan tidak ada perubahan komposisi nutrisi atau efek negatif terhadap hewan percobaan, sehingga dapat dipastikan aman digunakan.

Mengenai keterbatasan alat iradiasi yang biasanya terpusat di fasilitas besar, Dadan berharap adanya alat iradiasi mobile yang dapat digunakan di dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah agar lebih praktis dan menjangkau lebih luas.

"Kami akan menggunakan teknologi ini saat brand dan alat sudah siap. Ini akan jadi solusi agar makanan bisa tahan lebih lama dan tetap bergizi, tanpa harus dibawa ke fasilitas iradiasi besar," pungkasnya. 

Editor : Hendra
#Iradiasi Nuklir #serpong #tangsel #puspitek #BRIN