JawaPos.com - Kecerdikan menjadi salah satu kualitas dalam diri yang paling memikat banyak orang. Kecerdikan ini bukan hanya tentang pengetahuan yang dimiliki tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat memanfaatkan kemampuannya dalam berpikir untuk menemukan jalan keluar dari situasi yang sulit.
Orang yang memiliki kecerdikan akan mampu untuk melihat peluang dalam kesulitan dan mengubah kondisi yang terlihat tidak menguntungkan menjadi suatu peluang untuk meraih impiannya. Orang yang memiliki kecerdikan tidak hanya berpikir dengan satu kotak melainkan mencari banyak kotak untuk memecahkan sebuah masalah sehingga solusi yang diberikan pun terkadang tidak terpikirkan oleh orang lain.
Buku yang ditulis oleh M.B Rahimsyah dengan judul “Tertawa Bersama Abu Nawas” menceritakan Abu Nawas yang sangat cerdik, sering diandalkan, dan suka dijahili oleh Sultan Harun Ar-Rasyid. Abu Nawas merupakan seorang ulama besar dan juga seorang tokoh yang cerdik dan lucu yang berasal dari Persia. Abu Nawas merupakan seorang yang pandai bersyair, berpantun, dan menyanyi. Abu Nawas pergi ke Baghdad bersama ayahnya dan menghambakan diri kepada Sultan Harun Ar-Rasyid seorang Raja di Baghdad.
Buku ini membahas tentang kecerdikan Abu Nawas yang tidak jarang membuat orang kagum dengan cara beliau menyelesaikan permasalahan serta pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Sultan Harun Ar-Rasyid yang terkadang pertanyaan nya terdengar mustahil dan aneh. Namun, pertanyaan yang terdengar mustahil tersebut dapat dijawab dengan mudah oleh Abu Nawas berkat kecerdikan nya.
“Dimanakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Tuhan kita?”, tanya Baginda.
“Di dalam pikiran kita, wahai Paduka yang mulia” jawab Abu Nawas tanpa sedikitpun ragu.
“Ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu manusia itu tidak akan pernah tau dimana batas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tidak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas”, lanjut Abu Nawas menjelaskan. (halaman 51)
Berawal dari meninggalnya ayahanda Abu Nawas yang merupakan seorang kadi atau penghulu di negeri Baghdad. Sebelum meninggal ayah Abu Nawas memberitahukan bahwa selama menjadi kadi, ayah Abu Nawas ini pernah berlaku tidak adil dengan hanya mendengar satu pihak dan tidak mendengar penjelasan pihak lainnya sebab ayah Abu Nawas tidak menyukai salah satu pihak tersebut.
Akibatnya telinga ayahanda Abu Nawas tercium wangi harum yang di sebelah kanan, namun sebelah kiri tercium bau tidak sedap. Abu Nawas yang mengetahui cerita itu menyatakan bahwa beliau tidak akan mau diminta menjadi kadi oleh Sultan Harun Ar-Rasyid untuk menggantikan ayahandanya.
Abu Nawas berpura-pura menjadi gila setelah meninggalnya ayahanda Abu Nawas agar Sultan Harun Ar-Rasyid tidak memilih Abu Nawas untuk menjadi kadi. Dengan kecerdikannya saat berpura-pura menjadi gila ini membuat Sultan Harun Ar-Rasyid kesal dan selalu ingin menjahili Abu Nawas dengan pertanyaan dan perintah anehnya.
“Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan engkau penjarakan angin tersebut.” kata Baginda.
Abu Nawas memberikan botol kepada Baginda Raja. Dan botol tersebut berisikan angin yang berasal dari dalam perut Abu Nawas atau dengan kata lain Abu Nawas buang angin di dalam botol tersebut.
“Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukan ke dalam botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol tersebut.” kata Abu Nawas ketakutan. (halaman 45)
Kecerdikan juga tak jarang memberikan dampak positif yaitu dengan diberikannya imbalan harta atas permasalahan yang telah diselesaikan. Abu Nawas seringkali menerima uang emas dalam jumlah yang banyak atas kecerdikan dan kepiawaiannya dalam menjawab pertanyaan serta permintaan dari Sultan Harun Ar-Rasyid. Namun tak jarang juga uang tersebut beliau sedekahkan kepada yang membutuhkan.
Dalam buku tersebut diceritakan bahwa ketika Abu Nawas berhasil menyelesaikan permasalahan tentang pencurian keping emas, pemiliknya menyerahkan 100 lebih keping emas kepada Abu Nawas sebagai imbalan. Namun, Abu Nawas hanya mengambil setengah dari seluruh jumlah keping emas, dan setengahnya lagi dikembalikan kepada pemiliknya. Setengah keping emas yang diambil Abu Nawas pun tidak dinikmati sendiri melainkan diberikan sebagian kepada orang-orang miskin, dan sisanya baru diambil untuk keluarga Abu Nawas sendiri.
Diluar dari kecerdikan dan kedermawanan nya tersebut, Abu Nawas juga merupakan seorang ulama yang paham akan ilmu Agama Islam. Suatu hari Sultan Harun Ar-Rasyid bertanya soal ilmu Agama Islam ke Abu Nawas dan beliau tetap bisa menuntaskan semua pertanyaan dan permintaan yang diberikan.
“Wahai Amirul Mukminin, barang siapa dikaruniai Allah SWT dengan harta dan ketampanan, lalu ia menjaga kehormatan dan ketampanannya serta memberikan bantuan dengan hartanya, maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang saleh”, katanya ketika Sultan Harun Ar-Rasyid meminta nasihat oleh Abu Nawas.
Abu Nawas memang sosok yang cerdik, dermawan, dan memiliki ilmu Agama Islam yang kuat. Tak heran jika Abu Nawas merupakan sosok yang dikagumi di Baghdad karena kecerdikan dan kerendahan hatinya tersebut.
Namun, karena buku ini berfokus pada kecerdikan, humor, dan pesan moral yang disampaikan, membuat buku ini hanya memberikan penjelasan yang sangat singkat soal latar belakang sejarah dari Abu Nawas. Selain itu, terdapat beberapa kata yang kurang halus dalam buku tersebut mengingat pembaca buku ini bukan hanya orang dewasa melainkan juga anak-anak ikut membaca buku ini.
Tetapi, buku ini sangat menarik bagi pembaca dengan penyampaian cerita yang ringan dan lucu, kebanyakan bahasa yang digunakan pun sangat sederhana dan mudah dipahami pembaca sehingga buku ini cocok untuk dibaca segala usia baik anak-anak maupun orang dewasa. Selain itu, buku ini juga menyajikan gambar sebagai ilustrasi yang membuat buku ini menarik bagi anak-anak karena tidak hanya disajikan dalam bentuk tulisan saja.
Secara keseluruhan, buku ini menyajikan kisah yang penuh moral tentang bagaimana kecerdikan, kedermawanan nya, dan kebijaksanaan dari Abu Nawas ini mampu membuat beliau dikagumi oleh masyarakat lain dan Sultan Raja Ar-Rasyid. Buku ini juga bukan hanya menyajikan pesan moral yang bagus tetapi juga menghibur pembaca dengan kejahilan dan kecerdikan Abu Nawas terhadap Sultan Harun Ar-Rasyid.
Spesifikasi buku:
Judul: Tertawa Bersama Abu Nawas
Penulis: M.B. Rahimsyah
Penerbit: Jakarta, Sandro Jaya
Cetakan: Pertama, 2005
Jumlah Halaman: 96
Editor : Hendra