JawaPos.com – Rupiah menghadapi tekanan baru setelah bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuannya. Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) kemarin (16/9), The Fed menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4,00 persen.
Kebijakan tersebut berpotensi memperketat kondisi keuangan global. Imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi serta potensi penguatan dolar AS dapat menekan arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menilai kenaikan suku bunga The Fed berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah. “Pertama sudah biasa terjadi seperti ini akan menekan rupiah. Kedua harus dipantau prospek kebijakan selanjutnya jika akan terus maka bisa pelarian modal keluar,” ujarnya.
The Fed menyatakan inflasi masih berada pada level tinggi dan kebijakan moneter ketat ditujukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2 persen secara lebih tepat waktu.
Sementara itu, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, pihaknya masih mempertahankan pandangan bahwa kenaikan 25 bps pada September akan menjadi kenaikan suku bunga The Fed satu-satunya pada tahun ini. Namun, ambang untuk kenaikan berikutnya kini menjadi lebih rendah. Sikap The Fed juga dinilai lebih hawkish, tercermin dari dot plot dan komunikasi para pembuat kebijakan.
”Kami belum melihat alasan untuk segera mengubah proyeksi suku bunga kami,” kata Irman kemarin (17/9).
Inflasi Jadi Penentu
Irman menjelaskan, The Fed masih memperkirakan inflasi personal consumption expenditures (PCE) umum dan inti akan turun secara signifikan menjadi masing-masing 2,3 persen dan 2,5 persen pada 2027. Karena itu, para pembuat kebijakan diperkirakan akan lebih dulu melihat apakah tekanan inflasi terbaru, terutama yang berasal dari energi, mulai masuk dan menetap pada harga-harga inti sebelum kembali menaikkan suku bunga.
Skenario dasar masih menunjukkan periode suku bunga tinggi yang ditahan dalam waktu lama, bukan siklus kenaikan berkepanjangan. ”Ekonomi AS yang relatif tangguh memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama,” tuturnya.
Di sisi lain, inflasi yang masih persisten membatasi peluang pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat. Risiko pengetatan lebih lanjut tetap terbuka apabila inflasi inti, ekspektasi inflasi, maupun dampak kenaikan harga energi terhadap harga-harga lainnya (energy pass-through) tetap tinggi.
”Proyeksi The Fed sendiri menunjukkan ruang untuk kenaikan lanjutan. Dalam proyeksi September, sejumlah pejabat masih melihat suku bunga dapat bergerak lebih tinggi pada akhir 2026,” paparnya.
BI Perlu Antisipasi
Bagi Indonesia, kondisi moneter AS yang ketat menjadi salah satu tantangan bagi Bank Indonesia (BI). Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan USD berpotensi membatasi arus masuk portofolio sekaligus menambah tekanan terhadap rupiah.
Tekanan juga dapat datang dari harga minyak yang tinggi melalui jalur perdagangan dan transaksi berjalan.
“Kami mempertahankan proyeksi BI-rate akhir tahun di level 6,25 persen, dengan intervensi valuta asing (valas) dan kebijakan non-suku bunga kemungkinan tetap menjadi lini pertahanan pertama BI,” pungkasnya. (mim/dio)
Editor : HendraSumber : Jawa Pos Koran