JawaPos.com -Sepanjang sejarah peradaban manusia, perang telah menjadi konflik yang terus berulang. Dampaknya pun tak dapat dihindari, sering kali membawa kerugian besar bagi semua pihak yang terlibat. Kehancuran materi, krisis ekonomi, dan yang paling tragis, kehilangan nyawa manusia, menjadi konsekuensi yang tak terelakkan dari peperangan.
Hasil akhir suatu perang biasanya ditentukan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pertempuran. Pertempuran terjadi ketika dua pihak saling berhadapan untuk merebut wilayah atau posisi strategis, baik dari segi militer maupun simbolis.
Salah satu peristiwa yang mengguncang Eropa terjadi pada tahun 1914, ketika Putra Mahkota Austria-Hongaria, Franz Ferdinand, dan istrinya dibunuh di Sarajevo—kini ibu kota Bosnia dan Herzegovina. Tragedi ini memicu ketegangan politik yang semakin memanas. Austria-Hongaria menuding Serbia terlibat dalam pembunuhan tersebut dan menuntut pengakuan serta pertanggungjawaban. Namun, Serbia menolak tuduhan tersebut.
Akibatnya, pada 28 Juli 1914, Austria-Hongaria secara resmi menyatakan perang terhadap Serbia dan melancarkan serangan militer ke wilayahnya. Peristiwa ini menjadi pemicu utama meletusnya Perang Dunia I, yang kemudian melibatkan banyak negara di seluruh dunia.
Dengan cepat, negara-negara Eropa lainnya seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Rusia mulai terlibat di perang tersebut.
Dikutip dari study.com, terdapat dua aliansi dalam perang ini yaitu Triple Entente yang beranggotakan Rusia, Prancis, dan Inggris serta Triple Alliance yang beranggotakan Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia. Namun, Italia tidak bergabung perang dengan sekutunya dan justru menyeberang ke pihak entente pada tahun 1915.
Sementara itu, Triple Alliance mendapatkan tambahan kekuatan ketika Kekaisaran Ottoman bergabung pada tahun 1914. Dilansir dari history.com, saat bergabung dalam aliansi ini, Kekaisaran Ottoman sebenarnya sudah mengalami kemunduran, baik dari segi ekonomi maupun militer. Namun, keikutsertaannya dalam perang tetap memberikan dampak signifikan dalam jalannya konflik global ini.
Peperangan terus berlangsung tanpa ada pihak yang meraih kemenangan mutlak. Pada tahun 1916, Jerman menyadari nilai strategis dan simbolis Kota Verdun bagi Prancis. Oleh karena itu, pada 21 Februari 1916, mereka melancarkan serangan yang menandai dimulainya Pertempuran Verdun antara Jerman dan Prancis.
Pada awalnya, tentara Jerman berhasil menembus beberapa titik posisi pertahanan Prancis. Bahkan, dikutip dari iwm.org.uk, Jerman berhasil merebut Benteng Douaumont—benteng terbesar di antara 19 benteng pertahanan di sekitar Verdun. Situasi ini membuat komando militer Prancis khawatir, sebab jika Verdun jatuh, moral pasukan dan warga sipil mereka bisa hancur.
Dalam menghadapi ancaman ini, muncul sebuah kalimat terkenal dari Jenderal Prancis Robert Nivelle atau Philippe Pétain. Dikutip dari artsandculture.google.com, kalimat tersebut adalah On ne Passes Pas yang memiliki arti Mereka Tidak Boleh Lewat. Kalimat ini mencerminkan tekad Prancis untuk mempertahankan Verdun hingga titik darah penghabisan.
Seiring waktu, laju pasukan Jerman mulai melambat akibat perlawanan sengit dari Prancis. Pada 1 Juli 1916, Inggris melancarkan serangan ke posisi Jerman di Somme, yang memaksa Jerman menarik sebagian pasukannya dari Verdun. Ini menjadi keuntungan besar bagi Prancis karena memberi mereka kesempatan untuk memperkuat pertahanan di kota tersebut.
Menjelang akhir tahun, Prancis melancarkan serangan balik untuk merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan Jerman di awal pertempuran. Menurut britannica.com, keberhasilan ini didukung oleh taktik baru serta keunggulan jumlah pasukan dan artileri mereka.
Pertempuran Verdun akhirnya berakhir pada 18 Desember 1916, setelah berlangsung selama 10 bulan. Berdasarkan data history.com, pertempuran ini menyebabkan sekitar 377.231 korban di pihak Prancis, dengan 162.440 di antaranya tewas, sementara Jerman kehilangan sekitar 337.000 pasukan, termasuk 143.000 yang tewas.
Dari pertempuran ini, kita bisa belajar bahwa kegigihan dan daya juang merupakan faktor penting dalam mencapai kemenangan—baik dalam peperangan maupun dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah