Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Mengenal Sejarah dan Makna Tari Cokek: Hasil Akulturasi Budaya Tionghoa dan Betawi yang Lahir di Teluk Naga Tangerang

Sadrina Rizka Ghasani Hartono • Rabu, 18 Desember 2024 | 09:00 WIB
Tari Cokek, kesenian akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi yang lahir di Tangerang.
Tari Cokek, kesenian akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi yang lahir di Tangerang.

JawaPos.com – Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman, dengan masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, etnis, dan kepercayaan. Keragaman ini menghasilkan ribuan warisan budaya yang tersebar di berbagai wilayah.

Salah satu warisan budaya yang khas dan memiliki nilai seni tinggi adalah kesenian tari tradisional. Tarian-tarian tradisional Indonesia tidak hanya menjadi simbol dari setiap daerah, tetapi juga menyimpan cerita dan makna mendalam yang tercermin dalam setiap gerakannya.

Di tengah kekayaan warisan seni tari tersebut, terdapat Tari Cokek yang muncul di kawasan Tangerang. Tari Cokek merupakan hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dan Betawi, yang melahirkan sebuah seni tari unik dengan gerakan yang khas dan penuh makna.

Pada masa lalu, Tari Cokek sangat populer dan sering kali ditampilkan sebagai hiburan dalam berbagai acara. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan globalisasi, keberadaan Tari Cokek semakin terlupakan dan jarang terlihat di masyarakat Tangerang.

Untuk itu, Pemerintah Daerah Tangerang dan berbagai sanggar tari telah berupaya keras untuk melestarikan dan memperkenalkan kembali Tari Cokek kepada generasi muda melalui berbagai acara dan kegiatan kebudayaan.

Sejarah Tari Cokek

Tari Cokek mulai berkembang pada abad ke-19 di kawasan pinggiran Kota Jakarta atau lebih tepatnya di Teluk Naga, Tangerang. Saat pertama kali muncul, Tari Cokek menjadi salah satu hiburan yang digemari oleh masyarakat Betawi dan Tionghoa.

Setiap perayaan, baik itu pernikahan atau sunatan, selalu dihadiri oleh para penari yang secara anggun menarikan gerakan Tari Cokek. Tidak hanya menari, para penari juga melakukannya sambil menyanyi mengikuti alunan musik Gambang Kromong.

Tari Cokek mendapat nama unik yang berasal dari kebiasaan para penari yang tidak hanya menari, tetapi juga menyanyi dalam pertunjukan mereka. Nama "Cokek" sendiri berasal dari kata "chniou-kek" dalam bahasa Hokkien, yang merupakan salah satu bahasa dalam budaya Tiongkok. Kata ini merujuk pada tradisi menari sambil menyanyi. Namun, karena pelafalan kata "chniou-kek" yang dianggap sulit, masyarakat Betawi pada waktu itu memutuskan untuk menyebutnya "Cokek" agar lebih mudah diucapkan.

Selain itu, terdapat juga pendapat lain mengenai asal-usul nama "Cokek". Beberapa kalangan berpendapat bahwa nama tersebut diambil dari nama seorang tuan tanah di Tangerang, Tan Chiou Kek, yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan dan menggelar pertunjukan tari ini di kawasan tersebut.

Dalam perkembangannya, "Cokek" tidak hanya digunakan untuk nama tarian itu saja, tapi juga digunakan sebagai panggilan untuk para penari perempuan yang menarikannya. Saat pertama kali ditemukan, para penari memiliki sebutan Cokek atau Wayang Cokek.

Dalam pertunjukkan tari, para penari akan menyanyikan lagu-lagu yang diminta oleh para tamu yang datang untuk menonton pertunjukan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para penari memiliki variasi, tidak hanya berasal dari bahasa dan budaya Betawi, tetapi juga mengandung lagu-lagu dalam bahasa Hokkien,

Tidak hanya itu, selama pertunjukkan, para penari akan mengajak para tamu untuk ikut menari bersama dengan mengalungkan selendang panjang yang terikat dipinggangnya. Gerakan inilah yang membuat Tari Cokek populer dan digemari, serta dikenal memiliki istilah "ngibing" dalam pertunjukkannya.

Jika dahulu para penari akan mengajak para tamu untuk ikut menari bersama, seiring dengan perkembangan zaman, Tari Cokek mengalami beberapa modifikasi. Salah satunya adalah pengenalan format baru dalam pertunjukan, yaitu Tari Cokek yang dilakukan secara berpasangan antara penari perempuan dan laki-laki.

Makna Tari Cokek

Tari Cokek tidak hanya memikat dengan keindahan gerakannya, tetapi juga menyimpan makna mendalam yang tersirat dalam setiap langkah yang dilakukan oleh para penari. Mengutip dari situs Seni Budaya Betawi, terdapat beberapa gerakan yang dilakukan oleh para penari yang memiliki makna positif di dalamnya.
 
Sebagai contoh, gerakan tangan yang terangkat ke atas melambangkan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ada juga gerakan yang menunjuk ke arah mata, yang memberikan pesan kepada para tamu dan penonton untuk selalu menjaga pandangannya dari hal-hal yang bersifat negatif.
 
Selanjutnya, ada pula gerakan yang menunjuk ke arah kening, yang memberikan pesan bahwa sebagai manusia, kita harus menggunakan akal pikiran untuk selalu memikirkan hal yang positif.
 
 
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah
#sejarah #betawi #makna #tarian #Tari Cokek #tionghoa #tangerang #akulturasi