JawaPos.com - Menyambut Peringatan Hari Pahlawan 10 November, tidak lengkap rasanya jika tidak membahas tokoh sentral dalam peristiwa bersejarah ini. Soetomo atau yang lebih dikenal sebagai Bung Tomo, pria yang membakar semangat para pemuda Surabaya kala itu dalam menghadapi pertempuran pertama NKRI semenjak proklamasi kemerdekaan.
Melansir dari RRI, pria yang dikenal dengan frasa "merdeka atau mati!" ini berorasi di radio milik Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia pada tanggal (9/11/1945). Selain berperan besar dalam meningkatkan moral prajurit, pejuang kelahiran (3/10/1920) ini memiliki beberapa fakta yang mungkin belum kalian ketahui, berikut diantaranya.
1. Sempat Putus Sekolah
Dilansir dari situs resmi Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), setelah Soetomo menyelesaikan pendidikan dasar, dia melanjutkan ke SMP Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Namun karena masalah ekonomi, dirinya harus putus sekolah dan bekerja sementara.
Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burgerschool (HBS). Meskipun ia tidak pernah lulus secara resmi.
2. Rasa Nasionalisme yang Bangkit dari Pramuka
Melalui HBS, Soetomo muda mengenal yang namanya gerakan kepanduan, atau yang sekarang dikenal sebagai Praja Muda Karana (Pramuka). Lantas dirinya bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).
Melalui kegiatan di kepanduan ini rasa nasionalismenya mulai tumbuh. Dari KBI, Bung Tomo meraih tingkat Pandu Garuda di usia 17 tahun.
3. Pernah Bekerja di Bidang Media Massa
Pada usia yang sama ketika ia meraih tingkat Pandu Garuda, Soetomo menjadi jurnalis lepas di media Soeara Oemoem. Pria kelahiran Surabaya itu menjadi Redaktur Mingguan media Pembela Rakyat di tahun berikutnya.
Pada tahun 1942, dia bekerja di kantor berita Antara untuk wilayah Jawa Timur. Ketika peristiwa Proklamasi Kemerdekaan terjadi, dirinya yang sudah menjadi Kepala Kantor Berita Antara Surabaya turut serta dalam penyebaran berita tersebut. Untuk menghindari penyensoran dari penjajah, dia menyebarkan berita tersebut dalam bahasa Jawa.
4. Perjuangan
Seperti yang sudah disebutkan, Bung Tomo menjadi pahlawan nasional karena peran besarnya saat Pertempuran Surabaya. Selain berpidato melalui radio, Bung Tomo juga memimpin rakyat Surabaya dalam melawan pasukan sekutu yang ingin kembali menguasai Indonesia.
5. Partisipasi Politik
Pada tahun 1950, Bung Tomo menjadi Menteri Urusan pada Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Selain itu dirinya juga sempat menjadi anggota DPR dari tahun 1956-1959 mewakili Partai Rakyat Indonesia.
6. Ditahan saat Orde Baru
Dilansir dari situs parenting Orami, Bung Tomo memberikan kritikan pedas terhadap kebijakan-kebijakan Presiden Soeharto pada masa Orde Baru. Karena hal ini, dia ditahan pada tahun 1978 selama satu tahun.
Setelah bebas, beliau tidak lagi mencampuri urusan pemerintahan, dan lebih fokus kepada keluarganya. Pejuang Surabaya itu meninggal pada tahun 1981 ketika sedang menjalankan ibadah haji.
7. Pengabadian Sosok Bung Tomo
Penetapan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan menjadi bentuk penghormatan kepada para pejuang Arek-arek Suroboyo. Bung Tomo sendiri ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2008.
Sebuah stadion bernama Kebanggaan Surabaya yang dibangun pada tahun 1957 mengalami pergantian nama menjadi Gelora Bung Tomo pada tahun 2001. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.